{"id":4393,"date":"2019-11-05T10:25:12","date_gmt":"2019-11-05T03:25:12","guid":{"rendered":"http:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=4393"},"modified":"2025-12-17T09:19:05","modified_gmt":"2025-12-17T02:19:05","slug":"inventory-management-untuk-pemula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/","title":{"rendered":"Ultimate Guide: Inventory Management Untuk Pelaku Usaha"},"content":{"rendered":"\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Inventory Management-<\/strong>&nbsp;Walmart selalu membanggakan diri mereka sebagai sebuah toko yang bersih dan rapi. Namun pada kenyataannya di lapangan, apa yang dikatakan malah menunjukkan kebalikannya. Barang-barang tidak tersusun rapi, stok persediaan tidak mencukupi hingga ada banyak ruang kosong di dalam rak padahal stok di gudang masih menumpuk.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">FYI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Walmart merupakan perusahaan ritel besar di dunia dengan keuntungan 296 miliar dollar (400,8 triliun rupiah). Jika dihitung, angka tersebut sudah mencapai seperempat kali dari milik Amazon yang mencapai 916 miliar dollar. Kedigdayaan Walmart lainnya bisa terlihat dari persebaran toko yang berada di 127 negara dengan total mencapai hampir 12 ribu unit.&nbsp;&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun sangat besar, Walmart kenyataannya juga mempunyai permasalahan yang sama dengan perusahaan ritel lainnya, yakni kesulitan dalam melakukan pengelolaan stok dalam gudang. Di tahun 2014 lalu, perusahaan milik Walton Family tersebut merugi hingga 3 miliar dollar karena permasalahan stok ini.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam artikel berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">why are walmart stores such a mess<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Forbes menjelaskan secara gamblang kesalahan apa saja yang dilakukan oleh Walmart sehingga mereka harus merasakan kerugian yang amat besar, mulai dari stok, gudang hingga bagaimana cara setiap pegawai untuk melakukan pengelolaan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah-masalah yang dialami oleh Walmart merupakan kejadian yang juga dialami perusahaan besar lainnya, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan gudang. Semuanya terjadi karena satu hal, yakni ketidakmampuan dalam mengelola gudang dengan baik.&nbsp;<\/span><br>\n<span style=\"font-weight: 400;\">Di bawah ini, Paper.id akan menjelaskan mengenai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">inventory management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai satu-satunya cara memperbaiki \u2018buruknya\u2019 pengelolaan sebuah perusahaan, terutama untuk mereka yang bergerak di bisnis ritel, distributor, manufaktur hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">food and beverages<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kenapa_Pengusaha_Perlu_Memahami_Inventory_Management\"><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa Pengusaha Perlu Memahami Inventory Management?<\/span><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"337\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/B2B-Marketing.png\" alt=\"B2B Marketing\" class=\"wp-image-4447\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah bisnis atau perusahaan yang berfokus pada penjualan produk, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inventory Management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan memegang peranan penting. Sebab tanpa adanya pengelolaan stok yang jelas, usia dari produk tidak akan panjang. Lantas, apa yang dimaksud dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inventory Management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu sendiri?<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inventory Management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sebuah kegiatan untuk melakukan penghitungan, pengawasan hingga pencegahan atas hal-hal yang terjadi pada stok gudang. Tujuan dari hal ini sebenarnya sangat sederhana, yakni memastikan semua stok selalu dalam kondisi prima sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sebuah perusahaan juga harus memastikan stok selalu tersedia, baik di gudang ataupun di rak belanja, karena hal tersebut akan membuat pelanggan akan semakin betah berbelanja di tempat kamu sehingga tidak berpaling ke kompetitor.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, tidak terpakainya atau terbuangnya sebuah produk akan menyebabkan kerugian. Mungkin jika yang rusak hanya satu buah tidak masalah namun bagaimana yang gagal produksi mencapai 1 lusin atau bahkan 100 lusin?&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, bisa saja kamu melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">clearance sale<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau diskon besar-besaran terhadap produk tersebut. Akan tetapi, hal itu tentunya akan mengurangi keuntungan yang didapatkan dari perhitungan yang semula.