{"id":4386,"date":"2019-10-28T16:03:17","date_gmt":"2019-10-28T16:03:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=4386"},"modified":"2025-09-30T19:14:48","modified_gmt":"2025-09-30T12:14:48","slug":"strategi-pemasaran-starbucks","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/","title":{"rendered":"Strategi Pemasaran: Cara Starbucks Menjual Kopi dengan Harga Mahal Tapi Laku di Pasaran"},"content":{"rendered":"\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Strategi Pemasaran-&nbsp;<\/strong>Jerry Baldwin, Gordon Bowker dan Zev Siegel mempunyai dua persamaan. Mereka bertiga berasal dari Academia, dan mereka juga sama-sama menyukai minuman kopi dan teh. Kesamaan tersebut membuat mereka memutuskan untuk berinvestasi dalam bentuk sebuah toko pinggir jalanan di kota Seattle, Amerika Serikat.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di awal 1971, toko pertama mereka dibuka dengan fokus utama berjualan biji kopi. Inspirasi mereka bermula dari seorang entrepreneur terkemuka bernama Alfred Peet yang tenar akibat tokonya yang menjual biji kopi arabica yang diimpor langsung ke Amerika Serikat pada sekitar tahun 1950.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, toko dari ketiga pemuda tersebut bahkan jauh menandingi dari milik Alfred. Mereka mengubah fokus penjualan dari bisnis biji kopi menjadi kopi seduh yang telah mempunyai total 27.399 cabang di seluruh dunia. Toko kopi terkenal itu adalah Starbucks.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi, nama Starbucks dipilih ketiganya berdasarkan sebuah karakter fiksi dari novel populer berjudul Moby Dick. Lantas, bagaimana bisa Starbucks menjelma menjadi salah satu toko minuman populer di dunia? Bagaimana strategi marketing mereka untuk mencapai itu semua?<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Strategi_Pemasaran_Starbucks\"><\/span>Strategi Pemasaran Starbucks<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/field2Fimage2Fstarbucks-coffee-korea-hero-getty.jpg\" alt=\"Starbucks\" class=\"wp-image-4388\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, harga sebuah kopi Starbucks bertaksir antara 30-60 ribu rupiah. Untuk ukuran sebuah kopi, harga itu memang terbilang sangat mahal. Namun siapa sangka jika Starbucks tetap mampu bertahan di tanah air. Bahkan hingga saat ini ratusan cabang juga sudah ada saat ini, jumlah itu mungkin bisa bertambah.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana strategi pemasaran Starbucks yang bisa membuat mereka bertahan hingga saat ini? Dalam artikelnya, Notesmatic menjabarkan jika toko kopi asal Amerika Serikat tersebut mengutamakan dua hal, yakni kualitas pelayanan serta strategi pemasaran. Apa saja itu?<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kualitas dari produk selalu menjadi pilar utama dari kekuatan Starbucks. Dengan kualitas tersebut, mereka bisa \u2018menyiarkan\u2019 kepada semua orang jika kopi buatan dari Starbucks diracik sendiri dengan proses yang panjang sehingga menghasilkan sebuah cita rasa yang khas nan unik.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kualitas_Produk\"><\/span>Kualitas Produk<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Starbucks selalu menempatkan posisi mereka sebagai sebuah brand premium yang mengandalkan kualitas dari cita rasa kopi yang unik. Akan tetapi, mereka tidak hanya menawarkan produk dalam bentuk kopi saja namun juga fasilitas tempat yang nyaman.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa sadar, Starbucks ternyata sangat peduli dengan kenyamanan pelanggan mereka. Untuk itu, mereka membuat sebuah toko kopi secara mewah dengan standar kualitas tertentu. Dengan begitu, pelanggan selalu meninggalkan kesan baik ketika menutup pintu untuk keluar dari toko.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Target dari Starbucks adalah mereka yang berada di level kelas menengah ke atas dimana meminum kopi bukan lagi hanya menjadi ajang untuk memenuhi kebutuhan saja, melainkan juga ajang ngobrol dengan teman ataupun pacar. Itulah kenapa mereka membuat tempat yang sangat nyaman.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, Starbucks tidak hanya membicarakan mengenai minuman tetapi juga bagaimana tempat mereka menjadi sebuah zona kenyamanan bagi para pelanggan mereka yang ingin melepaskan diri dari situasi yang penat.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pemasaran_yang_tidak_biasa\"><\/span>Pemasaran yang tidak biasa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/adolescent-adult-blur-933964.jpg\" alt=\"Alat Pembayaran Digital\" class=\"wp-image-4222\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang membuat Starbucks spesial dibandingkan dengan jenis toko kopi lainnya? Jawabannya adalah cara mereka memperlakukan pelanggan. Starbucks sangat sadar jika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">customer retention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan salah satu cara yang membuat mereka bisa bertahan di bisnis yang semakin sengit<\/span><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Customer retention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah metrik yang dilakukan oleh sebuah perusahaan agar dapat membuat pelanggan mereka kembali lagi dalam membeli produk mereka\u201d<\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana cara Starbucks mendapatkan pelanggan yang