{"id":26971,"date":"2024-09-29T11:07:00","date_gmt":"2024-09-29T04:07:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=26971"},"modified":"2025-04-29T11:14:45","modified_gmt":"2025-04-29T04:14:45","slug":"cash-flow-indirect-method","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/","title":{"rendered":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Dalam dunia bisnis, laporan keuangan menjadi kunci utama untuk menilai kesehatan perusahaan. Salah satu komponen penting dari laporan keuangan adalah <strong>laporan arus kas<\/strong>. Laporan ini membantu kita memahami bagaimana uang bergerak masuk dan keluar dari perusahaan dalam periode tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada dua metode umum yang digunakan untuk menyusun laporan arus kas, yaitu <strong>direct method<\/strong> dan <strong>indirect method<\/strong>. Di antara keduanya, <strong>cash flow indirect method<\/strong> lebih sering digunakan karena lebih praktis dan mudah disusun berdasarkan laporan laba rugi dan neraca yang sudah ada.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cash flow indirect method? Bagaimana rumus dasarnya, cara menghitungnya, dan seperti apa contoh penerapannya? Mari kita bahas satu per satu di artikel ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/apa-itu-cash-flow\/\">Cash Flow: Definisi, Jenis, Contoh, dan Pentingnya untuk Bisnis<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Apa_Itu_Cash_Flow_Indirect_Method\"><\/span>Apa Itu Cash Flow Indirect Method?<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Cash flow indirect method<\/strong> adalah metode penyusunan laporan arus kas yang dimulai dari laba bersih, lalu disesuaikan dengan transaksi non-kas dan perubahan aset serta kewajiban lancar. Dengan kata lain, metode ini mengubah data laba rugi berbasis akrual menjadi arus kas berbasis kas.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbeda dengan direct method yang mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran kas secara langsung, pada indirect method kita <strong>tidak<\/strong> melacak transaksi kas satu per satu. Sebaliknya, kita cukup melakukan penyesuaian terhadap laba bersih untuk menghitung berapa sebenarnya kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tujuan penggunaan cash flow indirect method<\/strong> adalah untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Memudahkan perusahaan menyusun laporan arus kas karena sumber datanya sudah tersedia dari laporan laba rugi dan neraca.<\/li>\n\n\n\n<li>Menunjukkan hubungan antara laba bersih dan arus kas bersih dari aktivitas operasi.<\/li>\n\n\n\n<li>Memberikan insight tentang bagaimana perubahan dalam akun-akun neraca memengaruhi kas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Karena lebih praktis dan hemat waktu, <strong>mayoritas perusahaan<\/strong>, khususnya yang sudah go public memilih menggunakan metode tidak langsung ini dalam pelaporan keuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rumus_Menghitung_Cash_Flow_Indirect_Method\"><\/span>Rumus Menghitung Cash Flow Indirect Method<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Setelah memahami pengertiannya, kini saatnya kita masuk ke <strong>bagaimana rumus dasar<\/strong> dari cash flow indirect method.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada metode ini, laporan arus kas disusun dengan <strong>memulai dari laba bersih<\/strong>, lalu melakukan <strong>penyesuaian<\/strong> terhadap:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Transaksi non-kas (seperti penyusutan dan amortisasi),<\/li>\n\n\n\n<li>Perubahan aset lancar (seperti piutang usaha dan persediaan),<\/li>\n\n\n\n<li>Perubahan kewajiban lancar (seperti utang usaha dan beban yang masih harus dibayar).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Secara sederhana, rumusnya dapat dituliskan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>Arus Kas Operasi = Laba Bersih<br><strong>+ Penyesuaian Item Non-Kas<\/strong><br><strong>+ (Penurunan Aset Lancar atau Kenaikan Kewajiban Lancar)<\/strong><br><strong>&#8211; (Kenaikan Aset Lancar atau Penurunan Kewajiban Lancar)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan komponen dalam rumus:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Laba Bersih<\/strong>: Hasil dari laporan laba rugi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Item Non-Kas<\/strong>: Transaksi yang tidak mempengaruhi kas, misalnya penyusutan aset tetap atau amortisasi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Perubahan Aset dan Kewajiban Lancar<\/strong>: Menunjukkan penggunaan atau penerimaan kas dari aktivitas operasi sehari-hari.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Menghitung_Cash_Flow_Indirect_Method\"><\/span>Cara Menghitung Cash Flow Indirect Method<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Setelah mengetahui rumus dasarnya, kini mari kita bahas <strong>cara menghitung cash flow<\/strong> menggunakan indirect method secara langkah demi langkah.