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa masalah yang biasanya melanda para pemilik usaha apabila tidak melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inventory Management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan benar, yakni:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Produk yang Kadaluarsa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu menjual produk yang mudah kadaluarsa (makanan atau make-up), kamu pasti tidak selalu menjualnya tepat waktu. Dengan kata lain, akan ada waktu dimana produk tersebut tidak terjual hingga melebihi masa kadaluarsanya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila sudah masuk ke dalam kategori kadaluarsa, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan yakni membuang produk tersebut. Tentunya, itu akan membuat kerugian sehingga laba (keuntungan) yang didapat tidak maksimal seperti biasanya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Menghindari Deadstock<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain produk yang bisa \u2018basi\u2019 dalam waktu dekat, melakukan&nbsp;inventory management juga akan menghindari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dead stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pengertian dari \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dead stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2019 sendiri adalah produk-produk yang sudah tidak terpakai lagi atau tidak digunakan lagi sehingga tidak laku di pasaran.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produk akan disebut \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dead stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2019 apabila tidak lagi diperlukan oleh pelanggan. Bisa saja produk-produk itu kurang mendapatkan minat karena sudah tidak jamannya lagi, contohnya adalah baju koko khas Black Panther.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Penyusutan Produk (<em>Shrinkage<\/em>)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah terakhir yang ternyata seringkali melanda para pemilik usaha adalah penyusutan produk (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shrinkage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Dalam akuntansi, ini merupakan situasi dimana daftar produk yang tertera di pembukuan tidak sama dengan keadaan stok sebenarnya yang berada di gudang.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, ada beberapa hal yang menyebabkan penyusutan, misalnya produk rusak, produk kadaluarsa (basi) ataupun hilang karena dicuri. Semakin besar penyusutan akan berbanding lurus dengan kerugian yang akan dialami seorang pemilik usaha.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengurus gudang sebuah bisnis memang bukanlah pekerjaan yang mudah sebab keempat masalah di atas biasanya akan datang di saat yang berbeda-beda atau bahkan bersamaan. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, kamu bisa melakukan beberapa hal ini:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1.&nbsp;Gunakan FIFO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjual produk yang mudah kadaluarsa memang membutuhkan penanganan yang spesial. Sebab apabila tidak terjual dalam jangka waktu tertentu, produk tersebut akan basi dan otomatis berpengaruh terhadap keuntungan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi jenis produk tersebut, penggunaan <a href=\"http:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-dan-nasihat-umkm\/metode-fifo-dalam-bisnis\/\">metode FIFO <\/a>(First in, First Out) memang menjadi cara yang paling tepat. Intinya adalah, metode ini digunakan untuk memastikan produk yang pertama kali masuk ke dalam gudang akan terjual terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begini, produk tersebut tidak akan berada di gudang dalam waktu yang lama sehingga terhindar dari kadaluarsa.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2.&nbsp;Bundling dan 2 Cara Lain Atasi Stock<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dead Stock membuat gudang menjadi penuh namun tidak mempengaruhi profit perusahaan. Faktanya, dead stock malah memberikan bencana bagi bisnis karena mengurangi sekitar 11,7% dari keuntungan yang seharusnya bisa didapatkan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana cara untuk mengatasi dead stock? Ada 3 langkah yang bisa dilakukan yaitu:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211;&nbsp;Paket Bundling<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produk yang tidak laku dan menumpuk di gudang bisa dimasukkan ke dalam promosi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bundling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> paket. Singkatnya, paket tersebut adalah gabungan dari produk yang sedang ramai digunakan di pasaran dengan produk yang tidak laku. Keduanya dikemas dalam harga yang terjangkau.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;<strong>Kembalikan ke Supplier<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika produk tidak laku tersebut memenuhi gudang, kamu bisa melakukan opsi pengembalian ke supplier (apabila sesuai dengan syarat dan persetujuan). Apabila hal ini bisa dilakukan, otomatis kamu bisa memangkas kerugian yang dialami.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211; Didonasikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Opsi terakhir dalam mengatasi dead stock adalah dengan mendonasikannya kepada yang membutuhkan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi keuntungan yang berkurang namun setidaknya bisa meningkatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brand awareness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Kontrol Penyusutan di Gudang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyusutan persediaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">inventory shrinkage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) merupakan hal yang sering terjadi dalam gudang apalagi jika tidak diawasi dengan benar oleh para pegawai. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penyusutan seperti kemalingan, produk kadaluarsa, rusak dan lain-lain.