TikTok, Dulu Anak Bawang Sekarang Jadi Pemenang

Siapa sih yang tidak kenal tiktok? Sosial media untuk video sharing asal China tersebut kini digandrungi oleh banyak orang di dunia. Lahir pada September 2016, Tiktok kini menjelma sebagai sebuah sosial media yang tak dapat dipandang sebelah mata. Pada Q1 2019, mereka berhasil menduduki posisi pertama di Apple Store untuk aplikasi yang paling banyak diunduh. Mereka mengalahkan senior mereka yang lebih dulu ada seperti YouTube, Instagram, Facebook dan Snapchat.

Berkonsep video pendek, Tiktok menawarkan hal yang berbeda dari para pesaingnya. Mereka dapat mengunggah video berdurasi 15 detik dengan filter serta audio background yang dapat dipilih sesuka hati. Bukan hanya itu, Tiktok juga kini telah beralih dari sekedar media untuk mengekspresikan diri, menjadi media untuk promosi brand. Bagaimana kisah perjalanan Tiktok dari awal hingga mampu menembus papan atas persaingan sosmed global?

Baca juga: Ini dia harga rata-rata influencer di Instagram

Lahir di China dan mampu menarik hati masyarakat dunia

Tiktok awalnya bernama A.Me dan akhirnya diganti menjadi Douyin dan diluncurkan oleh ByteDance di China pada September 2016. Zhang Yiming selaku Founder dari ByteDance mengatakan bahwa, Douyin memiliki potensi untuk sukses secara global, karena 1/5 pengguna internet dunia adalah China kala itu. Karena itu, mereka memutuskan untuk merilis Douyin secara internasional pada tahun 2017.

Tak dinyana, Tiktok berhasil merebut perhatian masyarakat dunia. Menurut Sensor Tower, Tiktok menduduki urutan pertama sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di Thailand pada awal tahun 2018. Setelah itu, mereka terus membesar dan diunduh oleh banyak orang di seluruh dunia. Sejumlah selebritis dunia seperti Justin Bieber, Will Smith, Jessica Alba, dan Jennifer Lopez juga turut menggunakan Tiktok.

Langkah merger dengan Musical.ly, membuat langkah mereka semakin tidak terbendung. Berkat dukungan existing user dan data, langkah mereka di panggung dunia semakin meroket dan menjadi ancaman bagi aplikasi seperti Facebook dan Instagram.

Ketika Tiktok menjadi ancaman bagi Facebook dan Instagram

Facebook dan Instagram dikenal sebagai dua sosial media top dengan pengguna dan jumlah unduhan terbanyak di dunia. Keberadaan Tiktok turut mengancam eksistensi mereka. Dalam data aplikasi paling banyak diunduh di App Store menurut Sensor Tower, Tiktok berhasil menduduki urutan pertama pada Q1 2019 seperti yang telah disebutkannya. Yang mengejutkan, mereka berada di urutan pertama 5 kali berturut-turut.

Prestasi ini membuktikan bahwa mereka terus berevolusi untuk memberikan hal baru kepada masyarakat dunia. Mereka berhasil mempertahankan pengguna lama sembari menarik orang-orang yang belum pernah menggunakan Tiktok sebelumnya. Meski unggul di App Store, Tiktok menempati urutan ketiga di bawah WhatsApp dan Facebook Messenger. Meski demikian, mereka telah dipandang sebagai sebuah competitor yang harus diseriusi.

Baca juga: Pengaruh ephemeral content untuk promosi brand

Terus bertumbuh dan berpotensi jadi nomor satu

Per Mei 2020, jumlah pengguna Tiktok telah mencapai angka 800 juta orang di seluruh dunia. Yang mengejutkan, hampir 50 persen dari jumlah tersebut datang dari India dengan 467 orang menurut Sensor Tower. Sementara itu, penggunanya diketahui kebanyakan datang dari Generasi Z dan rerata waktu penggunaan aplikasi ini menyentuh angka 52 menit dan jumlah rerata video yang dilihat mencapai 1 miliar view per-hari, jumlah yang sangat fantastis.

Jika dibandingkan dengan Instagram, langkah Tiktok terbilang sangat fenomenal. Dalam dua tahun, mereka mampu mencapai angka 1 miliar pengguna. Tentunya, hal ini juga dibarengi oleh persentase pertumbuhan Instagram yang melambat dari 5% hingga hanya menjadi 3,4%. Jika hal ini terus berjalan, maka bukan tidak mungkin jika Tiktok akan melewati Instagram.

Tiktok di Indonesia, sempat dibenci tapi kini nomor satu di hati

Kehadiran Tiktok di Indonesia tidak mulus. Mereka sempat diblok oleh Kemenkominfo pada tahun 2018 karena dianggap memberikan dampak negative terhadap anak-anak. Menurut Semuel Pangarepan selaku Ditjen Aptika Kominfo saat itu, ada konten-konten yang dianggap melanggar asusila, pelecehan, agama, pornografi, dan lain-lain seperti dilansir dari Kompas.

Namun, Tiktok kembali meroket, manakala sejumlah selebritis tanah air seperti Dian Sastrowardoyo, Gisella Anastasia dan Sandiaga Uno turut menggunakan aplikasi tersebut. Ditambah lagi dengan sejumlah influencer yang juga menggunakannya, sehingga aplikasi ini kembali populer. Apalagi, ada fitur share yang dapat membagikan video melalui akun sosial media lainnya seperti Instagram dan Twitter sehingga, orang-orang dapat membagikan hasil video mereka ke sosial media lainnya. Apalagi, mereka juga menggunakan Tiktok untuk mempromosikan brand sehingga, hal ini dianggap dapat menggeser keberadaan Instagram sebagai media promosi bisnis.

Fardi Yandi: Tiktok adalah sarana promosi bisnis yang efektif

Dalam wawancara yang kami lakukan dengan Founder Social Kreatif, Fardi Yandi, beliau mengatakan bahwa Tiktok bisa menjadi sebuah sosial media untuk pemasaran brand yang efektif dengan target user yang lebih tertuju.  Hal ini telah dibuktikan oleh brand celana jeans Guess. Pada tahun 2018, mereka mengkampanyekan gerakan #inmydenim, dimana, mereka mengajak semua user untuk mengenakan celana jean Guess sembari memberikan tagar inmydenim. Hasilnya cukup fenomenal karena Guess mampu meroket berkat hal itu.

Belum lagi adanya fitur baru dari Tiktok berupa feed. Fardi Yandi mengatakan bahwa fitur ini bisa menjadi senjata baru yang semakin menaikkan pamor Tiktok dan menggeser Instagram. Tentunya, Fungsi Instagram bisa berubah. Hal ini yang akhirnya dapat menyebabkan pergeseran fungsi Instagram dari media promosi hingga hanya menjadi sebuah aplikasi untuk visual, karena mereka menggunakan medium foto untuk berekspresi.

(Visited 55 times, 1 visits today)