{"id":28406,"date":"2025-06-26T12:44:44","date_gmt":"2025-06-26T05:44:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=28406"},"modified":"2025-09-22T17:46:47","modified_gmt":"2025-09-22T10:46:47","slug":"rekonsiliasi-fiskal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/","title":{"rendered":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian dan Contoh Perhitungan"},"content":{"rendered":"\n<p>Tiap akhir tahun, mungkin kamu salah satu pebisnis yang sering kali dibuat pusing saat menyusun laporan pajak, khususnya saat harus menghitung PPh Badan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu proses yang sering bikin bingung adalah rekonsiliasi fiskal\u2014kenapa laporan laba rugi yang disusun perusahaan tidak selalu sama dengan laporan yang diakui pajak? Nah, di sinilah rekonsiliasi fiskal berperan penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/rekonsiliasi-adalah\/\">rekonsiliasi <\/a>ini membantu menyesuaikan laporan keuangan komersial dengan ketentuan perpajakan yang berlaku, supaya perhitungan pajak jadi tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk kamu yang masih bingung soal apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya, berikut pembahasan mulai dari pengertiannya sampai contoh perhitungannya!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Apa_itu_Rekonsiliasi_Fiskal_PPh_Badan\"><\/span><strong>Apa itu Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Rekonsiliasi fiskal adalah proses penyesuaian atas perbedaan antara laporan keuangan komersial yang dibuat oleh perusahaan dan laporan keuangan versi fiskal sesuai aturan perpajakan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Rekonsiliasi fiskal bisa dibilang sebagai proses yang cukup <em>tricky<\/em> dalam dunia perpajakan\u2014terlihat sederhana, tapi tetap butuh pemahaman yang tepat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cara terbaik untuk memahaminya adalah dengan langsung melihat studi kasus rekonsiliasi fiskal PPh Badan agar pelaporan pajak online jadi lebih mudah.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi kamu sebagai Wajib Pajak (WP) Badan, proses ini merupakan bagian yang hampir selalu ditemui saat menyusun laporan pajak.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, penting untuk memahami cara menghitung rekonsiliasi fiskal dalam laporan keuangan perusahaan, agar pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Badan bisa dilakukan dengan lancar dan tanpa kendala.<\/p>\n\n\n\n<p>Agar lebih mudah, kamu bisa memanfaatkan fitur <strong><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/laporan-keuangan.php\">laporan keuangan<\/a><\/strong> dari Paper.id. Platform ini memudahkan kamu membuat laporan keuangan secara otomatis dan rapi, sehingga proses rekonsiliasi fiskal pun jadi lebih praktis.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, semua data transaksi bisnis kamu tercatat secara <em>real-time<\/em> dan bisa langsung digunakan untuk keperluan perpajakan. Jadi praktis, bukan?<\/p>\n\n\n\n<p>Yuk, cari tahu selengkapnya mengenai fitur laporan keuangan<strong> <\/strong>dari Paper.id dengan cara klik tombol di bawah ini!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-2 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\" style=\"text-align:center\"><a class=\"wp-block-button__link has-white-color has-text-color has-background wp-element-button btn btn__dark\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/webappv1\/#\/register?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=rekonsiliasi_fiskal&amp;utm_content=cta_button\" style=\"background-color:#4195d5\"><div class=\"btn__content\"><div class=\"btn__label\">Gunakan Paper.id Sekarang<\/div><svg class=\"btn__icon --1 hidden has-hover:block\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><svg class=\"btn__icon --2\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><\/div><\/a><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/contoh-rekonsiliasi-bank\/\">4 Contoh Rekonsiliasi Bank, Lengkap dengan Cara Mudah Membuatnya<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Langkah-Langkah_Rekonsiliasi_Fiskal\"><\/span><strong>Langkah-Langkah Rekonsiliasi Fiskal<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Untuk melakukan rekonsiliasi fiskal PPh Badan, berikut langkah-langkahnya:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Mulai_dari_Laba_Sebelum_Pajak_Komersial\"><\/span>1. Mulai dari Laba Sebelum Pajak Komersial<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Data ini diambil dari laporan laba rugi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Identifikasi_Koreksi_Fiskal_Positif\"><\/span>2. Identifikasi Koreksi Fiskal Positif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Biaya yang tidak diperbolehkan menurut pajak (misalnya: PPh 21 ditanggung perusahaan, biaya pribadi) ditambahkan ke laba komersial.