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mencegahnya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan seperti:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211;&nbsp;Pekerjakan Orang yang Tepat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudang merupakan aset yang sangat vital bagi sebuah bisnis. Jika stok produk di dalamnya tidak dikelola dengan baik, hal itu akan mempengaruhi profit bisnis. Agar terhindar dari segala kemungkinan yang merugikan perusahaan, tunjuklah sosok yang kompeten dan dipercaya untuk menjadi manajer gudang sebagai pengawas utama. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem sebaik apapun belum tentu bisa jalan jika sumber daya manusianya tidak bisa dipercaya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211; Tingkatkan Pengamanan Gudang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin besar sebuah gudang, semakin banyak pula wilayah yang harus dijaga. Agar pengamanan meningkat, tidak ada salahnya untuk memasang CCTV di sudut-sudut yang tak dapat dijangkau. Selain itu, monitoring kegiatan pegawai juga perlu dilakukan karena <a href=\"https:\/\/nrf.com\/research\/national-retail-security-survey-2016\">35,8%<\/a> kasus pencurian di gudang malah dilakukan oleh pegawai perusahaan itu sendiri.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211; Tandai Produk dengan Kode Tertentu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu melihat dengan teliti, banyak sekali produk yang menggunakan SKU (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Stock Keeping Unit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">),&nbsp; UPC (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Universal Product Code<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) atau juga barcode. Tujuannya adalah untuk memastikan setiap produk terdata secara maksimal sehingga bisa dilihat oleh pihak pengelola gudang.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211; Strukturisasi dalam Gudang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap produk memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang harus berada di tempat lembab, namun ada juga yang harus berada di tempat bercahaya. Selain itu, penempatan di dalam gudang juga perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi daya tahan sebuah produk.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khusus untuk penataan gudang, perlu dibuatkan sistem rak yang mendapatkan label tertentu sehingga pengawas gudang bisa mengetahui produknya sendiri dengan mudah tanpa harus mencari lagi.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tipe_Pengolahan_Stok\"><\/span>Tipe Pengolahan&nbsp;Stok<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"338\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Brief-Inventory-Management_Artboard-2-copy.png\" alt=\"Tipe Pengolahan Stok\" class=\"wp-image-4449\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses panjang dilalui dalam melakukan inventory management. Terlebih lagi dalam sebuah gudang perusahaan terdapat berbagai jenis produk dengan cara perawatan yang berbeda pula. Tergantung dari aktivitas bisnis sendiri,&nbsp;inventory management dibagi ke dalam 4 tahapan, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">raw material<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">work in process, finished goods<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan MRO <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">goods<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Raw Material (Bahan Baku)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Raw material<\/em> adalah bahan dasar yang dibeli sebuah perusahaan dari supplier untuk membuat produk yang akan dijual kepada klien. Contohnya adalah pembelian terigu untuk sebuah restoran pizza ataupun kain untuk pembuatan baju.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peran <em>raw material<\/em> dalam sebuah perusahaan sangatlah vital. Tanpa adanya bahan mentah ini, perusahaan tidak bisa membuat produk untuk pelanggan. Akibatnya, arus kas menjadi bermasalah karena tidak adanya profit atau pemasukkan yang terjadi dalam jangka waktu tertentu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Work in Process<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahapan kedua setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">raw materials<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">work in process<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (WIP) yang merupakan proses pembuatan bahan-bahan mentah menjadi produk jadi untuk dijual kepada konsumen. Ini bukanlah proses terakhir sebab masih dalam produksi yang memerlukan pemeriksaan final.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya mungkin bisa dianalogikan seperti sepasang sepatu yang telah selesai dibuat namun belum bisa langsung dijual kepada pelanggan sebab harus dibuatkan kardus atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">packing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terlebih dahulu. Sentuhan akhir akan terjadi pada proses selanjutnya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stok WIP inilah yang seringkali menjadi beban tersembunyi bagi banyak perusahaan manufaktur. Walaupun tidak terasa, namun semakin banyak WIP yang terkumpul pada jalur produksi, ini artinya semakin banyak stok yang tidak bisa dijual maupun dikembalikan kepada supplier. Namun stok WIP harus tetap ada supaya kapasitas jalur produksi tetap maksimal. Untuk mengatur masalah ini akan dibahas pada bagian <a href=\"http:\/\/www.paper.id\/blog\/business-insights\/just-in-time\/\">Just-in-Time (JIT)<\/a> Inventory.