Shrinkflation dan downsizing adalah dua konsep yang sering digunakan dalam bisnis. Kamu mungkin pernah melihat ukuran suatu produk menjadi mengecil atau berkurang dari sebelumnya, kondisi tersebut adalah penerapan dari konsep shrinkflation dan downsizing. Bagi pelaku bisnis, pengurangan ukuran atau jumlah produk tersebut dilakukan untuk menjaga aktivitas bisnis agar tetap berjalan. 

Konsep shrinkflation dan downsizing kerap dilakukan dalam industri makanan atau minuman untuk mengatasi masalah inflasi atau meningkatnya biaya bahan baku.

Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan profit, ada perbedaan mendasar antara kedua praktik tersebut. Untuk mengetahuinya, simak pengertian shinkflation dan downsizing berikut ini.

Shrinkflation, Strategi Penyusutan Produk

Shrinkflation merupakan gabungan kata dari “shrink” yang artinya menyusut dan “inflation” yang artinya inflasi. Pada dasarnya shrinkflation adalah praktik untuk mengurangi ukuran atau jumlah suatu produk dan menjaga harga tetap sama.

Shrinkflation kerap dilakukan tanpa menarik banyak perhatian konsumen. Melansir New York Times, praktik mengurangi jumlah produk sudah terjadi sejak lama. Salah satu contohnya terjadi pada tahun 1988 saat perusahaan kopi bernama Chock Full o’Nuts mengurangi jumlah kopi pada kalengnya dari 1 pon (16 ons) menjadi 13 ons. 

Perusahaan akan menyadari jika konsumen melihat kenaikan harga maka akan menyebabkan penurunan penjualan. Menurut penelitian pada Journal of Retailing konsumen akan lebih sensitif dengan kenaikan harga dibandingkan dengan pengurangan ukuran produk. Oleh sebab itu, sangat wajar jika perusahaan memilih untuk mengurangi jumlah produknya daripada menaikkan harga penjualan. 

Alasan Shrinkflation dalam Bisnis

Alasan utama shrinkflation adalah kenaikan biaya produksi. Biaya produksi ini mencakup bahan yang dibutuhkan untuk membuat produk, bahan bakar untuk menjalankan mesin, listrik untuk menjalankan pabrik, dan biaya tenaga kerja. 

Shrinkflation dilakukan untuk meningkatkan atau mempertahankan margin keuntungan dalam bisnis. Jika biaya produksi meningkat, perusahaan dapat membebankan peningkatan biaya tersebut kepada pelanggan dengan menaikkan harga atau melakukan shrinkflation. Selain itu shrinkflation juga dilakukan saat terjadinya gangguan rantai pasokan, persaingan pasar, dan meningkatnya biaya distribusi ke konsumen.

Downsizing, Strategi untuk Jaga Harga Penjualan

Shrinkflation dan downsizing memiliki arti yang berbeda. Shrinkflation digunakan untuk meningkatkan margin keuntungan dan tetap menjaga harga penjualan. Sedangkan downsizing adalah pengurangan ukuran atau jumlah produk atau layanan tanpa menyesuaikan harga.

Pada konteks sebuah perusahaan downsizing adalah proses mengurangi atau menghilangkan posisi, peran, atau seluruh departemen dalam struktur organisasi. Downsizing juga mencakup pengurangan operasi, mengoptimalisasi sumber daya,  memangkas biaya, dan penyelarasan kembali tujuan bisnis untuk meningkatkan efisiensi. 

Alasan Downsizing dalam Bisnis

Setiap perusahaan memiliki situasi bisnis yang berbeda beda. Oleh sebab itu setiap perusahaan memiliki alasan yang downsizing yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa alasan perusahaan melakukan downsizing:

1. Finansial memburuk

Jika suatu perusahaan tidak berkinerja baik secara finansial, perusahaan mungkin akan melakukan downsizing untuk mengurangi biaya dan tetap bertahan.

2. Perubahan teknologi

Kemajuan teknologi dapat menyebabkan downsizing karena otomatisasi akan menggantikan fungsi pekerjaan tertentu khususnya pekerjaan yang bersifat manual.

