Berkecimpung di dunia bisnis adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan. Khususnya bagi pebisnis pemula, setiap langkah yang diambil seringkali menjadi proses belajar yang berharga. Ketika seseorang memutuskan untuk memulai sebuah bisnis, antusiasme dan semangat membara seringkali menjadi modal utama yang membawa mereka maju. Namun, seiring berjalannya waktu, akan muncul banyak tantangan.

Di antara berbagai tantangan tersebut, banyak sekali kesalahan sering kali dihadapi oleh pebisnis pemula. Namun, apa yang membedakan seorang pebisnis sukses dengan yang lainnya adalah bagaimana mereka merespons kesalahan tersebut. Kesalahan bisa menjadi batu sandungan, namun bisa juga menjadi batu loncatan menuju kesuksesan, tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Baca Juga: 8 Tips Manajemen Kehadiran Karyawan Untuk Pemilik Bisnis

Kesalahan-kesalahan yang sering dialami oleh pebisnis pemula

Sebelum kita membahas seputar masalah yang sering dialami pebisnis pemula, kita harus memahami apa itu pebisnis pemula. Orang yang termasuk pebisnis pemula adalah mereka yang baru menjalani usahanya di bawah 5 tahun seperti diberitakan oleh situs detik.com 

Pada umumnya, tingkat cash flow mereka masih belum stabil dan pengelolaan bisnis masih belum rapi. Dari awal tahun hingga memasuki tahun kelima, tentunya ada kesalahan-kesalahan yang terjadi seperti: 

Kurangnya Riset Pasar

Banyak pebisnis yang terburu-buru memulai tanpa mempertimbangkan pentingnya riset pasar. Mengenali target audiens, memahami tren industri, dan mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen adalah elemen kunci yang dapat menentukan kesuksesan atau kegagalan sebuah bisnis.

Menurut Harvard Business Review, sekitar 75% produk dan layanan baru gagal dalam waktu 2 tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan dalam memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Selain itu, mereka terkadang gagal membuat produk yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen dan cenderung hanya meniru produk yang sudah ada. 

Oleh karena itu penting untuk melakukan riset pasar yang mendalam sebelum memulai bisnis. Metode seperti survei, focus group, dan wawancara dapat membantu memahami kebutuhan konsumen. Selain itu, gunakan data yang ada untuk memahami tren dan persaingan di pasar.

Menurut Forbes, bisnis yang melakukan riset pasar sebelum peluncuran memiliki peluang 60% lebih besar untuk berhasil di pasar dibandingkan dengan yang tidak. Riset bisa dilakukan secara simple, seperti contoh berikut : 

Sebuah brand pakaian olahraga baru ingin memasuki pasar Indonesia. Sebelum memulai, mereka melakukan survei online kepada 500 orang di berbagai kota besar untuk memahami preferensi gaya, warna, dan bahan yang paling diminati. Hasil riset menunjukkan bahwa konsumen Indonesia cenderung memilih pakaian olahraga dengan bahan yang nyaman dan dapat menyerap keringat dengan cepat.

Tidak Mempunyai Rencana Bisnis yang Jelas

Dalam semangat memulai bisnis, pebisnis pemula terkadang melupakan pentingnya rencana bisnis yang matang. Tanpa panduan atau rencana yang jelas, bisnis bisa kehilangan arah dan sulit mencapai tujuan yang diharapkan.

Kesalahan ini sering terjadi di dunia startup, dimana tidak ada rencana bisnis yang jelas. Mereka bergerak tanpa arah yang membuat dana habis di tengah jalan dan harus gulung tikar. 

Oleh karena itu suatu bisnis perlu mempunyai rencana bisnis yang jelas. Ada sebuah penelitian oleh Palo Alto Software menemukan bahwa pebisnis yang memiliki rencana bisnis 2,5 kali lebih mungkin mendapatkan pendanaan. Untuk itu, Anda perlu membuat rencana bisnis yang komprehensif yang mencakup visi, misi, strategi pemasaran, proyeksi keuangan, dan analisis SWOT. Dengan memiliki rencana bisnis, Anda memiliki roadmap yang jelas untuk bisnis Anda.

Sebagai contoh, Anda bisa menetapkan target penjualan bulanan, strategi pemasaran melalui media sosial, dan proyeksi keuangan untuk 5 tahun ke depan. Dengan begitu, Anda bisa tahu apa yang Anda lakukan serta forecasting dampaknya.

Mengabaikan Perencanaan Keuangan

Keuangan adalah nadi dari setiap bisnis. Pengelolaan keuangan yang tidak tepat, seperti tidak memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, dapat mengakibatkan ketidakstabilan dan kerugian.

Dalam sebuah survei oleh U.S. Bank, ditemukan bahwa 82% bisnis gagal karena masalah pengelolaan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya opsional, melainkan suatu keharusan.

Salah satu masalah yang sering dialami oleh pebisnis pemula adalah cash flow yang tidak stabil, pencatatan tidak rapi, dan minimnya background dari founder akan urusan keuangan. Pelanggan yang masih sedikit serta tempo pembayaran yang pendek membuat pembayaran jadi tersendat.

Untuk itu, mereka dibayar telat dan berakibat buruk ke operasional bisnis mereka. Solusinya adalah, Anda bisa mengandalkan Paper.id dengan memberikan opsi pembayaran kartu kredit kepada customer. Dengan begitu, invoice terbayar tepat waktu dan customer tidak pusing.

Sebagai contoh ada sebuah restoran kecil bernama “SpiceHub” mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan. Mereka memutuskan untuk menggunakan software akuntansi online yang membantu dalam mencatat pendapatan dan pengeluaran harian. Setiap bulan, mereka konsultasi dengan akuntan untuk memastikan keuangan mereka stabil dan untuk merencanakan investasi lebih lanjut.

Menurut Intuit, pemilik bisnis yang menggunakan software akuntansi dan manajemen keuangan mengalami pertumbuhan pendapatan 30% lebih cepat. Gunakan alat dan software manajemen keuangan untuk memonitor arus kas. Selain itu, konsultasikan dengan seorang akuntan atau penasihat keuangan. 

Baca Juga: Start-up Vs UMKM, Apa Perbedaannya?

Kesimpulan

Nah itulah penjelasan seputar kesalahan-kesalahan yang sering ditemui oleh pebisnis pemula yang baru memulai bisnisnya. Mulai dari kurangnya melakukan riset pasar, Tidak mempunyai rencana bisnis yang jelas, hingga mengabaikan keuangan. 

Untuk mengatasi itu semua, perlu dilakukan riset pasar mendalam, memiliki rencana bisnis yang jelas, serta memastikan pengelolaan keuangan yang baik adalah beberapa solusi yang dapat diambil untuk menghadapi masalah tersebut. 

Selain itu juga perlu diperhatikan dari sisi efisiensi bisnis juga, contohnya adalah dalam pembuatan serta pengiriman invoice. Untuk mempermudah itu, Anda bisa menggunakan aplikasi invoice online dari Paper.id.

Dengan Paper.id, membuat serta mengirim invoice jadi lebih mudah, serta invoice yang dibuat pun sudah terekonsiliasi dengan sistem pembayaran digital. Yuk, pakai Paper.id sekarang juga dengan klik tombol dibawah ini.

Alfian Dimas