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Finished Goods<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah tahapan terakhir yang termasuk di dalam manajemen gudang. Pada tahap ini, produk sudah selesai dan bisa dijual kepada konsumen. Sebuah produk akan bisa dikatakan bagus apabila telah melewati <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quality control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dilakukan dengan cara sesuai perusahaan itu sendiri.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya dalam perusahaan sepatu, pengecekan terakhir biasanya dilakukan adalah dengan memeriksa secara detail mengenai warna dari sepatu dan kerapian penjahitan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. MRO Goods<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Maintenance, repair and operating supplies <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(MRO) Goods adalah merupakan alat \u2018pendukung\u2019 dalam sebuah proses produksi. Walaupun digunakan untuk menghasilkan produk, MRO Goods tidak bisa dikategorikan ke dalam tahapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">finished goods<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, MRO Goods adalah penunjang setelah produk selesai dibuat. Tujuannya adalah untuk merawat, memperbaiki ataupun mengoperasikan produk. Alat-alat yang termasuk sebagai MRO Goods adalah:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Peralatan industri (katup, kompresor, pompa).<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Barang habis pakai (peralatan kantor, laboratorium, dll).<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; Alat keamanan (sarung tangan, helm, sepatu kerja dll).<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">MRO Goods adalah tipe barang yang pengusaha sering menganggap-remeh untuk diatur. Namun pada perusahaan yang padat modal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">capital intensive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), contoh pertambangan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">oil and gas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kumpulan MRO Goods bisa mencapai angka ratusan juta!<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>5. Defective Goods<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada satupun perusahaan yang mampu membuat produk 100% sempurna. Diantara sekian banyak produk yang diproduksi, pasti akan ada hasil yang kurang sempurna (cacat) baik dari segi warna, ukuran ataupun besaran. Produk ini disebut sebagai <\/span><a href=\"http:\/\/www.paper.id\/blog\/featured\/cara-mengatasi-produk-cacat\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">defective goods<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerusakan sebuah produk memang tidak dapat diukur namun hal ini bisa dicegah sejak pertama bahan baku produk (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">raw material<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). <a href=\"https:\/\/www.intouch-quality.com\/blog\/3-ways-to-handle-defective-products\">Pemeriksaan<\/a> bahan baku bisa menjadi solusi paling bagus untuk menghasilkan produk terbaik nantinya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pencegahan juga bisa dilakukan dengan cara melakukan inspeksi pada saat melakukan pembuatan produk. Biasanya, pihak pengawas akan mengambil sampel dari masing-masing produk untuk diteliti apakah ada kemungkinan kecacatan atau tidak.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Metode_Inventory_Management\"><\/span>Metode&nbsp;Inventory Management<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"338\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Brief-Inventory-Management_Artboard-3-copy.png\" alt=\"Metode\" class=\"wp-image-4450\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika berbicara dengan gudang selalu berkaitan dengan stok produk. Setiap bisnis memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengelola gudang mereka tergantung dengan jenis produk yang dijual kepada pelanggan. Di bawah ini, terdapat beberapa metode manajemen inventaris yang sering dilakukan:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. FIFO (First In, First Out)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teknik yang pertama disebut sebagai FIFO (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">First in, First Out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Yang dimaksud dalam FIFO adalah mengeluarkan stok produk yang pertama kali dimasukkan ketika ada penjualan. Hal itu dilakukan untuk mencegah adanya produk yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">expired date<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, FIFO merupakan teknik yang sangat bagus untuk meningkatkan penjualan sebab pemilik bisnis diwajibkan untuk melakukan pengecekan stok dan mengurutkan produk sesuai dengan tanggal masuknya agar efisiensi produk tetap terjaga.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya adalah ketika menjual kue. Sebagai produk yang cepat basi, kue yang matang pertama kali harus yang pertama kali juga diberikan kepada pelanggan dan begitu seterusnya hingga semua kue laku. Bisnis yang cocok digunakan di FIFO:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;<span style=\"font-weight: 400;\">Produk yang mudah kadaluarsa (makanan, minuman, skin care dll).