3. Perubahan kondisi pasar

Kondisi pasar bisa saja berubah tergantung pada keinginan konsumen. Misalnya, saat penjualan koran kertas mengalami penurunan karena konsumen yang lebih senang membaca berita secara online.

Dengan kondisi tersebut, wajar jika perusahaan melakukan downsizing pada departemen penjualan koran kertas dan memaksimalkan penjualan layanan berita online untuk mempertahankan daya saing.

4. Merger dan akuisisi

Ketika dua perusahaan melakukan merger atau satu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain, beberapa pekerjaan sering kali tumpang tindih sehingga menyebabkan downsizing.

5. Restrukturisasi organisasi

Dalam bisnis sebuah perusahaan dapat memilih untuk merestrukturisasi organisasi untuk meningkatkan efisiensi atau mengubah fokus strategis. Restrukturisasi tersebut akan berpengaruh pada penghapusan lini perusahaan yang tidak optimal dan dapat menyebabkan downsizing.

Jenis-Jenis Downsizing

Strategi downsizing dapat dikategorikan berdasarkan parameter yang berbeda, seperti metode, kecepatan, dan fungsi downsizing. Berikut adalah beberapa jenis strategi downsizing:

1. Pesiun dini

Perusahaan dapat memberikan insentif kepada karyawan yang lebih tua untuk pensiun dini. Strategi ini mungkin cocok bagi perusahaan, namun strategi ini akan mengakibatkan hilangnya tenaga kerja yang berpengalaman.

2. Pemutusan hubungan kerja

Pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah bentuk downsizing dengan memberhentikan atau memecat karyawan. Meskipun hal ini dapat mengurangi biaya dengan cepat, hal ini juga dapat berdampak signifikan terhadap semangat kerja dan produktivitas karyawan yang tersisa.

3.Pengurangan jam kerja

Dalam beberapa kasus, perusahaan mungkin akan memangkas biaya dengan mengurangi jam kerja karyawan. Hal ini tidak sedrastis PHK, namun masih dapat berdampak signifikan terhadap pendapatan dan semangat kerja karyawan.

4. Pengurangan gaji

Jenis downsizing selanjutnya adalah dengan pengurangan gaji karyawan. Metode ini dapat mempertahankan pekerjaan namun dapat memberikan dampak negatif terhadap moral dan meningkatkan kemungkinan karyawan mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi di tempat lain.

5. Downsizing operasional

Strategi ini melibatkan pengurangan skala operasi yang dapat mengakibatkan pengurangan tenaga kerja. Contoh downsizing operasional adalah dengan menutup cabang bisnis di suatu daerah.

6. Downsizing fungsional

Downsizing ini dilakukan khusus untuk fungsi departemen atau organisasi. Misalnya, jika sebuah perusahaan memiliki fungsi pemasarannya terlalu besar, maka perusahaan tersebut mungkin akan memperkecil departemen pemasaran saja.

Downsizing adalah strategi penting untuk menyusut skala operasional perusahaan dan harus dilakukan dengan hati-hati, kompilasi, dan secara strategis. Keputusan downsizing memiliki dampak yang signifikan terhadap karyawan dan reputasi perusahaan, sehingga penting untuk memastikan bahwa proses ini dilakukan dengan transparansi dan berkeadilan.

Downsizing untuk Otomatisasi

Salah satu alasan downsizing adalah perubahan teknologi. Dalam konteks perusahaan, downsizing akibat perubahan teknologi akan membuat pekerjaan yang bersifat manual digantikan dengan otomatisasi teknologi. Proses otomatisasi tersebut akan membantu operasional sebuah perusahaan menjadi lebih mudah dan cepat.

Misalnya, proses otomatisasi pembayaran bisnis bisa dilakukan melalui Paper.id. Dengan Paper.id, perusahaan bisa membuat invoice, mencatat pengeluaran, hingga mencairkan dana secara otomatis. Yuk, otomatisasi bisnismu dengan Paper.id!

Nadiyah Rahmalia