loyal? Caranya adalah dengan membuat promo tertentu. Jika kamu familiar, Starbucks pernah membuat promo potongan harga untuk pelanggan yang memiliki gelar mereka. Itu adalah dari sekian banyak contoh yang pernah mereka lakukan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Iklan_yang_Jor-joran\"><\/span>Iklan yang Jor-joran<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"400\" src=\"http:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/attractive-beautiful-beauty-1310535.jpg\" alt=\"Bisnis Marketing\" class=\"wp-image-3989\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya, Starbucks tidak pernah melakukan strategi pemasaran yang konvensional, seperti melakukan pemasangan billboard, pembuatan flyer hingga membuat iklan di tv. Semuanya mulai berubah ketika Starbucks go internasional, tepatnya pada pada tahun 2007.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah tersebut terus bertambah seiring semakin banyaknya cabang mereka di seluruh dunia. Pada tahun 2018 lalu, mereka mengeluarkan uang mencapai 260 juta dollar untuk melakukan pemasaran di seluruh dunia. Hasilnya, Starbucks semakin terkenal dan cabang mereka terus bertambah, termasuk di Indonesia.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih lanjut, mereka tidak hanya membuat iklan secara konvensional melainkan juga merambah ke dunia digital. Di Instagram, mereka mempunyai pengikut kurang lebih 18 juta dengan beragam konten yang menarik. Mereka menggunakan beberapa jenis konten, mulai dari produk branding, testimonial hingga kampanye tertentu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, Starbucks juga mem<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">branding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diri mereka di beberapa sosial media lain, seperti Facebook dan Twitter dalam bentuk tulisan. Dari sisi visual, mereka juga melakukan strategi pemasaran menggunakan Youtube.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>Baca Juga:&nbsp;Kompas hingga Starbucks, Salah Penulisan Jadi Alat Marketing Gratis?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gimmick_Ala_Starbucks\"><\/span>Gimmick Ala Starbucks<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"298\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/starbucks-misspell-name-1-850x423-1.jpg\" alt=\"Starbucks Kesalahan Penulisan\" class=\"wp-image-3515\"\/><\/figure><\/div>\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Starbucks merupakan pionir dari penggunaan nama di dalam setiap gelas kopi. Itu merupakan salah satu cara agar mereka \u2018dekat\u2019 dengan para pelanggan mereka. Namun di beberapa kesempatan, para pegawai Starbucks kerap kali kecolongan karena penulisan nama yang salah.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, ada nama seseorang <a href=\"https:\/\/www.marieclaire.co.uk\/life\/food-drink\/starbucks-misspelling-names-460537\">Fatty<\/a> yang memesan segelas kopi Starbucks. Masalahnya, yang didapatkannya adalah segelas kopi bernama \u2018Fate\u2019 bukan Fatty. Benarkah pegawai Starbucks salah dalam penulisan nama, atau mereka sengaja melakukan hal tersebut?<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir dari <a href=\"https:\/\/www.dailymail.co.uk\/news\/article-4030698\/Starbucks-employees-spell-wrong-cups-PURPOSE-share-pictures-social-media-conspiracy-theory-claims.html\">Daily Mail<\/a>, ada sebuah teori yang menyatakan jika Starbuck \u2018sengaja\u2019 salah menuliskan nama dari para pelanggannya untuk mendapatkan iklan gratis. Teori tersebut dikemukakan melalui sebuah video dari Youtube di Channel Super Deluxe.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut mereka, kesalahan penulisan tersebut dilakukan agar para pelanggan mempostingnya melalui sosial media. Bayangkan, saat ini Starbucks mempunyai lebih dari 27 ribu cabang di seluruh dunia. Jika seorang di satu cabang memposting hal tersebut di Instagram, berapa banyak dari semua cabang? Itu yang dimaksudkan sebagai pengiklanan secara gratis.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>Baca Juga:&nbsp;Benarkah Harga Teman Bisa Bikin Pengusaha Gulung Tikar?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Iklan_Gratis_dari_Game_of_Thrones\"><\/span>Iklan Gratis dari Game of Thrones<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, Starbucks untung besar dari penayangan Game of Thrones. Serial tv dari HBO tersebut secara spontan menayangkan sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">scene<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memperlihatkan gelas dengan lambang berwarna hijau. Fans yang peka melihatnya sebagai sebuah bercandaan di media sosial.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bercandaan itu tampaknya menguntungkan bagi Starbucks. Menurut Stacy Jones, CEO Sebuah Perusahaan Marketing di Hollywood, Starbucks beruntung sebab mereka mendapatkan iklan gratis yang estimasi nilainya mencapai 2,3 miliar dollar.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jones menyebutkan jika Starbucks mendapatkan lebih dari 10 ribu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di berbagai media periklanan, mulai dari media sosial, media cetak hingga televisi nasional hanya dalam waktu 48 jam. Di forum Talkwalker, pembicaraan mengenai Starbucks malah tembus sampai 198 ribu mention yang mengakibatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brand awareness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mereka meningkat pesat.