<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&#8211;&nbsp;<span style=\"font-weight: 400;\"><em>Fast moving consumer goods<\/em> (FMGC)<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. LIFO (Last In, First Out)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbanding terbalik dengan FIFO, LIFO merupakan sebuah teknik dimana produk yang terakhir masuk ke dalam stok bisa dikeluarkan terlebih dahulu dan dijual kepada pelanggan. Namun, pengeluaran stok bisa dilakukan berdasarkan syarat-syarat tertentu saja.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisnis baju merupakan contoh terbaik dalam penggunaan metode LIFO. Biasanya, sang pemilik toko akan memajang produk yang sedang diminati oleh pelanggan. Dengan kata lain, baju yang terbaru masuk ke dalam gudang bisa juga terjual lebih dahulu tanpa harus melihat produk lainnya yang sudah ada di gudang lebih lama.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, LIFO merupakan metode yang tidak mementingkan kapan sebuah produk masuk ke dalam gudang. Selama itu bisa terjual kepada pelanggan, sang pemilik pasti akan langsung segera menjualnya demi mendapatkan keuntungan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. JIT (Just In Time)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, ada sebuah metode bernama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Just In Time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dimana dilakukan untuk menekan biaya anggaran pengeluaran. Produk yang dibuat dalam JIT hanya akan sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Jadi tidak akan produksi apabila tidak ada pembelian.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembuatan produk yang sesuai dengan pesanan dilakukan untuk menekan anggaran pemeliharan sekecil-kecilnya. Biasanya, teknik JIT diterapkan pada perusahaan manufaktur yang melayani pesanan skala besar.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">FYI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Just In Time <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan metode yang paling penting sebab semua jenis perusahaan bisa menggunakannya, baik yang membutuhkan periode jual (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">expired date<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) ataupun produk yang tidak lekang oleh waktu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alur_Proses_Inventory_Management\"><\/span>Alur Proses Inventory Management<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"338\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Brief-Inventory-Management_Artboard-4-copy.png\" alt=\"Manufacturing Orders\" class=\"wp-image-4451\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah perusahaan, produk tidak bisa masuk atau keluar begitu saja. Sebab, ada prosedur-prosedur yang harus dilewati agar semua produk tersebut bisa tercatat tanpa satupun yang tertinggal. Secara umum, alur prosesnya akan menjadi seperti ini:<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Manufacturing Order<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Instruksi ataupun perintah yang diberikan oleh produsen untuk melakukan pengerjaan manufaktur. Pihak produsen juga mengelola secara langsung produk yang akan dibuat, mulai dari jadwal pembuatan, bahan yang dibutuhkan hingga jumlah produk yang nantinya dijual kepada pelanggan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya di pabrik mobil. Pihak produsen akan mencatat semua bahan baku apa saja yang diperlukan, kemudian juga dengan jadwal perencanaan sehingga bisa selesai membuat mobil 100 buah dalam waktu satu bulan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Penerimaan Barang (Goods Receipt)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses awal dari inventory pastinya adalah kedatangan produk dari supplier. Biasanya, hal ini ditandai dengan dibuatnya penerimaan barang (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">goods receipt<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) sebagai bukti laporan jika ada produk yang masuk ke dalam gudang. Sebelumnya, orang gudang juga telah diberitahu apabila ada produk yang akan datang.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prosedur ini dilakukan agar bisa tercatat ke dalam pembukuan. Jika kamu ingin pencatatan penerimaan barang yang lebih mudah, kamu bisa membuatnya di Paper.id. Software Invoice #1 di Indonesia tersebut bisa kamu gunakan kapanpun, melalui laptop ataupun smartphone. Klik <a href=\"https:\/\/paper.id\/webappv1\/#\/register\">disini<\/a> untuk langsung mudahkan bisnismu!<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Stock Opname<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stock opname adalah kegiatan penghitungan seluruh produk yang berada di dalam gudang. Proses keluar masuknya produk juga dilakukan dalam tahap ini sebab hal tersebut akan mempengaruhi catatan laporan nantinya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya pencatatan stock opname akan dilakukan di sebuah kertas bernama kartu stok. Nantinya, orang gudang yang sedang mengambil ataupun menaruh produk harus mengisi kartu tersebut sesuai agar semua produk bisa tercatat.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, stock opname juga bisa dibilang sebagai cara untuk monitor kesamaan data yang terdapat di dalam pembukuan dengan stok riil yang terdapat di gudang. Masih hitung data manual di kertas? Stock opname bisa dilakukan dengan lebih mudah apabila menggunakan <a href=\"https:\/\/paper.id\/webappv1\/#\/register\">software akuntansi<\/a>.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Karena kamu tidak perlu membeli buku-buku yang pastinya menggunakan uang. Efisiensi tempat juga menjadi alasan kenapa kamu harus menggunakan software akuntansi sebab kamu bisa menyelesaikannya hanya dengan laptop atau smartphone kamu saja!