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Identifikasi_Koreksi_Fiskal_Negatif\"><\/span>3. Identifikasi Koreksi Fiskal Negatif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Pendapatan yang dikenakan pajak final atau yang sudah dikenakan pajak di luar, serta beban yang diakui fiskal tapi belum diakui secara komersial, dikurangkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Hitung_Penghasilan_Kena_Pajak_PKP\"><\/span>4. Hitung Penghasilan Kena Pajak (PKP)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Laba sebelum pajak + koreksi fiskal positif \u2013 koreksi fiskal negatif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Hitung_PPh_Badan_Terutang\"><\/span>5. Hitung PPh Badan Terutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Gunakan tarif PPh Badan (umumnya 22%\u201325%), dikurangi kredit pajak (PPh 22, 23, 24, dan angsuran Pasal 25).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/bisnis\/apa-itu-rekonsiliasi-bank\/\">Apa itu Rekonsiliasi Bank? Begini Prosedur dan Bentuknya<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Perhitungan_Rekonsiliasi_Fiskal\"><\/span><strong>Contoh Perhitungan Rekonsiliasi Fiskal<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Misalnya, PT AAA memiliki laba sebelum pajak komersial sebesar Rp 42.934.000.000. Berikut adalah beberapa koreksi fiskal yang dilakukan:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Koreksi_Fiskal_Positif\"><\/span>Koreksi Fiskal Positif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>1. Retur Penjualan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Di laporan komersial: Rp 15 miliar<\/li>\n\n\n\n<li>Realisasi fiskal: Rp 11,25 miliar<\/li>\n\n\n\n<li>Koreksi: Rp 3,75 miliar (tidak dapat dikurangkan)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>2. Penyusutan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Menurut fiskal: Rp 9,8425 miliar<\/li>\n\n\n\n<li>Menurut komersial: Rp 9,075 miliar<\/li>\n\n\n\n<li>Koreksi: Rp 767,5 juta<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>3. Biaya Tunjangan &amp; Gaji<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>PPh 21 ditanggung perusahaan, biaya sopir, dan asisten rumah tangga<\/li>\n\n\n\n<li>Koreksi: Rp 2,125 miliar<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>4. Biaya Pribadi dan Tidak Wajar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Contoh: perawatan kendaraan bos, listrik rumah direksi, pelatihan anak pemilik<\/li>\n\n\n\n<li>Koreksi: \u00b1 Rp 500 juta\u20131 miliar (tergantung kebijakan fiskal)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>5. Pendapatan Bruto<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Dividen dan sewa dicatat dalam nilai neto di laporan komersial<\/li>\n\n\n\n<li>Disesuaikan menjadi bruto sesuai fiskal \u2192 koreksi positif: Rp 52,5 juta<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perhitungan_PPh_Badan_Terutang\"><\/span>Perhitungan PPh Badan Terutang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Dengan asumsi tarif PPh Badan 25%, maka:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>PPh Terutang: 25% \u00d7 Rp 50.286.000.000 = Rp 12.571.500.000<\/li>\n\n\n\n<li>Dikurangi:<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul>\n<li>PPh Pasal 22, 23, 24: Rp 441.900.000<\/li>\n\n\n\n<li>Angsuran PPh Pasal 25: Rp 7.200.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Sisa Kurang Bayar<\/strong> = Rp 12.571.500.000 \u2013 (Rp 441.900.000 + Rp 7.200.000.000) = Rp 4.929.600.000<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/mle\/rekonsiliasi-otomatis-adalah\/\">Rekonsiliasi Otomatis: Pengertian, Proses, dan Otomatisasi<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Demikian penjelasan mengenai rekonsiliasi fiskal PPh Badan, lengkap dengan contoh perhitungannya yang mudah. Pada kesimpulannya, rekonsiliasi ini proses penting dan wajib bagi perusahaan dalam pelaporan pajak.<\/p>\n\n\n\n<p>Proses ini tidak hanya mencerminkan kepatuhan, tetapi juga membantu perusahaan menghindari kesalahan dalam perhitungan pajak terutang. Contohnya kasus PT AAA di atas menunjukkan bahwa berbagai pos dalam laporan keuangan perlu ditinjau kembali untuk menentukan penghasilan kena pajak yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Agar proses keuangan bisnismu makin tertata dari hulu ke hilir, kamu juga bisa mulai dari pencatatan yang rapi lewat fitur <em>invoicing<\/em> dan <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/digital-payment.php\">pembayaran digital<\/a> dari Paper.id.