Influencer Marketing

Terima kasih kepada Instagram, Facebook dan sosial media jenis lainnya, influencer marketing meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Keberadaan Awkarin, Anya Geraldine dan semua selebgram lainnya, dianggap mampu membuat sebuah bisnis semakin dikenal di kalangan masyarakat secara lebih luas. Namun, apakah benar keberadaan mereka bisa meningkatkan penjualan hingga 3 kali lipat?

Sebuah riset dari Mediakix menyebutkan jika influencer marketing berperan aktif terhadap perkembangan sebuah bisnis. Riset tersebut menunjukkan jika 80% marketers yang menjadi responden mengatakan apabila mereka senang dengan hasil penjualan setelah menggunakan jasa selebgram. Akan tetapi, tidak ada kejelasan lebih lanjut mengenai angka pasti peningkatan yang terjadi.

Lebih lanjut, mediakix menyebutkan apabila hanya ada sekitar 5% marketers saja yang menganggap penggunaan selebgram, influencer dsb adalah hal yang sia-sia. Anggapan tersebut bisa saja diutarakan lantaran kesalahan target pasar dari influencer yang diajak kerja sama. Sebab, relevansi target dari produk dan influencer tentunya harus dilihat terlebih dahulu.

Baca Juga: Apa Itu Influencer dan Perannya Bagi Bisnis Anda

Tujuan sebuah campaign

apa itu akuntansi

Apakah tujuan sebuah kampanye hanya ditunjukkan untuk menggaet pelanggan saja? Tentunya tidak. Setiap perusahaan atau pebisnis tidak selalu berharapkan keuntungan dalam bentuk penjualan ketika mereka bekerja sama dengan influencer atau selebgram tertentu. Ada perusahaan yang sengaja hanya untuk memperkenalkan produk terbaru atau brand mereka.

Singkatnya, tujuan sebuah campaign mungkin bisa dibedakan ke dalam dua bentuk yakni Brand Awareness dan Direct Response.

Brand Awareness

Social Reach: Followers, Subscribers, dll.

Engagement: Likes, Comment, Shares, dll.

Press Release, dll.

Direct Response

Sales, Conversion

Leads

Sign Up

Downloads

Secara garis besar, conversion (penjualan) memang menjadi poin penting dalam sebuah kerjasama dengan influencer. Akan tetapi, setiap pebisnis lebih memahami apa yang dibutuhkan dalam bisnis mereka sendiri. Sebagai contoh, Qubicle dan The F Things beberapa tahun lalu membuat sebuah iklan dengan konsep yang ‘misterius’ untuk memperkenalkan jenis bisnis mereka.

Tentunya, mereka ingin lebih mengenalkan platform mereka kepada penonton. Dalam konteks marketing, mereka lebih mementingkan brand awareness agar semua orang mengetahui jenis bisnis mereka terlebih dahulu kemudian baru akan melakukan pembelian.

Baca Juga: Bisnis Marketing, 4 Jenis ‘Fake Influencer’ yang Tidak Cocok Buat Bisnis

Trafik Berkualitas

Endorse selebgram

Jika dibilang menggunakan influencer untuk menghasilkan keuntungan, mungkin hal itu benar. Akan tetapi, penggunaan influencer lebih tepat ditujukan untuk memperluas brand awareness sebuah produk ataupun jasa. Sebab, influencer biasanya tidak akan pernah berani memasang target penjualan. Mereka hanya menuliskan jangkauan atau reach konten mereka sendiri.

Tiga metriks untuk menghitung efektivitas influencer adalah brand awareness (85%), mendapatkan audiens baru sesuai dengan niche dari influencer yang diajak kolaborasi (71%). Terakhir, adalah conversion atau penjualan. Metriks ini harus menjadi acuan bagi pengusaha ataupun marketers agar mereka memahami sebelum melakukan kerjasama.

Singkatnya, trafik berkualitas dari influencer marketing utamanya adalah brand awareness bukan conversion alias penjualan. Lantas, berapakah pengeluaran yang dikeluarkan oleh marketers di Indonesia untuk menyewa jasa dari seorang selebgram?

Get Craft membuat laporan mengenai pengeluaran marketer dan pengusaha ketika mereka menyewa influencer. Ternyata, anggaran yang dikeluarkan oleh mereka mencapai 20-30% dari total budget secara penuh dalam satu tahun. Angka itu dinilai akan terus meningkat setiap tahunnya melihat dari tren iklan yang mulai bergeser dari ranah televisi ke sosial media.

Media Terbaik Buat Influencer

youth-750x392

Jadi kesimpulannya, influencer marketing memang mampu untuk menarik simpati dari pelanggan agar membeli. Akan tetapi, belum ada metrik yang bisa mengukur jika penggunaan influencer bisa meningkatkan penjualan hingga 3 kali lipat dari biasanya. Sehingga saat ini, influencer baru bisa dibilang mampu meningkatkan ‘keterkenalan’ sebuah produk di kalangan target pasar lebih luas.

Lantas, media apakah yang biasa digunakan para influencer dalam mempromosikan produk mereka? TV bukan lagi menjadi media terbaik untuk mempromosikan sebuah kerjasama. Bagi influencer, media sosial merupakan media yang murah namun bisa memberikan dampak besar bagi mereka dan juga para pengikutnya.

Dikutip dari Smart Insight, Instagram (89%) masih menjadi tempat terbaik untuk mempromosikan produk kerjasama. Di tempat kedua, Youtube (70%) juga cukup dinikmati untuk iklan dalam jangka panjang dan kreatif. Berbeda dengan Instagram, Youtube menyediakan monetisasi iklan namun juga para influencer bisa membuat iklan sendiri di dalam konten yang mereka buat.

Baca Juga: Instagram Marketing, Ini Dampak yang Terjadi Jika Likes Disembunyikan

 

(Visited 64 times, 1 visits today)