{"id":25359,"date":"2025-02-26T14:48:18","date_gmt":"2025-02-26T07:48:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=25359"},"modified":"2025-09-22T17:44:49","modified_gmt":"2025-09-22T10:44:49","slug":"seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/","title":{"rendered":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!"},"content":{"rendered":"\n<p>Cara hitung DPP (Dasar Pengenaan Pajak) cukup penting bagi para wajib pajak. Seperti yang diketahui bahwa pajak adalah salah satu kewajiban wajib pajak yang diatur dalam Undang-Undang. <\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam praktiknya, setoran pajak ini bisa beraneka ragam, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penghasilan (PPh).<\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan DPP ini jadi pembahasan pada artikel ini sangat penting dipahami. Dengan mengetahui DPP, pengguna bisa memahami total transaksi dan nominal pajak yang perlu dibayarkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Apa_Itu_Dasar_Pengenaan_Pajak_DPP\"><\/span><strong>Apa Itu Dasar Pengenaan Pajak (DPP)?<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Dasar Pengenaan Pajak (DPP) adalah jumlah yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung pajak terutang, seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks PPN, DPP mencakup harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan.<\/p>\n\n\n\n<p>PPN dikenakan atas konsumsi barang dan jasa di dalam negeri, ketika beban pajaknya ditanggung oleh konsumen akhir. <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, DPP untuk PPh berkaitan dengan penghasilan yang diterima oleh individu atau badan usaha. <\/p>\n\n\n\n<p>PPh dikenakan langsung pada pihak yang memperoleh penghasilan tersebut. Dengan begitu, meskipun keduanya menggunakan konsep DPP, PPN dan PPh memiliki objek dan mekanisme pengenaan pajak berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/kebijakan-pph-terbaru\/\">Kebijakan PPh 0,5 Terbaru untuk UMKM, Seperti Apa? Yuk, Pahami!<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Agar invoicing dan pencatatan bisnis makin rapi, kamu bisa gunakan Paper.id. Dengan Paper.id, kamu dapat membuat invoice digital dalam 5 menit saja. Nantinya, informasi transaksi akan langsung tersimpan dan direkap dalam bentuk laporan keuangan sederhana yang rapi.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, laporan keuangan dan catatan ini sangat penting untuk melaporkan pajak di kemudian hari. Pada saat itu terjadi, kamu tidak jadi perlu kesulitan untuk merekap data bisnis.<\/p>\n\n\n\n<p>Yuk, pelajari Paper.id selengkpanya dengan <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/akuntansi-gratis.php?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=perhitungan_dpp\">klik di sini!<\/a> Lalu, daftarkan bisnismu secara gratis untuk juga menikmati transaksi bisnis di Paper.id dengan 30+ opsi pembayaran, mulai dari transfer bank, QRIS, Virtual Account, <em>e-wallet<\/em>, <em>marketplace<\/em>, dan juga kartu kredit!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-2 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\" style=\"text-align:center\"><a class=\"wp-block-button__link has-white-color has-text-color has-background wp-element-button btn btn__dark\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/webappv1\/#\/register?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=perhitungan_dpp&amp;utm_content=cta_button\" style=\"background-color:#4195d5\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><div class=\"btn__content\"><div class=\"btn__label\">Daftar Paper.id Gratis!<\/div><svg class=\"btn__icon --1 hidden has-hover:block\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><svg class=\"btn__icon --2\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><\/div><\/a><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jenis-Jenis_DPP\"><\/span><strong>Jenis-Jenis DPP<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Seperti yang sudah disebutkan bahwa DPP umumnya ada dalam PPN dan PPH. Maka dari itu, beberapa jenis DPP berdasarkan jenis pajaknya adalah sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_DPP_PPh\"><\/span>1. DPP PPh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>DPP PPh adalah dasar pengenaan pada pajak penghasilan. Ada beberapa jenis DPP PPh yang perlu kamu ketahui, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>PPh 21: <\/strong>Bagian dari penghasilan wajib pajak yang dikenakan tarif pajak PPh 21. Artinya, besaran pajak adalah hasil kali DPP dengan tarif pajak.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>PPh 22 atau nilai impor: <\/strong>Nilai uang yang jadi dasar dalam penghitungan bea masuk. Ditambah dengan pungutan lain yang dikenakan pajak sesuai Undang-Undang Pabean untuk impor Barang Kena Pajak. Nilai impor ini tidak termasuk PPN yang dipungut menurut UU PPN.<\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/product-content\/pph-23\/\"><strong>PPh 23:<\/strong> <\/a>Nilai atas imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain yang dipotong dari jumlah bruto tidak termasuk PPN.