<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. Penjualan Produk<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alur terpenting dari sebuah proses gudang adalah pada saat melakukan penjualan produk kepada pelanggan. Dalam setiap pengiriman, kamu perlu membuatkan bon atau struk sebagai bukti pembelian produk dari pelanggan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bon atau struk sangat penting karena menjadi dokumen bukti pengurangan produk yang ada pada gudang. Jika kamu menggunakan aplikasi akuntansi, biasanya stok dalam sebuah gudang akan secara otomatis ketika bon atau struk tersebut diberikan kepada pelanggan, baik itu secara langsung maupun dikirim secara online.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>5. Surat Jalan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ada kesepakatan di antara kedua pihak, penjual wajib mengirimkan produk. Sebagai bukti jika produk telah dikirimkan, perlu adanya surat jalan. Dokumen ini bisa dibuat secara manual namun membutuhkan waktu yang sangat lama.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, surat jalan merupakan salah satu dokumen yang wajib dibawa apalagi untuk perusahaan manufaktur yang berskala nasional maupun internasional. Sebab, apabila tidak ada surat jalan, pihak keamanan (polisi atau dishub) berhak menggeledah atau bahkan menahan truk ataupun kapal pengangkut barang tersebut.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara yang lebih mudah bisa kamu dapatkan jika menggunakan <a href=\"https:\/\/paper.id\/webappv1\/#\/register\">software invoice<\/a>. Sebab dengan software tersebut, kamu bisa langsung membuat surat jalan dari invoice yang telah dikirimkan sebelumnya. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>6. Pindah Gudang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Besarnya sebuah bisnis akan mengakibatkan kompleksitas produk yang dibuat. Dengan begitu, perlu adanya gudang-gudang khusus sesuai dengan jenis produknya. Perusahaan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret akan memiliki banyak gudang yang kadang disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Distribution Center (DC)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk meminimalisir ongkos pengiriman dari hulu ke hilir. Di setiap gudang, bisa juga terjadi perpindahan barang namun harus disertai dengan dokumen-dokumen pendukung.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, jika produk yang pindah gudang tidak dibuatkan dokumen, hal tersebut akan menyebabkan kebingungan pihak pengelola gudang ketika sedang melakukan rekap di setiap periodenya. Perlu sebuah software akuntansi yang bisa membuat multi gudang? Mulai gunakan Paper.id saat ini juga!<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Inventory_Management_Kamu_Sudah_Tepat\"><\/span>Inventory Management Kamu Sudah Tepat?<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"338\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Brief-Inventory-Management_Artboard-5-copy.png\" alt=\"Inventory Management Bisnis\" class=\"wp-image-4452\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu telah melakukan inventory management, lalu apa lagi yang harus dilakukan? Jawabannya adalah memastikan jika semua langkah yang diterapkan sudah tepat dan berdampak positif bagi bisnis kamu.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana cara memastikan semua kegiatan inventory management telah ada di jalan yang benar?<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Inventory Turnover<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inventory turnover merupakan salah satu cara untuk mengetahui seberapa efektif sebuah perusahaan dalam mengelola persediaan stok mereka. Caranya adalah dengan membandingkan harga pokok persediaan dengan persediaan rata-rata dalam satu periode.<\/span><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Inventory Turnover: Harga Pokok Penjualan (HPP) \/ Rata-rata Persediaan<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua komponen penting di dalam inventory turnover adalah stok pembelian (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stock purchasing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dengan penjualan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Apabila seorang pemilik usaha melakukan banyak stok pembelian, itu akan membuat persediaan mereka juga akan semakin menumpuk.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sudah begitu, pemilik usaha juga harus bekerja keras menjual lebih banyak lagi produk agar kinerja dari rasio perputaran persediaan menjadi lebih maksimal.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Aging Stocks<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain inventory turnover, cara kedua untuk mengukur kesuksesan inventory management adalah dengan melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aging stocks. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya, mengukur seberapa lama sebuah produk sudah berada di dalam gudang. Rumus yang biasanya digunakan untuk ini adalah:<\/span><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Umur Barang= Tanggal saat ini &#8211; Tanggal pertama barang masuk<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, gudang menjadi awal mula dari sebuah bisnis. Segala bentuk pengelolaan hingga penghitungan menjadi hal yang krusial untuk diselesaikan di tempat tersebut. Akan tetapi, sebagian besar pemilik usaha enggan melakukannya karena satu hal, yaitu malas. Malas untuk menghitung ataupun malas untuk mengelola.