{"id":31761,"date":"2025-10-30T16:08:53","date_gmt":"2025-10-30T09:08:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=31761"},"modified":"2025-11-06T15:02:52","modified_gmt":"2025-11-06T08:02:52","slug":"paper-unfold-pewaris-vs-perintis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/","title":{"rendered":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?"},"content":{"rendered":"\n<p>Membangun bisnis dari nol atau meneruskan warisan keluarga, mana yang lebih sulit?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan itu jadi pembuka hangat dalam sesi panel <strong>Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision) <\/strong>di <strong><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/event-paper-id\/paper-unfold-2025\/\">Paper UNFOLD 2025<\/a><\/strong> yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Oktober 2025 kemarin.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di atas panggung, dua sosok dengan latar kontras hadir berbagi cerita, yakni <strong>Edward Tirtanata<\/strong>, Co-Founder &amp; CEO Kopi Kenangan, dan <strong>Andrew Susanto<\/strong>, <em>owner<\/em> dari Pusat Gadai Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka datang dari dua dunia yang berbeda, satu adalah perintis yang membangun bisnis dari nol, satu lagi adalah pewaris yang menakhodai perusahaan besar dengan lebih dari seribu cabang di seluruh Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, keduanya punya benang merah yang sama: adaptasi, ketekunan, dan visi untuk terus berkembang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menjadi_Pewaris_atau_Perintis_Mana_yang_Lebih_Sulit\"><\/span><strong>Menjadi Pewaris atau Perintis, Mana yang Lebih Sulit?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"689\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-1024x689.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-31764\" srcset=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-1024x689.webp 1024w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-300x202.webp 300w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-768x517.webp 768w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-1536x1033.webp 1536w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05697-2048x1378.webp 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Oza Rangkuti sebagai moderator membuka percakapan dengan candaan ringan soal \u201c<em>berapa besar omzet Pusat Gadai Indonesia<\/em>\u201d kepada Andrew Susanto, yang langsung disambut tawa penonton.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, begitu masuk ke inti diskusi, Edward Tirtanata dengan jujur mengakui, menjadi pewaris justru tidak semudah yang orang bayangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kalau jadi pewaris, kita masuk ke perusahaan yang sudah puluhan tahun berjalan, sudah punya \u2018raja-raja kecil\u2019 di dalamnya. Kita datang sebagai generasi baru, masih muda, dan harus membuktikan diri di tengah sistem yang sudah mapan, itu jauh lebih sulit daripada membangun dari nol<\/em>,\u201d ujar Edward.<\/p>\n\n\n\n<p>Edward kemudian menimpali dengan perspektif berbeda dari sisi perintis. Sebagai pendiri Kopi Kenangan, ia justru bersyukur bisa membangun budaya kerja dari awal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kalau di startup, kita bisa ciptakan kultur sendiri, ganti tim kalau nggak cocok, dan menyesuaikan ritme sesuai fase bisnis, dari 1 ke 10, dari 10 ke 100. Tapi jadi pewaris, semua sudah terbentuk, dan kita harus bisa adaptasi dengan hal yang sudah ada<\/em>,\u201d kata Edward.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Edward, kuncinya ada di adaptasi. Dunia berubah cepat, dan satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kopi_Kenangan_Dari_Teh_ke_Ribuan_Toko_Kopi\"><\/span><strong>Kopi Kenangan: Dari Teh ke Ribuan Toko Kopi<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"684\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-1024x684.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-31768\" srcset=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-1024x684.webp 1024w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-300x200.webp 300w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-768x513.webp 768w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-1536x1026.webp 1536w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05682-2048x1368.webp 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Saat ditanya soal perjalanan awalnya, Edward tersenyum mengenang masa-masa jatuh bangun. Sebelum mendirikan Kopi Kenangan, ia sempat terjun di bisnis komoditas, lalu membangun brand teh Lewis &amp; Carroll.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Waktu itu saya lihat banyak caf\u00e9, tapi nggak ada yang fokus jual teh. Akhirnya saya bikin sendiri. Tapi ternyata, market-nya kecil. Sementara kopi justru booming<\/em>,\u201d kenangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari pengamatan sederhana itu, lahirlah ide Kopi Kenangan. Edward melihat peluang di kopi berkualitas dengan harga terjangkau, konsep <em>grab-and-go<\/em>, dan operasional yang efisien. Alhasil, dalam dua tahun, Kopi Kenangan berkembang menjadi 50 gerai. Kini, mereka sudah punya lebih dari 1.200 outlet di enam negara.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Semuanya dimulai dari ide sederhana. Tapi yang bikin bertahan itu bukan cuma ide, tapi kemampuan adaptasi dan eksekusi. Bisnis itu bisa dikopi, tapi yang nggak bisa dikopi adalah execution and team<\/em>,\u201d tegas Edward.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Skalabilitas_dan_Tantangan_Mengelola_Ribuan_Cabang\"><\/span><strong>Skalabilitas dan Tantangan Mengelola Ribuan Cabang<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"684\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-1024x684.