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>PPh 26: <\/strong>Terbagi menjadi tiga jenis DPP PPh 26, yaitu didasarkan pada jumlah penghasilan bruto dan penghasilan neto.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>PPh 15:<\/strong> Norma penghitungan khusus penghasilan neto, yakni 4% dari peredaran bruto. Besarnya PPh yang terutang adalah 1,2% dari peredaran bruto dan bersifat final.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>PPh 4 Ayat (2): <\/strong>Pemotongan atas penghasilan yang dibayarkan atas jasa tertentu dan sumber tertentu. Contohnya seperti jasa konstruksi, sewa tanah\/bangunan, pengalihan hak atas tanah\/bangunan, hadiah undian, dan lainnya<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/cara-hitung-pph-23\/\">Cara Hitung PPh 23 dari Pengertian hingga Contoh Perhitungannya<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_DPP_PPN\"><\/span>2.\u00a0DPP PPN<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Sedangkan untuk DPP pada PPN adalah sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>Harga jual: <\/strong>Nilai uang dari semua biaya yang diminta atau yang seharusnya diminta oleh penjual karena penyerapan suatu Barang Kena Pajak (BKP).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Penggantian: <\/strong>Nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha. Hal itu dikarenakan penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Nilai impor: <\/strong>Nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Di dalamnya mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Hitung_DPP\"><\/span><strong>Cara Hitung DPP<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut contoh penghitungan DPP pada penjualan yang disertai PPN atau tidak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Cara_hitung_DPP_jika_tidak_disertai_PPN\"><\/span>1. Cara hitung DPP jika tidak disertai PPN<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>PT A menjual perangkat komputer dengan harga Rp15.000.000 dan tidak termasuk PPN di dalamnya kepada PT P. <\/p>\n\n\n\n<p>Diketahui, Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atas penjualan perangkat komputer tersebut sebesar Rp11.000.000.<\/p>\n\n\n\n<p>PPN atas pembelian tersebut menggunakan rumus menghitung DPP berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>PPN terutang = DPP + (10% x DPP)<\/li>\n\n\n\n<li>PPN terutang = Rp11.000.000 + (10% x Rp11.000.000)<\/li>\n\n\n\n<li>PPN terutang = Rp11.000.000 + Rp1.100.000<\/li>\n\n\n\n<li>PPN terutang = Rp12.100.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jadi, jumlah yang harus dibayar oleh PT P kepada PT A adalah sebesar Rp12.100.000.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Cara_hitung_DPP_apabila_penjualan_disertai_PPN\"><\/span>2.\u00a0Cara hitung DPP apabila penjualan disertai PPN<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>PT A menjual perangkat komputer dengan harga Rp33.000.000 dan sudah termasuk PPN ke Bendahara Dinas Pekerjaan Umum. <\/p>\n\n\n\n<p>Maka, cara mencari tahu Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atas perangkat komputer tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>DPP = 100\/110 x Rp33.000.000 = Rp30.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Dengan besaran DPP pada transaksi tersebut adalah Rp30.000.000, maka PPN terutangnya sebesar = 10% x Rp30.000.000 = Rp3.000.000<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, harga perangkat komputer itu memang sudah dikenai PPN sebesar 10% atau Rp3.000.000.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Cara_hitung_DPP_PPh\"><\/span>3.\u00a0Cara hitung DPP PPh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Perlu diketahui bahwa DPP juga bisa digunakan untuk menghitung PPh salah satunya PPh 21.<\/p>\n\n\n\n<p>Perhitungan ini dikenakan bagi pegawai tetap, penerima uang pesangon, tenaga ahli, anggota dewan komisaris perusahaan, dan beberapa jenis pekerjaan lain yang sudah ditentukan memiliki PPh 21 sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut adalah contoh perhitungan DPP PPh Pasal 21 untuk seorang pegawai:<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Ahmad merupakan pegawai tetap sebuah perusahaan swasta. <\/p>\n\n\n\n<p>Ia belum menikah dengan pendapatan Rp15.000.000 per bulan dan biaya jabatan 5%. <\/p>\n\n\n\n<p>Pak Ahmad terhitung mulai bekerja pada Januari-Desember 2021.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka untuk menghitung nilai DPP A sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>Gaji satu tahun = 12 x Rp15.000.000 = Rp180.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Biaya Jabatan = 5 persen x Rp180.000.000 = Rp9.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>Penghasilan Neto = Rp180.000.000 \u2013 Rp9.000.000 = Rp 171.