{"id":17838,"date":"2024-03-29T09:36:31","date_gmt":"2024-03-29T02:36:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?p=17838"},"modified":"2025-10-12T10:10:08","modified_gmt":"2025-10-12T03:10:08","slug":"cash-conversion-cycle","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/","title":{"rendered":"Mengoptimalkan Arus Kas Bisnis dengan Cash Conversion Cycle"},"content":{"rendered":"\n<p>Salah satu konsep yang seringkali terlewatkan bahkan banyak yang tidak disadari oleh setiap pemilik bisnis adalah <em>Cash Conversion Cycle<\/em> (CCC). CCC bukan hanya sekedar istilah keuangan, melainkan sebuah ukuran penting yang menggambarkan seberapa efisien sebuah perusahaan mengelola persediaan, piutang, dan hutangnya untuk menghasilkan kas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan pemahaman yang mendalam tentang CCC, bisnis dapat mengidentifikasi peluang untuk mempercepat aliran kas, yang pada akhirnya meningkatkan likuiditas dan solvabilitas perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengetahui selengkapnya, yuk pelajari lebih lanjut tentang <em>Cash Conversion Cycle <\/em>mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dengan membaca informasi di bawah ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/digital-payment.php?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=cash_conversion_cycle_adalah&amp;utm_content=banner\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"919\" height=\"229\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Banner-05.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-17355\" srcset=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Banner-05.png 919w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Banner-05-300x75.png 300w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Banner-05-768x191.png 768w\" sizes=\"(max-width: 919px) 100vw, 919px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Cash_Conversion_Cycle_CCC\"><\/span><strong>Pengertian <em>Cash Conversion Cycle<\/em> (CCC)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Cash Conversion Cycle<\/em> (CCC) atau siklus konversi kas adalah metrik yang mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengubah modal kerja menjadi kas. Modal kerja sendiri adalah aset yang digunakan perusahaan untuk menjalankan operasinya, seperti persediaan (<em>inventory<\/em>), piutang (<em>account receivables)<\/em>, dan hutang dagang (<em>account payables<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kata lain, CCC adalah perputaran arus kas dengan menghitung waktu dari saat perusahaan membayar <em>supplier <\/em>untuk membeli persediaan\/bahan baku hingga menerima menerima pembayaran dari <em>customer <\/em>dari aktivitas penjualan akhir. Konsep ini penting karena memberikan wawasan tentang efisiensi operasional dan manajemen arus kas perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p>CCC dihitung dengan menjumlahkan periode persediaan (<em>inventory<\/em>), periode piutang (<em>Account Receivables<\/em>) , dan kemudian mengurangi periode pembayaran utang (<em>Account Payables<\/em>). Berikut rumus menghitung CCC:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>CCC = <em>Periode Persediaan (Inventory) + Periode Piutang (Account Receivables)- Periode Pembayaran Utang (Account Payables)<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-dan-nasihat-umkm\/dpo-days-payable-outstanding\/\">Kenali Days Payable Outstanding (DPO), Salah Satu Faktor Penting dalam CCC<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Komponen_Cash_Conversion_Cycle_CCC\"><\/span><strong>Komponen <em>Cash Conversion Cycle <\/em>(CCC)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Persediaan_Inventory_atau_Days_of_Inventory_Outstanding_DIO\"><\/span>1. Persediaan (<em>Inventory<\/em>) atau <em>Days of Inventory Outstanding<\/em> (DIO)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Waktu yang diperlukan untuk menjual persediaan. Ini mencakup proses produksi, penyimpanan, dan akhirnya penjualan barang tersebut. Periode persediaan yang lebih pendek menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dalam mengelola stok. Intinya ini mengukur jumlah hari rata-rata yang dibutuhkan perusahaan untuk mengubah persediaannya menjadi penjualan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Piutang_dagang_Accounts_Receivable_atau_Days_Sales_Outstanding_DSO\"><\/span>2. Piutang dagang (<em>Accounts Receivable<\/em>) atau <em>Days Sales Outstanding<\/em> (DSO)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan pembayaran dari <em>customer<\/em> setelah penjualan dilakukan. Periode piutang yang lebih pendek menandakan bahwa perusahaan efektif dalam mengumpulkan pembayaran, meningkatkan likuiditas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Hutang_Dagang_Accounts_Payable_atau_Days_Payable_Outstanding_DPO\"><\/span>3. Hutang Dagang (<em>Accounts Payable<\/em>) atau <em>Days Payable Outstanding<\/em> (DPO)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n\n\n\n<p>DPO sendiri digunakan untuk mengukur jumlah hari rata-rata yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar utang kepada <em>supplier<\/em> atau vendornya. DPO yang lebih tinggi dapat memberikan manfaat bagi CCC karena artinya perusahaan lebih lama &#8220;memegang&#8221; uang mereka sebelum harus membayar vendor. Hal ini meningkatkan arus kas.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><a href=\"https:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=id.paper.invoicer\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><img decoding=\"async\" width=\"919\" height=\"229\" src=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Blog-Android-iOS-Landscape.