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, masalah gudang kamu bisa diselesaikan dengan menggunakan Paper.id. Software invoice #1 di Indonesia bisa mempermudah urusan gudang kamu, mulai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stock adjustment<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penghitungan FIFO dll. Klik <a href=\"https:\/\/paper.id\/webappv1\/#\/register\">disini<\/a> jika kamu mau gunakan Paper.id secara <\/span><b>gratis!<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inventory Management-&nbsp;Walmart selalu membanggakan diri mereka sebagai sebuah toko yang bersih dan rapi. Namun pada kenyataannya di lapangan, apa yang dikatakan malah menunjukkan kebalikannya. Barang-barang tidak tersusun rapi, stok persediaan tidak mencukupi hingga ada banyak ruang kosong di dalam rak padahal stok di gudang masih menumpuk. FYI, Walmart merupakan perusahaan ritel besar di dunia dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4415,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6451],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>[Part 2] Manajemen Persediaan: Cara Atasi Masalah Inventory Management<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Penjelasan secara lengkap mengenai inventory management, mulai dari pengertian, alur proses, metodologi hingga contoh yang cocok untuk pelaku usaha.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"[Part 2] Manajemen Persediaan: Cara Atasi Masalah Inventory Management\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penjelasan secara lengkap mengenai inventory management, mulai dari pengertian, alur proses, metodologi hingga contoh yang cocok untuk pelaku usaha.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-11-05T03:25:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-17T02:19:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Brief-Inventory-Management_Artboard-1-copy.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"338\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Daniel Nugraha\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Daniel Nugraha\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"18 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"[Part 2] Manajemen Persediaan: Cara Atasi Masalah Inventory Management","description":"Penjelasan secara lengkap mengenai inventory management, mulai dari pengertian, alur proses, metodologi hingga contoh yang cocok untuk pelaku usaha.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"[Part 2] Manajemen Persediaan: Cara Atasi Masalah Inventory Management","og_description":"Penjelasan secara lengkap mengenai inventory management, mulai dari pengertian, alur proses, metodologi hingga contoh yang cocok untuk pelaku usaha.","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2019-11-05T03:25:12+00:00","article_modified_time":"2025-12-17T02:19:05+00:00","og_image":[{"width":600,"height":338,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Brief-Inventory-Management_Artboard-1-copy.png","type":"image\/png"}],"author":"Daniel Nugraha","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Daniel Nugraha","Estimasi waktu membaca":"18 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/"},"author":{"name":"Daniel Nugraha","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/472faaec0b543229ae0fef22e36a5eeb"},"headline":"Ultimate Guide: Inventory Management Untuk Pelaku Usaha","datePublished":"2019-11-05T03:25:12+00:00","dateModified":"2025-12-17T02:19:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/"},"wordCount":2977,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Inventory"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/","name":"[Part 2] Manajemen Persediaan: Cara Atasi Masalah Inventory Management","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2019-11-05T03:25:12+00:00","dateModified":"2025-12-17T02:19:05+00:00","description":"Penjelasan secara lengkap mengenai inventory management, mulai dari pengertian, alur proses, metodologi hingga contoh yang cocok untuk pelaku usaha.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/inventory\/inventory-management-untuk-pemula\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ultimate Guide: Inventory Management Untuk Pelaku Usaha"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/472faaec0b543229ae0fef22e36a5eeb","name":"Daniel Nugraha","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c84d3e292a8c817669eef7d7c810e25a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c84d3e292a8c817669eef7d7c810e25a?s=96&d=mm&r=g","caption":"Daniel Nugraha"},"description":"Seorang Penulis &amp; SEO Specialist dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di industri media, bisnis &amp; ekonomi, dengan hobi yang berbeda dari lainnya yakni riset terkait topik bisnis dan juga ekonomi serta sering kali difitur di berbagai media atas hasil tulisan seputar release dan kabar bisnis","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/daniel\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4393"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4393"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4393\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32317,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4393\/revisions\/32317"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4415"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4393"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4393"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4393"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}