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jika Penghasilan Tidak Kena Pajak karena belum menikah dan tanggungan = Rp55.000.000, maka:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li>DPP PPh 21 = Penghasilan Netto \u2013 Penghasilan Tidak Kena Pajak<\/li>\n\n\n\n<li>DPP PPh 21 = Rp171.000.000 \u2013 Rp55.000.000<\/li>\n\n\n\n<li>DPP PPh 21 = Rp116.000.000<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jadi, Dasar Pengenaan Pajak untuk PPh 21 dari A sebesar Rp116.000.000.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/smb\/mengenal-pajak-usaha-mikro-umkm\/\">Mengenal Pajak Usaha Mikro di Indonesia Bagi Bisnis Kecil UMKM<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari uraian ini, sangat penting untuk memahami cara hitung DPP agar memastikan kepatuhan pajak dan menghindari potensi sanksi. <\/p>\n\n\n\n<p>Perhitungan yang benar membantu pelaku usaha mengelola kewajiban pajak secara efisien. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan terus memperbarui informasi, wajib pajak dapat lebih cermat dalam pengelolaan keuangan dan pelaporannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara hitung DPP (Dasar Pengenaan Pajak) cukup penting bagi para wajib pajak. Seperti yang diketahui bahwa pajak adalah salah satu kewajiban wajib pajak yang diatur dalam Undang-Undang. Di dalam praktiknya, setoran pajak ini bisa beraneka ragam, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penghasilan (PPh). Keberadaan DPP ini jadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":25360,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7850],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cara hitung DPP (Dasar Pengenaan Pajak) cukup penting bagi para wajib pajak. Seperti yang diketahui bahwa pajak adalah salah satu kewajiban wajib pajak yang diatur dalam Undang-Undang. Di dalam praktiknya, setoran pajak ini bisa beraneka ragam, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penghasilan (PPh). Keberadaan DPP ini jadi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-26T07:48:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-22T10:44:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/dpp-pajak.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1380\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nadiyah Rahmalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Nadiyah Rahmalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!","og_description":"Cara hitung DPP (Dasar Pengenaan Pajak) cukup penting bagi para wajib pajak. Seperti yang diketahui bahwa pajak adalah salah satu kewajiban wajib pajak yang diatur dalam Undang-Undang. Di dalam praktiknya, setoran pajak ini bisa beraneka ragam, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak Penghasilan (PPh). Keberadaan DPP ini jadi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2025-02-26T07:48:18+00:00","article_modified_time":"2025-09-22T10:44:49+00:00","og_image":[{"width":1380,"height":920,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/dpp-pajak.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nadiyah Rahmalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Nadiyah Rahmalia","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/"},"author":{"name":"Nadiyah Rahmalia","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/99ccd74b5eedff35a762def8b34e89f4"},"headline":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!","datePublished":"2025-02-26T07:48:18+00:00","dateModified":"2025-09-22T10:44:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/"},"wordCount":967,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Pajak Usaha"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/","name":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2025-02-26T07:48:18+00:00","dateModified":"2025-09-22T10:44:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/pajak-usaha\/seperti-apa-cara-hitung-dasar-pengenaan-pajak-dpp-ini-contoh-lengkapnya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Seperti Apa Cara Hitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)? Ini Contoh Lengkapnya!"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/99ccd74b5eedff35a762def8b34e89f4","name":"Nadiyah Rahmalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c1e1bfb72c6347304a9eb0a484df3391?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c1e1bfb72c6347304a9eb0a484df3391?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nadiyah Rahmalia"},"description":"Content Writer dengan 4 tahun pengalaman menangani konten beragam topik di berbagai industri baik B2C dan B2B, termasuk bisnis, ekonomi, keuangan, dan sebagainya. Saat ini menulis di Paper.id untuk memperkaya wawasan pemilik bisnis dan memajukan industri B2B seluruh Indonesia.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/nadiyahrf\/"],"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/nadiyah\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25359"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25359"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25359\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25361,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25359\/revisions\/25361"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}