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-16470\" srcset=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Blog-Android-iOS-Landscape.png 919w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Blog-Android-iOS-Landscape-300x75.png 300w, https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Blog-Android-iOS-Landscape-768x191.png 768w\" sizes=\"(max-width: 919px) 100vw, 919px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/tips-dan-nasihat-umkm\/cara-mengatur-cash-conversion-cycle\/\">Cara Mengatur Cash Conversion Cycle: Solusi Untuk Arus Kas yang Lebih Positif<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Menghitung_Cash_Conversion_Cycle_CCC\"><\/span><strong>Cara Menghitung <em>Cash Conversion Cycle <\/em>(CCC)<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p>Untuk memahami perhitungan CCC dengan baik, mari langsung ambil contoh dari perusahan terkemuka seperti Starbucks.<\/p>\n\n\n\n<p>Starbucks, dengan jaringan kafe di seluruh dunia, mengelola persediaan bahan baku seperti kopi, susu, dan makanan, serta menghadapi tantangan dalam mengumpulkan pembayaran dari <em>customer<\/em> dan mengelola pembayaran kepada <em>supplier<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan hasil perhitungan di setiap komponennya adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong>DIO: <\/strong>Starbucks rata-rata memegang persediaan selama 60 hari. Ini mencerminkan waktu dari pembelian bahan baku hingga bahan tersebut digunakan atau dijual.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>DSO: <\/strong>Mengingat model bisnis Starbucks yang kebanyakan transaksi secara instan (<em>customer<\/em> membayar saat membeli), DSO sangat rendah, yaitu sekitar 5 hari.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>DPO: <\/strong>Starbucks memiliki kesepakatan pembayaran dengan <em>supplier<\/em>-nya sehingga rata-rata membayar hutang dalam 75 hari.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Maka, didapatkan perhitungan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>CCC=DIO+DSO\u2212DPO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>       <\/em>=60+5\u221275=\u221210<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hasil perhitungan menunjukkan CCC negatif sebesar <strong>-10 hari<\/strong>. Dalam konteks manajemen <em>cash flow<\/em>, ini adalah hasil yang sangat positif. CCC negatif berarti Starbucks menerima pembayaran dari penjualannya lebih cepat daripada harus membayar <em>supplier<\/em>-nya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Ini memberi Starbucks keunggulan arus kas, memungkinkannya untuk menggunakan kas tersebut untuk operasi lainnya, seperti pembayaran utang, investasi dalam pertumbuhan, atau pengembalian kepada pemegang saham, sebelum kas tersebut harus dibayarkan kepada <em>supplier<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_CCC_terhadap_Kesehatan_Arus_Kas_Bisnis\"><\/span><strong>Pengaruh CCC terhadap Kesehatan Arus Kas Bisnis<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Cash Conversion Cycle<\/em> (CCC) merupakan indikator penting dalam manajemen keuangan yang menggambarkan berapa lama sebuah perusahaan membutuhkan waktu untuk mengubah pengeluaran kas terkait produksi menjadi penerimaan kas dari penjualan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengoptimalkan CCC, perusahaan dapat mempercepat penerimaan kasnya, meminimalisir kebutuhan untuk pinjaman, dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Studi dari jurnal <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S1059056017309619\">Elsevier 2018<\/a> menunjukkan bahwa perusahaan dengan CCC yang lebih rendah cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya. Fakta ini menegaskan pentingnya pengelolaan modal kerja yang efisien dalam mencapai keunggulan kompetitif.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya, perusahaan seperti Dell telah meraih kesuksesan dengan menerapkan model &#8220;<em>build-to-order<\/em>&#8220;, yang secara signifikan mengurangi waktu inventaris mereka dan mempercepat CCC. Strategi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga meningkatkan kepuasan <em>customer <\/em>dengan pengiriman yang lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, perpanjangan CCC dapat menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kesulitan dalam menjual inventaris atau mengumpulkan pembayaran dari <em>customer<\/em>, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi likuiditas dan solvabilitas perusahaan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/acara\/belajar-cash-flow-paperid\/\"><strong>Mengungkap Strategi Kelola Cash Flow dari CBO Paper.id, Anthony Huang<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Nah buat kamu seorang<em> busines owner<\/em> dan ingin tahu berapa nilai CCC, lancar atau tidak <em>cash flow<\/em> bisnis kamu, kamu bisa menggunakan Paper.id! Cukup klik tombol di bawah ini dan masukkan data-data yang diperlukan. Selamat kamu bisa menganalisis hasilnya dan dapat rekomendasinya!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-center is-layout-flex wp-container-2 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\" style=\"text-align:center\"><a class=\"wp-block-button__link has-white-color has-text-color has-background wp-element-button btn btn__dark\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/cash-flow-checkup.php?