Meningkatnya kebutuhan petani akan alat pertanian terjangkau mendorong tren kenaikan impor mesin dari China secara signifikan. Hal ini tidak terlepas dari kombinasi harga kompetitif, teknologi canggih, serta variasi produk yang beragam. Bahkan, Bloomberg Technoz mencatat bahwa pada tahun 2025, nilai impor Indonesia dari China melonjak sekitar 21% dengan sektor mesin sebagai kontributor utama. Namun, di balik besarnya potensi pasar ini, masih banyak yang belum tahu cara impor alat pertanian dari China. Untuk itu, artikel ini akan menyajikan panduan praktis impor dari China yang bisa langsung Anda terapkan.

Key Takeaways

  • Pahami regulasi impor, termasuk NIB, API, HS Code, dokumen kepabeanan, dan persyaratan teknis, agar impor dari China berjalan lancar.
  • Pilih skema impor yang sesuai. Jika sudah memiliki izin resmi bisa melakukan impor secara langsung, tapi bagi pemula disarankan menggunakan layanan undername atau jasa importir untuk mempermudah prosesnya.

7 Tahapan Penting Impor Alat Pertanian dari China

Proses import barang China tidaklah sulit selama Anda mengetahui langkah-langkah impor alat pertanian dari China yang tepat. Berikut panduan impor alat pertanian dari China agar proses berjalan lancar.

1. Menentukan skema impor yang tepat

Secara umum, skema impor terbagi menjadi dua, yaitu impor langsung dan impor melalui jasa importir (undername). Jika Anda memiliki legalitas lengkap seperti NIB dan API, impor langsung bisa lebih hemat dan memberi kontrol penuh atas pengiriman, meski membutuhkan pemahaman regulasi dan prosedur kepabeanan.

Bagi pemula atau usaha yang belum memiliki izin, menggunakan jasa importir lebih praktis dan minim risiko. Meski biayanya sedikit lebih tinggi, prosesnya lebih sederhana dan lebih mudah diikuti.

2. Menentukan jenis alat pertanian sesuai kebutuhan

Selanjutnya, cara impor alat pertanian dari China adalah menentukan jenis alat yang benar-benar sesuai kebutuhan. Jangan hanya tergiur harga murah, tetapi pastikan pemilihan didasarkan pada analisis yang matang, seperti pemilihan berdasarkan:

  • Ukuran lahan: lahan kecil lebih cocok menggunakan hand tractor, sedangkan lahan luas membutuhkan mesin dengan kapasitas lebih besar.
  • Jenis tanah: kondisi tanah memengaruhi spesifikasi mesin yang dibutuhkan, misalnya tanah liat butuh mesin bertenaga dengan traksi kuat, sedangkan tanah berpasir sebaliknya.
  • Ketersediaan fasilitas perbaikan atau pusat layanan: pastikan tersedia bengkel atau service center serta suku cadang yang mudah diakses untuk menghindari gangguan operasional.
  • Nilai jual kembali: pilih mesin yang memiliki pasar sekunder baik agar tetap bernilai saat akan dijual kembali.
  • Merek dan model: pertimbangkan merek terkenal dan memiliki reputasi kualitas yang baik, seperti YTO Group dan Foton Lovol.
  • Desain dan spesifikasi mesin: periksa kualitas material, kemudahan pengoperasian, efisiensi bahan bakar, serta daya tahan mesin.

3. Mencari dan memverifikasi supplier tepercaya

Tahap berikutnya adalah mencari supplier melalui platform seperti Alibaba, Made-in-China, atau pameran dagang internasional. Pastikan Anda memilih dan bekerja sama dengan supplier tepercaya. Gunakan filter seperti “Verified Supplier” dan periksa lama beroperasinya di platform. Lalu, pilih supplier dengan rekam jejak minimal 3–5 tahun. 

Periksa juga profil perusahaan, pastikan foto dan video asli, lisensi resmi, dan pilih yang spesialis di alat pertanian. Jika memungkinkan, lakukan video call untuk menilai komunikasi dan minta mereka menunjukkan sampel produk. Terakhir, pastikan respons cepat, komunikasi jelas, dan harga wajar sebelum memutuskan bekerja sama.

Baca Juga: 10+ Barang Impor dari China yang Laris di Indonesia

4. Negosiasi harga dan spesifikasi produk

Setelah menemukan supplier, tahap berikutnya adalah negosiasi secara detail, meliputi harga unit, spesifikasi teknis produk, garansi dan layanan purna jual, hingga opsi custom branding jika diperlukan.

Untuk harga, negosiasikan berdasarkan volume pembelian dan gunakan target price sebagai acuan, serta bandingkan dengan 3–5 supplier untuk referensi. Pastikan semua kesepakatan tertulis jelas dalam invoice atau kontrak pembelian agar transaksi aman dan transparan.