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, proses perhitungannya melibatkan tiga tahap utama:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Mulai_dari_Laba_Bersih\"><\/span>1. Mulai dari Laba Bersih<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Langkah pertama adalah mengambil <strong>laba bersih<\/strong> dari laporan laba rugi periode tersebut. Ini menjadi dasar awal dalam menghitung arus kas dari aktivitas operasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p>Laba bersih perusahaan sebesar <strong>Rp 100 juta<\/strong>.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Tambahkan_atau_Kurangkan_Item_Non-Kas\"><\/span>2. Tambahkan atau Kurangkan Item Non-Kas<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah mendapatkan laba bersih, lakukan <strong>penyesuaian<\/strong> terhadap transaksi yang <strong>tidak mempengaruhi kas<\/strong>, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Tambah<\/strong> penyusutan, amortisasi, kerugian penjualan aset.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kurangi<\/strong> keuntungan dari penjualan aset.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p>Penyusutan aset tetap sebesar <strong>Rp 10 juta<\/strong> \u2192 <strong>Ditambahkan<\/strong> ke laba bersih.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Sesuaikan_Perubahan_Aset_dan_Kewajiban_Lancar\"><\/span>3. Sesuaikan Perubahan Aset dan Kewajiban Lancar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Langkah berikutnya adalah melakukan penyesuaian berdasarkan <strong>perubahan dalam aset dan kewajiban lancar<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Penurunan aset lancar<\/strong> \u2192 Tambahkan ke arus kas.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kenaikan aset lancar<\/strong> \u2192 Kurangi dari arus kas.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kenaikan kewajiban lancar<\/strong> \u2192 Tambahkan ke arus kas.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Penurunan kewajiban lancar<\/strong> \u2192 Kurangi dari arus kas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Piutang usaha naik Rp 5 juta<\/strong> \u2192 <strong>Kurangkan<\/strong> Rp 5 juta.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Utang usaha naik Rp 7 juta<\/strong> \u2192 <strong>Tambahkan<\/strong> Rp 7 juta.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Cash_Flow_Indirect_Method\"><\/span>Contoh Cash Flow Indirect Method<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat contoh sederhana penerapan cash flow indirect method.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Studi_Kasus\"><\/span>Studi Kasus:<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Sebuah perusahaan melaporkan data keuangan berikut untuk tahun 2024:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Laba Bersih<\/strong>: Rp 100.000.000<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Penyusutan Aset Tetap<\/strong>: Rp 10.000.000<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Piutang Usaha<\/strong> meningkat sebesar Rp 5.000.000<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Persediaan Barang Dagangan<\/strong> meningkat sebesar Rp 3.000.000<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Utang Usaha<\/strong> meningkat sebesar Rp 7.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Langkah_Perhitungan\"><\/span>Langkah Perhitungan:<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>1. Mulai dari Laba Bersih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Laba Bersih = Rp 100.000.000<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Tambahkan Item Non-Kas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penyusutan = Rp 10.000.000<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Sesuaikan Perubahan Aset dan Kewajiban Lancar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Kenaikan <strong>piutang usaha<\/strong> mengurangi kas \u2192 kurangkan Rp 5.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Kenaikan <strong>persediaan<\/strong> mengurangi kas \u2192 kurangkan Rp 3.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Kenaikan <strong>utang usaha<\/strong> menambah kas \u2192 tambahkan Rp 7.