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kamu bisa buat, kirim, hingga lacak status invoice hanya dalam satu <em>dashboard<\/em>. Manfaatkan juga 30+ metode pembayaran, mulai dari transfer bank, kartu kredit, QRIS, hingga <em>marketplace<\/em> untuk <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/paperpay-out.php\">bayar <em>supplier<\/em><\/a><em> <\/em>atau terima pembayaran dari <em>buyer<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua transaksi bisa tercatat otomatis dan langsung terhubung ke laporan, jadi kamu nggak perlu repot lagi saat saat waktunya rekonsiliasi fiskal atau pelaporan pajak tiba.<\/p>\n\n\n\n<p>Yuk, kelola bisnismu jadi lebih efisien dengan Paper.id sekarang!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiap akhir tahun, mungkin kamu salah satu pebisnis yang sering kali dibuat pusing saat menyusun laporan pajak, khususnya saat harus menghitung PPh Badan.&nbsp; Salah satu proses yang sering bikin bingung adalah rekonsiliasi fiskal\u2014kenapa laporan laba rugi yang disusun perusahaan tidak selalu sama dengan laporan yang diakui pajak? Nah, di sinilah rekonsiliasi fiskal berperan penting. Proses [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":28408,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7850],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian &amp; Contoh Perhitungan<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pelajari apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya untuk menyusun laporan pajak, khususnya saat menghitung PPh Badan!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian &amp; Contoh Perhitungan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pelajari apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya untuk menyusun laporan pajak, khususnya saat menghitung PPh Badan!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-26T05:44:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-22T10:46:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/fiscal-reconciliation-determin_1718261198.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Muhamad Dika Wahyudi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Muhamad Dika Wahyudi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian & Contoh Perhitungan","description":"Pelajari apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya untuk menyusun laporan pajak, khususnya saat menghitung PPh Badan!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian & Contoh Perhitungan","og_description":"Pelajari apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya untuk menyusun laporan pajak, khususnya saat menghitung PPh Badan!","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2025-06-26T05:44:44+00:00","article_modified_time":"2025-09-22T10:46:47+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/fiscal-reconciliation-determin_1718261198.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Muhamad Dika Wahyudi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Muhamad Dika Wahyudi","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/"},"author":{"name":"Muhamad Dika Wahyudi","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/5adbeaf1c49321d345b4ea82ed29daa2"},"headline":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian dan Contoh Perhitungan","datePublished":"2025-06-26T05:44:44+00:00","dateModified":"2025-09-22T10:46:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/"},"wordCount":730,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Pajak Usaha"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/","name":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian & Contoh Perhitungan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2025-06-26T05:44:44+00:00","dateModified":"2025-09-22T10:46:47+00:00","description":"Pelajari apa itu rekonsiliasi fiskal dan bagaimana cara menghitungnya untuk menyusun laporan pajak, khususnya saat menghitung PPh Badan!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/rekonsiliasi-fiskal\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Rekonsiliasi Fiskal PPh Badan: Pengertian dan Contoh Perhitungan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/5adbeaf1c49321d345b4ea82ed29daa2","name":"Muhamad Dika Wahyudi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/69252c8afe50b29832741a75ed510e8e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/69252c8afe50b29832741a75ed510e8e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Muhamad Dika Wahyudi"},"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/dika-wahyudi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28406"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28406"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28406\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28426,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28406\/revisions\/28426"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28408"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28406"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28406"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28406"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}