Pernah tidak kalian menanyakan alasan kenapa brand atau seseorang memberikan giveaway atau hadiah secara Cuma-Cuma? Terus, berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membeli sebuah hadiah untuk kontes yang diadakan?

Di sosial media, giveaway seakan menjadi hal yang biasa. Seorang selebgram mengunggah postingan mengenai kontes yang diadakan serta persyaratan yang harus dipenuhi. Biasanya, cukup dengan like, follow, dan doa yang banyak, maka hadiah bisa dimenangkan.

Baca juga: 4 cara meningkatkan penjualan lewat sosial media

Terkesan simple bukan? Simple bagi Anda tapi tidak bagi si pembuat kontes. Ada udang di balik batu, ada tujuan yang harus Anda tahu! Kontes pembagian hadiah tidak dibuat karena alasan dermawan. Ada banyak alasan dibaliknya. Hingga sekarang, Teknik pembagian hadiah juga bermacam-macam dan tidak bertumpu hanya like, follow dan comment.

Paper.id akan mengulas lebih dalam seputar fenomena giveaway yang marak diperbincangkan dan diikuti di sosial media. Serta apa tujuan serta kiat-kiat pembuat kontes agar bisa mendapatkan efek yang maksimal bagi brand.

Apa itu Giveaway dan kenapa ini penting?

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, kenapa harus giveaway dan bukan yang lain? Pemberian hadiah secara gratis menjadi sebuah Teknik marketing yang dapat membawa efek positif bagi brand Anda baik itu dari segi awareness, keuntungan, dan juga hal lainnya.

Ada berbagai macam Teknik sosial media yang ada, tapi Giveaway menjadi hal yang paling populer terjadi di dunia khususnya Indonesia. Kontes pemberian hadiah dinilai efektif karena mendapatkan lead sebesar 75% menurut Google Primer.

Baca juga: Hashtag dan pengaruhnya pada perkembangan bisnis kecil

Tujuan dari kontes hadiah sebenarnya adalah untuk mendapatkan timbal balik berupa awareness, keuntungan, promosi barang, dan juga lainnya. Sementara itu, masyarakat dinilai lebih tertarik kepada kontes hadiah karena GRATIS. Hal ini juga dibuktikan lewat tingginya minat orang-orang untuk mengikuti event tersebut.

Dengan begitu, perusahaan bisa mengambil untung dari hal itu berupa email subscriber, awareness, new followers, dan juga lainnya yang lazim dilakukan. Meski tidak berbentuk uang, hal tersebut dapat memberikan efek yang besar bagi sebuah brand di masa kini.

Jika giveaway hanya bersifat sementara, maka Paper.id bersifat selamanya. Paper.id merupakan platform invoice, inventaris dan akunting yang bisa Anda gunakan GRATIS selamanya. Semua fitur telah terintegrasi sehingga, pekerjaan Anda akan menjadi lebih mudah. Download gratis sekarang disini!

Bagaimana membuat sebuah giveaway yang efektif?

Setelah membaca uraian diatas, Anda pasti tertarik untuk membuat sebuah kontes hadiah gratis untuk brand Anda. Anda mulai merencanakan apa saja yang harus dilakukan agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam membuat sebuah kontes, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Anda harus tahu apa yang Anda inginkan. Apakah Anda menginginkan subscriber untuk email? Meningkatkan brand awareness? Atau mungkin hal lainnya?

Dengan mengetahui hal itu, Anda bisa tahu apa yang harus Anda lakukan untuk menentukan hadiah, metode, dan platform yang akan digunakan untuk kontes hadiah. Hal ini tidak bisa asal agar Anda bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Setelah itu, beralihlah ke soal hadiah dan platform. Keduanya saling berkaitan karena, semua platform tidak bisa sembarangan memberikan hadiah. Setiap platform sosmed memiliki aturan sendiri dalam mendapatkan informasi dari penggunanya.

Agar aman, Anda bisa membuat microsite khusus Giveaway sehingga, Anda bisa menggunakanya kapan saja jika dibutuhkan untuk membuat giveaway baru lagi. Setelah itu, Anda bisa menentukan hadiahnya. Ingat, tentukan hadiah sesuai dengan perjuangan yang dilakukan oleh user. Semakin besar perjuangannya, maka semakin besar pula hadiahnya.

Setelah itu, unggah postingan Anda di sosial media atau platform yang telah ditentukan. Gunakan tools seperti Shortstack atau Stackla untuk memantau kontes yang telah Anda pasang. Selain itu, Anda bisa menggunakan UTM untuk memantau giveaway tersebut jika tidak ingin menggunakan tools.

Daniel Nugraha