&amp;utm_source=blog&amp;utm_medium=organic&amp;utm_campaign=cash_conversion_cycle&amp;utm_content=cta_button\" style=\"background-color:#4195d5\"><div class=\"btn__content\"><div class=\"btn__label\">Coba Sekarang<\/div><svg class=\"btn__icon --1 hidden has-hover:block\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><svg class=\"btn__icon --2\" width=\"19\" height=\"14\" viewBox=\"0 0 24.3434 18.8423\" fill=\"none\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\"><path d=\"M10.9468 18.3364C12.4026 16.743 14.3463 14.9356 16.7455 13.3957C19.3561 11.7274 21.7228 10.904 23.5689 10.4762C23.5689 9.95219 23.5771 9.43887 23.5852 8.91486C21.8285 8.28391 19.7953 7.35352 17.5913 5.9312C14.9725 4.24153 12.8011 2.2952 11.0932 0.519982\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><path d=\"M23.5934 9.68481H0\" stroke=\"#9EE3F3\" stroke-width=\"1.5\" stroke-miterlimit=\"10\"\/><\/svg><\/div><\/a><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu konsep yang seringkali terlewatkan bahkan banyak yang tidak disadari oleh setiap pemilik bisnis adalah Cash Conversion Cycle (CCC). CCC bukan hanya sekedar istilah keuangan, melainkan sebuah ukuran penting yang menggambarkan seberapa efisien sebuah perusahaan mengelola persediaan, piutang, dan hutangnya untuk menghasilkan kas.\u00a0 Dengan pemahaman yang mendalam tentang CCC, bisnis dapat mengidentifikasi peluang untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":18970,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6399],"tags":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cash Conversion Cycle (CCC): Pengertian, Komponen, &amp; Contoh<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Yuk pelajari lebih lanjut tentang cash conversion cycle mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dalam artikel ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cash Conversion Cycle (CCC): Pengertian, Komponen, &amp; Contoh\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Yuk pelajari lebih lanjut tentang cash conversion cycle mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dalam artikel ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-03-29T02:36:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-12T03:10:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/cash-conversion-cycle.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Alfian Dimas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Alfian Dimas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cash Conversion Cycle (CCC): Pengertian, Komponen, & Contoh","description":"Yuk pelajari lebih lanjut tentang cash conversion cycle mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dalam artikel ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cash Conversion Cycle (CCC): Pengertian, Komponen, & Contoh","og_description":"Yuk pelajari lebih lanjut tentang cash conversion cycle mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dalam artikel ini!","og_url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/","og_site_name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","article_published_time":"2024-03-29T02:36:31+00:00","article_modified_time":"2025-10-12T03:10:08+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/cash-conversion-cycle.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Alfian Dimas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Alfian Dimas","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/"},"author":{"name":"Alfian Dimas","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/89b404f7f6df31ed0311dbd27bf10fd8"},"headline":"Mengoptimalkan Arus Kas Bisnis dengan Cash Conversion Cycle","datePublished":"2024-03-29T02:36:31+00:00","dateModified":"2025-10-12T03:10:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/"},"wordCount":797,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Keuangan Bisnis"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/","name":"Cash Conversion Cycle (CCC): Pengertian, Komponen, & Contoh","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website"},"datePublished":"2024-03-29T02:36:31+00:00","dateModified":"2025-10-12T03:10:08+00:00","description":"Yuk pelajari lebih lanjut tentang cash conversion cycle mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya dalam artikel ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/keuangan-bisnis\/cash-conversion-cycle\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/en\/homepage\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengoptimalkan Arus Kas Bisnis dengan Cash Conversion Cycle"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","name":"Paper Blog | Informasi Terbaru Seputar Bisnis dan Akuntansi","description":"Blog informatif dan inspiratif untuk Bisnis","publisher":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#organization","name":"Paper.id","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","contentUrl":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Logo-Paper.png","width":411,"height":133,"caption":"Paper.id"},"image":{"@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/paperinvoice\/","https:\/\/www.instagram.com\/paperindonesia\/?hl=en","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/paper-id\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/89b404f7f6df31ed0311dbd27bf10fd8","name":"Alfian Dimas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/42afe76eff4ffbb49ba8f9b9712c5c2c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/42afe76eff4ffbb49ba8f9b9712c5c2c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Alfian Dimas"},"description":"Seorang SEO Specialist &amp; Content Writer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di beragam industri seperti OTT (Over The Top), Hukum, Kesehatan, &amp; e-Commerce. Saat ini bereda di industri B2B untuk memperluas wawasan terkait bisnis.","url":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/author\/alfian\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17838"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17838"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18971,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17838\/revisions\/18971"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18970"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.paper.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}