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, Starbucks melakukan berbagai hal agar mereka bisa menjadi salah satu raksasa bisnis hingga saat ini. Kepopuleran mereka mungkin sedikit tersaingi oleh fenomena kedai kopi yang semakin banyak di Indonesia, mulai dari Kopi Kenangan, Lain Hati, Teman Sebangku dll.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apakah Starbucks atau kedai kopi tersebut yang bakal bertahan? Share jawaban kalian di kolom komentar yang tertera di bawah ini ya!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Strategi Pemasaran-&nbsp;Jerry Baldwin, Gordon Bowker dan Zev Siegel mempunyai dua persamaan. Mereka bertiga berasal dari Academia, dan mereka juga sama-sama menyukai minuman kopi dan teh. Kesamaan tersebut membuat mereka memutuskan untuk berinvestasi dalam bentuk sebuah toko pinggir jalanan di kota Seattle, Amerika Serikat.&nbsp; Di awal 1971, toko pertama mereka dibuka dengan fokus utama berjualan biji [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4387,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6844],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Strategi Pemasaran: Starbucks Mahal Tapi Kenapa Laku di Pasaran?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Starbucks tetap bisa laku padahal mereka disebut memiliki harga kopi yang cukup mahal. Ini dia strategi pemasaran Starbucks yang perlu kamu ketahui!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Strategi Pemasaran: Starbucks Mahal Tapi Kenapa Laku di Pasaran?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Starbucks tetap bisa laku padahal mereka disebut memiliki harga kopi yang cukup mahal. Ini dia strategi pemasaran Starbucks yang perlu kamu ketahui!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-10-28T16:03:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-30T12:14:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Ele.me1_.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Daniel Nugraha\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Daniel Nugraha\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Strategi Pemasaran: Starbucks Mahal Tapi Kenapa Laku di Pasaran?","description":"Starbucks tetap bisa laku padahal mereka disebut memiliki harga kopi yang cukup mahal. Ini dia strategi pemasaran Starbucks yang perlu kamu ketahui!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Strategi Pemasaran: Starbucks Mahal Tapi Kenapa Laku di Pasaran?","og_description":"Starbucks tetap bisa laku padahal mereka disebut memiliki harga kopi yang cukup mahal. Ini dia strategi pemasaran Starbucks yang perlu kamu ketahui!","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2019-10-28T16:03:17+00:00","article_modified_time":"2025-09-30T12:14:48+00:00","og_image":[{"width":534,"height":400,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Ele.me1_.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Daniel Nugraha","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Daniel Nugraha","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/"},"author":{"name":"Daniel Nugraha","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/472faaec0b543229ae0fef22e36a5eeb"},"headline":"Strategi Pemasaran: Cara Starbucks Menjual Kopi dengan Harga Mahal Tapi Laku di Pasaran","datePublished":"2019-10-28T16:03:17+00:00","dateModified":"2025-09-30T12:14:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/"},"wordCount":1044,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Tips Bisnis"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/","name":"Strategi Pemasaran: Starbucks Mahal Tapi Kenapa Laku di Pasaran?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2019-10-28T16:03:17+00:00","dateModified":"2025-09-30T12:14:48+00:00","description":"Starbucks tetap bisa laku padahal mereka disebut memiliki harga kopi yang cukup mahal. Ini dia strategi pemasaran Starbucks yang perlu kamu ketahui!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-bisnis\/strategi-pemasaran-starbucks\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Strategi Pemasaran: Cara Starbucks Menjual Kopi dengan Harga Mahal Tapi Laku di Pasaran"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/472faaec0b543229ae0fef22e36a5eeb","name":"Daniel Nugraha","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c84d3e292a8c817669eef7d7c810e25a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c84d3e292a8c817669eef7d7c810e25a?s=96&d=mm&r=g","caption":"Daniel Nugraha"},"description":"Seorang Penulis &amp; SEO Specialist dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di industri media, bisnis &amp; ekonomi, dengan hobi yang berbeda dari lainnya yakni riset terkait topik bisnis dan juga ekonomi serta sering kali difitur di berbagai media atas hasil tulisan seputar release dan kabar bisnis","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/daniel\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4386"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4386"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4386\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30196,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4386\/revisions\/30196"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4387"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}