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>4. Hitung Arus Kas dari Aktivitas Operasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Arus Kas Operasi = 100 juta + 10 juta &#8211; 5 juta &#8211; 3 juta + 7 juta<br>= Rp 109.000.000<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan contoh ini, kamu bisa melihat bagaimana <strong>cash flow indirect method<\/strong> mengubah laba bersih menjadi arus kas riil yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dari operasi sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Cash flow indirect method adalah salah satu cara praktis untuk menyusun laporan arus kas dengan memanfaatkan data dari laba rugi dan neraca. Dengan memulai dari laba bersih, lalu melakukan penyesuaian terhadap item non-kas dan perubahan aset serta kewajiban lancar, kita bisa mendapatkan gambaran nyata tentang seberapa sehat arus kas operasi sebuah perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Memahami metode ini sangat penting, terutama bagi kamu yang ingin menganalisis keuangan perusahaan secara lebih akurat dan efisien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam dunia bisnis, laporan keuangan menjadi kunci utama untuk menilai kesehatan perusahaan. Salah satu komponen penting dari laporan keuangan adalah laporan arus kas. Laporan ini membantu kita memahami bagaimana uang bergerak masuk dan keluar dari perusahaan dalam periode tertentu. Ada dua metode umum yang digunakan untuk menyusun laporan arus kas, yaitu direct method dan indirect [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":26979,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6449],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus dan Contohnya<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pelajari pengertian cash flow indirect method, rumus, cara menghitung, hingga contoh praktisnya dalam laporan arus kas perusahaan.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus dan Contohnya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pelajari pengertian cash flow indirect method, rumus, cara menghitung, hingga contoh praktisnya dalam laporan arus kas perusahaan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-29T04:07:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-04-29T04:14:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/pexels-tima-miroshnichenko-6694543.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"427\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Alfian Dimas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Alfian Dimas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus dan Contohnya","description":"Pelajari pengertian cash flow indirect method, rumus, cara menghitung, hingga contoh praktisnya dalam laporan arus kas perusahaan.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus dan Contohnya","og_description":"Pelajari pengertian cash flow indirect method, rumus, cara menghitung, hingga contoh praktisnya dalam laporan arus kas perusahaan.","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2024-09-29T04:07:00+00:00","article_modified_time":"2025-04-29T04:14:45+00:00","og_image":[{"width":640,"height":427,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/pexels-tima-miroshnichenko-6694543.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Alfian Dimas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Alfian Dimas","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/"},"author":{"name":"Alfian Dimas","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/89b404f7f6df31ed0311dbd27bf10fd8"},"headline":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya","datePublished":"2024-09-29T04:07:00+00:00","dateModified":"2025-04-29T04:14:45+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/"},"wordCount":800,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Akuntansi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/","name":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus dan Contohnya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2024-09-29T04:07:00+00:00","dateModified":"2025-04-29T04:14:45+00:00","description":"Pelajari pengertian cash flow indirect method, rumus, cara menghitung, hingga contoh praktisnya dalam laporan arus kas perusahaan.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/akuntansi\/cash-flow-indirect-method\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cash Flow Indirect Method: Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/89b404f7f6df31ed0311dbd27bf10fd8","name":"Alfian Dimas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/42afe76eff4ffbb49ba8f9b9712c5c2c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/42afe76eff4ffbb49ba8f9b9712c5c2c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Alfian Dimas"},"description":"Seorang SEO Specialist &amp; Content Writer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di beragam industri seperti OTT (Over The Top), Hukum, Kesehatan, &amp; e-Commerce. Saat ini bereda di industri B2B untuk memperluas wawasan terkait bisnis.","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/alfian\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26971"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26971"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26980,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26971\/revisions\/26980"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}