Kamu pasti familier dengan bisnis keluarga di Indonesia yang terkenal, seperti PT Djarum, PT Indofood Sukses Makmur, Sampoerna, dan sebagainya. Mereka termasuk ke dalam bisnis keluarga yang sudah berdiri lama, lebih dari 30 tahun.

Meski telah berdiri lama, bukan berarti bisnis keluarga sudah memiliki pondasi yang kokoh. Salah satu langkah saja bisa menyebabkan kerugian. Bisnis keluarga rata-rata memiliki tantangan tersendiri dalam menjalaninya.

Hal-hal itu berkaitan dengan legacy serta continuity yang harus dijaga agar bisnis tetap berdiri kokoh dalam berbagai zaman. Tantangan yang ada kerap berkaitan dengan banyak faktor yang terjadi dalam bisnis.

1. Konflik Keluarga

Konflik antar anggota keluarga dalam bisnis keluarga bisa menjadi salah satu yang dapat merusak, tidak hanya hubungan bisnis tetapi juga bagi hubungan pribadi di dalam keluarga.

Ketika perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan bisnis tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menghambat kemajuan perusahaan dan bahkan berpotensi merusak warisan keluarga. Terkadang, anggota keluarga mungkin lebih cenderung memprioritaskan kepentingan pribadi atau hubungan keluarga daripada kepentingan bisnis yang objektif, sehingga menciptakan konflik.

Salah satu solusi yang efektif adalah mempekerjakan orang luar yang dapat membantu mengelola bisnis dan memfasilitasi pengambilan keputusan bisnis yang objektif. Ini penting untuk menghindari bias dan kepentingan pribadi masing-masing.

Baca juga : 5 Cara Jitu Mendapatkan Investor untuk Bisnis Kamu

2. Persaingan Eksternal yang Semakin Ketat

Salah satu tantangan terbesar dalam meneruskan bisnis keluarga adalah menjaga relevansi dan ketahanan bisnis dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat. Bisnis yang mungkin sukses di masa lalu tidak selalu dapat bertahan di era yang berubah dengan cepat ini. Ada 3 faktor yang turut mempengaruhinya seperti:

  • Perubahan teknologi
    Era digital mengubah cara bisnis beroperasi, berkomunikasi dengan pelanggan, dan menawarkan produk atau layanan. Bisnis yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi seringkali tertinggal dan kehilangan daya saing.

Omong-omong soal beradaptasi dengan perubahan teknologi, sejalan dengan zaman bisnis harus selalu beradaptasi, salah satunya dengan mengadopsi sistem digital untuk invoicing dan pembayaran. Untuk itu, kamu bisa cek Paper.id sebagai sarana yang mendukung perkembangan bisnis di era digital ini.

  • Perubahan kondisi pasar
    Persaingan yang semakin ketat, masuknya pesaing baru, dan perubahan tren konsumen dapat mengubah dinamika pasar secara drastis. Bisnis yang tidak responsif terhadap perubahan pasar dapat kehilangan pangsa pasar dan mengalami penurunan pendapatan.
  • Preferensi konsumen yang berubah
    Apa yang diminati oleh generasi sebelumnya mungkin tidak lagi relevan bagi generasi yang lebih muda. Bisnis yang tidak mampu memahami dan mengakomodasi perubahan ini dalam preferensi konsumen dapat kehilangan pelanggan dan pendapatan.

Solusi yang efektif adalah mendorong generasi berikutnya untuk berinovasi dan mempertimbangkan diversifikasi bisnis. Contohnya, Indofood yang sukses menjual menjual berbagai macam produk. Tidak hanya dikenal akan mi instan, mereka merambah ke produk lainnya di bidang FMCG, sehingga lebih dikenal banyak orang.

3. Kemampuan dan Komitmen Generasi Berikutnya

Salah satu masalah yang sering terjadi dalam bisnis keluarga adalah ketidakpastian mengenai apakah generasi berikutnya memiliki kemampuan, minat, dan komitmen yang diperlukan untuk mengelola bisnis dengan sukses.

Business owner seringkali merasa cemas apakah generasi muda akan mampu meneruskan visi dan nilai-nilai yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Hal ini dapat mengakibatkan kekhawatiran akan keberlanjutan bisnis keluarga.

Solusi yang efektif untuk mengatasi tantangan ini adalah melalui pendidikan dan pelatihan. Memberikan pelatihan yang komprehensif kepada generasi berikutnya dapat membantu mereka memahami operasi bisnis secara menyeluruh, memperkuat kemampuan mereka, dan mempersiapkan mereka untuk mengambil alih tanggung jawab kepemimpinan.

Contoh sukses dalam hal ini dapat ditemukan dalam perusahaan-perusahaan ritel terkenal seperti Walmart, yang berhasil mentransfer kepemilikan dan manajemen kepada anggota keluarga berikutnya dengan memberikan mereka pelatihan yang mendalam. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan bisnis keluarga dan meneruskan warisan yang telah dibangun.

Sebagai contoh sukses, Ford Motor Company adalah perusahaan yang telah berhasil melibatkan manajemen profesional dalam mengelola bisnis mereka. Dengan adanya manajemen profesional ini, mereka dapat meminimalkan konflik internal keluarga dan fokus pada tujuan bisnis yang lebih besar. Dengan demikian, pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara hubungan pribadi dalam keluarga dan keberlanjutan bisnis keluarga.

Baca juga: Cara Starbucks Raih Hati Pelanggan Menggunakan 3 Trik Psikologi Marketing Ini

Meneruskan bisnis keluarga ke generasi berikutnya adalah tugas yang rumit dan penuh tantangan. Namun, dengan pendekatan yang bijak, pendidikan yang kuat, dan manajemen yang profesional, bisnis keluarga dapat tetap kokoh dan berkembang.

Yuk, gunakan Paper.id untuk menjawab tantangan-tantangan bisnis zaman modern dan terus sukseskan bisnismu bahkan hingga generasi-generasi selanjutnya. Daftar ke Paper.id sekarang dan cek fitur-fitur menariknya, gratis!

Daniel Nugraha