Word of Mouth

Kita hidup di era digital.

Kita hidup di era dimana semua orang bertransaksi melalui internet. Mau beli sesuatu, tinggal klik kemudian bayar. Selang beberapa lama kemudian, barang yang kita inginkan sudah tiba di depan rumah. Sekali lagi, terima kasih untuk internet.

Berubahnya cara seseorang membeli juga membuat pengusaha mengubah strategi marketing mereka. Dari yang biasanya memasang billboard di pinggir jalan, menjadi memasang iklan di website-website tertentu. Mulai dari Google, Youtube bahkan hingga sosial media dengan memanfaatkan para influencer terkenal.

Hasilnya bagaimana?

Dibalik penjualan yang laris terdapat iklan-iklan berbayar mahal. Faktanya, perusahaan-perusahaan besar saat ini memang jor-joran dalam mengeluarkan uang dalam memasang iklan di internet. Memang gak ada yang salah dengan hal tersebut.

Namun, ada satu strategi marketing gratis yang dilupakan banyak pengusaha padahal dampaknya lebih besar dibandingkan dengan iklan berbayar. Ya, Word of Mouth Marketing (WOMM).

Apa yang dimaksud dengan Word of Mouth dan kenapa itu menjadi strategi yang paling dominan?

Pengertian

74% konsumen menganggap jika Word of Mouth merupakan rekomendasi terbaik untuk membeli sebuah produk atau jasa.

WOMM terbukti sebagai strategi marketing yang gratis namun efektif karena mampu meningkatkan penjualan mencapai 54% dari sebelumnya, menurut penelitian yang dikutip dari Forbes.

Apa itu Word of Mouth? Simple.

Manakah produk yang kamu pilih antara rekomendasi dari teman atau melihat iklan yang bertebaran di media sosial? Tentunya, kamu akan lebih percaya dengan rekomendasi teman. Itulah yang dimaksud dengan Word of Mouth Marketing (WOMM).

WOM adalah strategi pemasaran gratis dari mulut ke mulut yang biasanya terjadi karena kualitas dari produk atau jasa yang diberikan.

Memang sudah hukum alam, orang-orang akan secara sukarela memberikan informasi kepada teman mereka mengenai produk atau jasa tertentu apabila mereka mendapatkan benefit setelah menggunakannya.

Itulah kenapa, WOM menjadi senjata terbaik dalam marketing walaupun saat ini sudah ada banyak iklan berbayar.

Konsumen percaya dengan konsumen lainnya

Word of Mouth terjadi secara natural. Pengusaha tidak bisa memaksakan produk atau jasa mereka dikenal banyak orang. Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh para pengusaha apabila ingin produknya viral?

Buat produk atau jasa yang berbeda. Atau, buat produk atau jasa yang dijual secara lebih berkualitas.

Jika kamu menjual sesuatu yang berdampak besar bagi konsumen, maka mereka tidak akan ragu membagikan ceritanya tersebut kepada teman-temannya yang mungkin saja bakal menjadi langganan bisnis kamu.

Quicksprout pernah membuat riset mengenai cara-cara memasarkan produk dengan baik. 2 dari 3 poin teratas, yakni rekomendasi dari teman dan opini netizen di sosial media, menjadi daya tarik seseorang untuk membeli.

Dari grafik tersebut, bisa terlihat jika pelanggan secara alami akan datang membeli melalui rekomendasi-rekomendasi bukan melalui iklan berbayar seperti yang ada di internet.

WOM alami, kualitas tetap menentukan

Kue artis menjamur di Indonesia beberapa tahun lalu. Para entertainer berlomba-lomba membuka toko kue dengan memanfaatkan sosial media sebagai strategi pemasaran utama. Ya, mereka mempromosikan melalui Instagram, Twitter dll.

Apakah itu bisa dianggap sebagai WOM? jawabannya iya.

Sayangnya, fenomena kue artis tersebut tidak berjalan lama lantaran banyak yang tutup, entah itu bangkrut, tidak ada pembeli atau apapun. Sebagian besar dari mereka, gagal bertahan dan memilih untuk menutup lini bisnisnya.

WOM memang terjadi secara alami. Para entertainer mempunyai masa di Instagram mereka sehingga produk yang mereka jual menjadi lebih dikenal dengan cepat. Namun, apa daya jika hukum alam sudah berkehendak.

WOM tidak berjalan maksimal karena kemungkinan besar tidak dibarengi dengan kualitas produk.

Produk yang berkualitas akan menghasilkan banyak pelanggan.

Sebaliknya, jika memiliki banyak pelanggan namun tidak mempunyai produk berkualitas, bisnis yang kamu buat akan cepat gulung tikar alias bangkrut.

Kesimpulannya, WOM itu tidak hanya melalui mulut ke mulut sebab internet membuatnya lebih mudah dan lebih cepat tersebar melalui sosial media dll.

Go-Date, Bukti Word of Mouth Berhasil

Ratusan ribu penonton di channel Youtube dan belasan ribu likes di Facebook dan sosial media lainnya, Go Jek sempat membuat viral dunia maya dengan aplikasi Go-Date yang ‘diluncurkan’ pada tahun 2016.

Kala itu, CEO Gojek bernama Nadiem Makariem berhasil membuat aplikasi ride-sharing-nya menjadi omongan banyak orang setelah berbicara tentang keinginannya membuat aplikasi kencan di Gojek.

Pada akhirnya, Nadiem ternyata hanya bergurau mengenai aplikasi tersebut. Namun bagi Gojek, Impression yang mereka dapatkan saat itu sangatlah besar sekali sehingga itu menjadi salah satu strategi marketing yang cukup cerdas pada masanya.

Apa yang dilakukan oleh Gojek tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kamu apabila ingin membuat bisnis.

Utamanya, buatlah produk atau jasa dengan kualitas terbaik sehingga menjadi bahan perbincangan banyak konsumen.

Dengan begitu, konsumen akan, secara sukarela, merekomendasikan produk atau jasa kamu kepada konsumen lainnya. Punya pendapat mengenai hal ini, silahkan tulis kolom komentar di bawah.

 

 

(Visited 1.412 times, 2 visits today)