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-31771\" srcset=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-1024x684.webp 1024w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-300x200.webp 300w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-768x513.webp 768w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-1536x1026.webp 1536w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05693_11zon-2048x1368.webp 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Andrew mengangguk setuju. Di Pusat Gadai Indonesia, tantangannya justru bukan soal modal atau peluang, tapi manajemen skala besar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Tahun ini saja kami buka 400 outlet baru. Tapi saya nggak bisa asal buka seribu sekaligus, bukan karena uangnya nggak ada, tapi karena management skill saya belum cukup. Untuk buka seribu outlet, budaya, kepala cabang, dan sistemnya semua harus kuat dulu<\/em>,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Edward pun menambahkan bahwa di Kopi Kenangan, ekspansi dilakukan dengan prinsip yang sama, yaitu <em>growth<\/em> yang terukur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Speed itu penting, tapi ada risikonya. Kalau terlalu cepat, bisa kehilangan kontrol. Jadi kita buka sesuai kapasitas tim. Setelah 1000 outlet, fokusnya bukan lagi cari lokasi baru, tapi mengoptimalkan manajemen dan ekspansi ke negara lain<\/em>,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teknologi_dan_AI_Antara_Harapan_dan_Realita\"><\/span><strong>Teknologi dan AI: Antara Harapan dan Realita<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Topik beralih ke teknologi. Bagaimana dua bisnis besar ini beradaptasi di era AI?<\/p>\n\n\n\n<p>Edward mengaku, Kopi Kenangan sudah mencoba mengimplementasikan AI di beberapa area, seperti <em>cash record<\/em> dan <em>customer service<\/em>. Tapi hasilnya masih belum optimal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kita pernah coba AI buat monitor cash record. Awalnya oke, tapi ternyata error-nya banyak. Untuk sekarang, anak magang malah lebih efisien<\/em>,\u201d katanya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski begitu, Edward mengakui AI tetap punya potensi besar, terutama di bidang desain dan konten.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kita pakai Midjourney untuk desain visual dan ChatGPT buat ide campaign. Tapi kalau sampai menggantikan manusia secara penuh, masih jauh<\/em>,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Andrew punya pendekatan berbeda. Di Pusat Gadai Indonesia, AI justru jadi senjata utama untuk menentukan lokasi cabang baru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kami sudah pakai AI untuk mapping seluruh Indonesia. AI kami bisa memprediksi revenue outlet baru sampai bulan ke-13 dengan akurasi 96%. Jadi sekarang, keputusan buka cabang sudah otomatis dari sistem<\/em>,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, mereka juga menggunakan chatbot berbasis AI untuk layanan pelanggan, tapi tetap dengan campur tangan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Saya nggak suka chatbot 100%. Orang masih lebih nyaman kalau dijawab manusia. Jadi kami pakai hybrid: bot untuk filter, lalu disambung ke staf<\/em>,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tentang_Kejujuran_Karyawan_dan_Cara_Mencegah_%E2%80%9CKecolongan%E2%80%9D\"><\/span><strong>Tentang Kejujuran, Karyawan, dan Cara Mencegah \u201cKecolongan\u201d<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Salah satu pertanyaan dari audiens yang menarik datang dari peserta bernama Selvi: bagaimana cara mencegah pencurian di cabang atau outlet?<\/p>\n\n\n\n<p>Edward menjelaskan bahwa sistem kontrol internal jadi hal utama di Kopi Kenangan. Mulai dari POS system, CCTV di belakang kasir, hingga aturan store-in kas setiap 12 jam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Yang paling penting itu cash control. Semua transaksi harus masuk ke sistem. Kalau ada minuman tanpa stiker nama dari sistem, itu tanda ada yang \u2018hilang\u2019,<\/em>\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Andrew menambahkan dari sisi rekrutmen. Ia percaya karakter bisa terlihat dari hal-hal sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Sebelum rekrut, saya selalu cek GetContact dan media sosial calon karyawan. Kalau nomornya baru dan banyak kontak dihapus, itu udah tanda tanya,<\/em>\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Intinya, jangan jadikan ketakutan itu alasan untuk nggak mulai bisnis. Jalan aja dulu, nanti sambil belajar.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pesan_untuk_Pewaris_dan_Perintis\"><\/span><strong>Pesan untuk Pewaris dan Perintis<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Menjelang akhir sesi, Oza menanyakan satu hal sederhana: apa nilai utama yang harus dijaga, baik oleh pewaris maupun perintis?<\/p>\n\n\n\n<p>Andrew menjawab dengan reflektif:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Kalau kamu pewaris, uang bukan lagi tujuan utama. Fokuslah bikin nilai baru buat dunia. Jangan halalkan segala cara untuk kaya. Duitmu sudah cukup \u2014 sekarang waktunya kamu bikin impact<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Edward melanjutkan:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>Yang penting itu micro improvement. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, meskipun cuma 0,1%. Kalau setiap hari kita berkembang, sekecil apa pun, kita sudah menang<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan begitu, keduanya sepakat, baik pewaris maupun perintis, kunci utamanya tetap sama yakni kerja keras, adaptasi, dan kemauan belajar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Visi_yang_Sama_Jalan_yang_Berbeda\"><\/span><strong>Visi yang Sama, Jalan yang Berbeda<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Sesi Pewaris x Perintis membuktikan satu hal penting bahwa kesuksesan bisnis tidak ditentukan oleh dari mana kamu mulai, tapi bagaimana kamu beradaptasi dan terus belajar.<\/p>\n\n\n\n<p>Andrew menutup dengan kalimat yang disambut tepuk tangan panjang, \u201c<em>Mau pewaris atau perintis, sama-sama gampang. Asal mau kerja.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara Edward menambahkan dengan senyum khasnya, \u201c<em>Yang susah itu kalau kamu berhenti belajar.