5. Mengatur pengiriman dan logistik

Cara impor alat pertanian dari China selanjutnya adalah mengatur pengiriman dan logistik, yang menjadi kunci agar barang tiba tepat waktu, aman, dan dengan biaya yang terkendali. Umumnya, proses ini melibatkan kerja sama antara importir, pemasok, freight forwarder, serta pihak bea cukai.

Karena itu, pastikan Anda memilih forwarder yang berpengalaman agar barang sampai tujuan dengan aman. Untuk jalur pengiriman, karena alat pertanian biasanya berukuran besar dan berat, pengiriman sebaiknya dilakukan melalui jalur laut (sea freight).

6. Memahami regulasi dan dokumen impor

Tahapan ini penting terutama bagi Anda yang memilih skema langsung dengan undername sendiri agar proses berjalan lancar. Adapun regulasi dasar impor yang perlu dipahami antara lain:

  • memiliki NIB dan API (Angka Pengenal Impor);
  • menentukan HS Code yang tepat;
  • membayar Bea Masuk, PPN, dan PPh Impor sesuai ketentuan;
  • melengkapi dokumen seperti Invoice, Packing List, Bill of Lading, dan PIB;
  • memenuhi persyaratan teknis atau sertifikasi jika diperlukan.

Anda juga bisa konsultasi dengan jasa kepabeanan untuk menghindari kesalahan dokumen yang berisiko menyebabkan barang tertahan di pelabuhan.

7. Proses pembayaran ke supplier china

Prosedur impor alat pertanian dari China yang tidak kalah penting adalah sistem pembayaran. Ada beberapa metode pembayaran yang umum digunakan, seperti:

  • Advance Payment (pembayaran di muka): membayar sebagian atau seluruh nilai sebelum barang dikirim.
  • Documents Against Payment (D/P): dilakukan saat dokumen pengiriman diserahkan oleh bank.
  • Letter of Credit (L/C): pihak bank yang menjamin pembayaran setelah syarat tertentu terpenuhi.
  • Open Account: dilakukan setelah barang diterima.
  • Consignment: baru dilakukan setelah barang terjual.
  • Transfer Bank (T/T): langsung melalui rekening bank.

Anda tinggal pilih sesuai kemampuan. Namun, karena nilai transaksi alat pertanian biasanya besar, disarankan menggunakan L/C untuk keamanan. Pastikan juga kontraknya jelas dan verifikasi rekening bank supplier sebelum transfer agar proses impor aman.

PaperXB: Solusi Pembayaran Impor yang Lebih Fleksibel

Cara impor alat pertanian dari China sebenarnya cukup mudah jika Anda mengikuti langkah-langkah sebelumnya. Namun, tantangan seperti fluktuasi kurs dan keterbatasan fleksibilitas pembayaran seringkali tidak bisa dihindari, apalagi untuk transaksi bernilai besar dan volume barang yang tinggi seperti alat pertanian.

Untuk mengatasinya, PaperXB dari Paper hadir menawarkan solusi pembayaran praktis ke supplier luar negeri, termasuk China.

Dengan PaperXB, Anda bisa melakukan pembayaran internasional menggunakan kartu kredit, dengan proses cepat, kurs kompetitif, dan opsi tempo hingga 60 hari untuk menjaga arus kas tetap sehat tanpa biaya tersembunyi.

Yuk, registrasi ke Paper untuk mulai gunakan PaperXB!

Baca Juga: 4 Rekomendasi Supplier Barang Import China Terpercaya untuk Usaha

FAQ Seputar Impor Alat Pertanian dari China

1. Apa alat pertanian dari China yang paling banyak diimpor ke Indonesia?

Traktor tangan (hand tractors) dan traktor roda empat, mesin pemanen (combine harvesters), alat cultivator dan pengolah tanah, serta mesin pompa air dan penyemprot (sprayer).

2. Apakah kualitas alat pertanian China cocok untuk kondisi lahan di Indonesia?

Ya, alat pertanian dari China cocok dan fungsional untuk kondisi lahan di Indonesia, terutama karena produsen China menawarkan fleksibilitas dalam hal ukuran (compact) dan harga yang terjangkau.

3. Bagaimana cara memilih alat pertanian yang tepat sesuai kebutuhan petani lokal?

Pilih alat pertanian sesuai jenis komoditas, skala usaha, kondisi lahan, dan anggaran petani, serta pastikan alat mudah digunakan dan dirawat.

4. Bagaimana cara menghitung total biaya impor alat pertanian dari China?

Hitung total biaya impor dengan menjumlahkan harga alat, ongkos kirim, bea masuk, PPN, PPh impor dan biaya layanan pembayaran.

Content Writer dengan 4 tahun pengalaman menangani konten beragam topik di berbagai industri baik B2C dan B2B, termasuk bisnis, ekonomi, keuangan, dan sebagainya. Saat ini menulis di Paper.id untuk memperkaya wawasan pemilik bisnis dan memajukan industri B2B seluruh Indonesia.
Nadiyah Rahmalia