Perkembangan Ecommerce

Pernahkah Anda mendatangi sebuah pusat perbelanjaan? Walaupun dinamakan sebagai pusat perbelanjaan, tingkat atau intensitas Anda untuk belanja pasti menurun. Percaya atau tidak, fungsi mall sudah berubah 180 derajat. Sebagian besar pengunjung datang hanya untuk bersenang-senang, seperti makan ataupun menonton bioskop. Kenyataan tersebut berbanding lurus dengan tingkat penjualan online yang meningkat 78% di tahun 2018.

Sebuah studi dari statista.com menunjukkan jika kebiasaan belanja online melalui marketplace terkemuka sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Alasannya masuk akal, yakni bisa diakses dimanapun dan ‘banjir’ diskon menarik. Perkembangan Ecommerce di tanah air juga terlihat sangat meningkat jika menilik dari jumlah penggunanya. Di tahun 2018, ada sekitar 31,6 juta pengguna belanja online, naik sekitar 2 juta di bandingkan tahun sebelumnya.

Masih menurut sumber yang sama, tingkat pengguna belanja online juga diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2022. Ketika tahun itu tiba, konsumen yang melakukan belanja online diasumsikan telah berada di angka 43,8 juta pengguna. Peningkatan transaksi juga akan terjadi, terutama di dalam sektor ecommerce marketplace seperti Lazada, Zalora dll.

Sejarah Perkembangan Ecommerce di Indonesia

Mencari barang online

Mencari barang online

Benih-benih adanya belanja online sebenarnya telah bermula pada tahun 1994. Kala itu, IndoNet merupakan Internet Service Provider pertama yang ada di Indonesia. Kemudian, mulailah berkembang situs-situs populer untuk belanja online namun saat itu belum bisa melakukan pemesanan barang. Internet masih digunakan sebatas untuk ajang promosi barang sedangkan pemesanan harus saling bertemu atau setidaknya melalui sambungan telepon.

Walaupun pada awalnya dikenal sebagai ajang media promosi, internet akhirnya terus berkembang untuk melakukan pemesanan barang. Pada awal tahun 2000-an, baru dimulailah ekspansi pemasaran melalui internet. Jadi, setiap konsumen bisa memesan barang melalui dunia maya namun tidak bisa diakses semua orang. Sebab, pada jaman tersebut, semua kecanggihan tersebut hanya dimiliki oleh orang kaya saja.

Di tahun 2007, ketika situs belanja online telah mulai bergeliat di tanah air, beberapa layanan pembayaran online pun mulai bermunculan. Disinilah, financial technology (fintech) mulai ikut campur dalam urusan belanja online. Perkembangan ecommerce sendiri semakin terlihat pesat hingga saat ini. Pangsa pasar yang cukup luas serta kemudahan akses, membuat sistem belanja konvensional perlahan-lahan akan ‘mati’.

Bisnis Online dan Kebiasaan Berselancar di Dunia Maya

Indonesia merupakan sebuah lahan yang basah untuk dijadikan ladang membuat bisnis online. Bagaimana tidak, masyarakat di tanah air bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandangi laptop mereka atau smartphone. Bahkan, studi dari Statista.com menunjukkan jika rata-rata orang di Indonesia bisa berselancar di dunia maya selama 4 jam 48 menit melalui laptop dan 3 jam 55 menit melalui gadget mereka.

Ada ratusan ecommerce di Indonesia yang kini bersaing untuk mendapatkan konsumen. Salah satu cara ampuh untuk menggaet mereka adalah dengan memberikan diskon berlipat di acara khusus, seperti single’s day pada 11 November lalu. Dalam satu tahun terakhir, perputaran uang yang ada di Indonesia itu telah mencapai 8,5 milliar dollar dan diharapkan meningkat hingga 16 milliar dollar di tahun 2021 mendatang.

Fashion menjadi penyumbang pendapatan terbanyak dengan total uang 3,5 milliar dollar. Secara berturut-turut, mainan anak, hobi dan DIY menjadi pemberi keuntungan terbesar selanjutnya. Dapat disimpulkan, jika kebiasaan belanja masyarakat di Indonesia memang telah berubah dari yang biasanya mengunjungi toko fisik (mall) ke dalam ecommerce atau belanja online melalui dunia maya.

Pengguna Terbesar Ecommerce di Indonesia

Milennial

Milennial

Seperti yang telah diduga banyak pihak, generasi milennial menjadi konsumen tertinggi ecommerce. Kebiasaan mereka berselancar di dunia maya memang menjadi faktor utama kenapa dianggap sebagai pelanggan paling aktif. Lebih lanjut, remaja berusia 20-30 tahun menjadi pengguna terbesar kedua yang melakukan belanja online melalui situs ecommerce atau belanja online lainnya.

Studi juga menunjukkan jika kebiasaan belanja online ini terjadi setelah mereka terlalu berselancar di sosial media. Sekitar 44% dari penduduk Indonesia ternyata merupakan seorang pengguna sosial media aktif dan kurang dari 10% memiliki lebih dari satu akun dimana salah satunya khusus untuk mengamati tingkah laku orang yang mereka suka. Berawal dari pengamatan tersebut, mereka terpancing untuk membeli segala outfit yang dimiliki.

Kemudahan dalam berbelanja online juga didukung oleh alat pembayaran yang canggih. Saat ini, Anda tidak perlu lagi mengantri di ATM hanya untuk membayarkan tagihan sebab Anda bisa melunasi melalui sebuah smartphone. Sekitar 80,14% pengguna juga telah membayarkan tagihan melalui digital payment. Hanya ada sekitar 9% yang masih menggunakan metode pembayaran melalui toko swalayan, seperti alfamart dll.

Tidak ada salahnya untuk mulai berjualan. Terlebih lagi, saat ini, Anda bisa menjual barang secara online sehingga tidak perlu takut dengan kesulitan dalam manajemen bisnis tersebut. Lebih lanjut, tagihan yang Anda kirimkan akan bisa tercatat dengan mudah. Bagaimana caranya? gunakan Paper.id, dengan cara klik tombol di bawah ini.

 

(Visited 1.106 times, 2 visits today)