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sesi panel Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), satu hal jadi jelas bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh dari mana kamu memulai, melainkan bagaimana kamu beradaptasi dan terus belajar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Baik Andrew Susanto maupun Edward Tirtanata sama-sama menegaskan bahwa dunia bisnis hari ini bukan lagi tentang siapa yang lebih dulu, tapi siapa yang mampu beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Teknologi, data, hingga kecerdasan buatan hanya akan jadi alat jika tidak diimbangi dengan visi, ketekunan, dan integritas. Di tengah kompleksitas membangun atau mewarisi bisnis, yang dibutuhkan bukan sekadar kecepatan, tapi ketepatan dalam mengelola sistem dan tim agar bisnis bisa terus tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/\">Paper<\/a><\/strong> bisa menjadi mitra baik bagi kamu pewaris maupun perintis untuk mengelola bisnis dengan lebih efisien dan transparan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui sistem <em>invoicing<\/em>, pembayaran digital, pencatatan otomatis, hingga rekonsiliasi <em>real-time<\/em>, Paper membantu pelaku usaha dari berbagai skala menjaga arus kas tetap sehat dan operasional lebih terkontrol.<\/p>\n\n\n\n<p>Yuk, gunakan Paper sekarang juga!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-2 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\"><a class=\"wp-block-button__link has-white-color has-text-color has-background wp-element-button\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/webappv1\/#\/register?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=unfold_pewaris_perintis\" style=\"background-color:#4195d5\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><strong>Coba Paper Gratis<\/strong><\/a><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membangun bisnis dari nol atau meneruskan warisan keluarga, mana yang lebih sulit?&nbsp; Pertanyaan itu jadi pembuka hangat dalam sesi panel Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision) di Paper UNFOLD 2025 yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Oktober 2025 kemarin.&nbsp; Di atas panggung, dua sosok dengan latar kontras hadir berbagi cerita, yakni Edward Tirtanata, Co-Founder &amp; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":31773,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[137],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Simak detail panel Paper UNFOLD 2025, meliputi dua sisi pebisnis yang merupakan Pewaris dan Perintis, dimoderatori oleh Oza Rangkuti.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Simak detail panel Paper UNFOLD 2025, meliputi dua sisi pebisnis yang merupakan Pewaris dan Perintis, dimoderatori oleh Oza Rangkuti.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper.id | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-30T09:08:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-06T08:02:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05698_11zon-scaled.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1710\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nadiyah Rahmalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Nadiyah Rahmalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?","description":"Simak detail panel Paper UNFOLD 2025, meliputi dua sisi pebisnis yang merupakan Pewaris dan Perintis, dimoderatori oleh Oza Rangkuti.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?","og_description":"Simak detail panel Paper UNFOLD 2025, meliputi dua sisi pebisnis yang merupakan Pewaris dan Perintis, dimoderatori oleh Oza Rangkuti.","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/","og_site_name":"Paper.id | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2025-10-30T09:08:53+00:00","article_modified_time":"2025-11-06T08:02:52+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1710,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/LIX05698_11zon-scaled.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Nadiyah Rahmalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Nadiyah Rahmalia","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/"},"author":{"name":"Nadiyah Rahmalia","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/99ccd74b5eedff35a762def8b34e89f4"},"headline":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?","datePublished":"2025-10-30T09:08:53+00:00","dateModified":"2025-11-06T08:02:52+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/"},"wordCount":1195,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Acara"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/","name":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2025-10-30T09:08:53+00:00","dateModified":"2025-11-06T08:02:52+00:00","description":"Simak detail panel Paper UNFOLD 2025, meliputi dua sisi pebisnis yang merupakan Pewaris dan Perintis, dimoderatori oleh Oza Rangkuti.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/paper-unfold-pewaris-vs-perintis\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pewaris vs Perintis (The Battle of Vision), Mana yang Lebih Sulit?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper.id | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/99ccd74b5eedff35a762def8b34e89f4","name":"Nadiyah Rahmalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c1e1bfb72c6347304a9eb0a484df3391?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c1e1bfb72c6347304a9eb0a484df3391?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nadiyah Rahmalia"},"description":"Content Writer dengan 4 tahun pengalaman menangani konten beragam topik di berbagai industri baik B2C dan B2B, termasuk bisnis, ekonomi, keuangan, dan sebagainya. Saat ini menulis di Paper.id untuk memperkaya wawasan pemilik bisnis dan memajukan industri B2B seluruh Indonesia.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/nadiyahrf\/"],"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/nadiyah\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31761"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31761"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31761\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31772,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31761\/revisions\/31772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}