Bagaimana Supply Chain Management Dapat Membantu Interkoneksi Berbagai Jenis Bisnis

Guna mendukung interkoneksi antar lini bisnis, supply chain management (SCM) dibutuhkan untuk memaksimalkannya. Dengan menggunakan SCM, kinerja antar divisi dapat dimaksimalkan dengan lebih baik, mereduksi budget produksi dan memproduksi barang lebih cepat.

SCM berkaitan dengan proses produksi mulai dari barang mentah hingga barang siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Proses tersebut melibatkan banyak pihak mulai dari manufaktur, supplier, distributor, ritel, hingga pelanggan.

Banyaknya pihak yang terlibat turut meningkatkan kompleksitas kerja, sehingga butuh adanya SCM sebagai sebuah jalur yang menghubungkan mereka secara langsung melalui bantuan teknologi. Untuk itu, perusahaan-perusahaan berskala besar mengandalkan SCM untuk mengoptimalkan kinerja mereka.

Namun, SCM tidak hanya untuk perusahaan besar saja. Sistem ini juga dapat diterapkan oleh unit-unit bisnis kecil. “Selama ada proses barang keluar dan masuk, maka supply chain management tetap bisa digunakan oleh siapapun”, ujar Hermawan Sulaiman, seorang direktur dari PT. Rekayasa Informatika Distribusi Indonesia, narasumber interview with the expert edisi kali ini.

Hermawan Sulaiman

Beliau juga menceritakan mengenai bagaimana SCM diterapkan dalam lini bisnis kecil seperti bisnis laundry hingga proses pengelolaan sampah sampai menjadi limbah. Simak bagaimana memaksimalkan bisnis Anda dengan SCM melalui wawancara kami dibawah ini.

Baca juga: Peran milennial dalam memajukan perekonomian Indonesia

Inovasi penerapan supply chain management pada bisnis laundry

Pak Hermawan mengungkapkan bahwa ia menelurkan inovasi akan penggunaan supply chain management pada bisnis laundry. Inovasi ini dibuat saat menyadari besarnya ongkos penyewaan kios serta tingginya keyword “laundry terdekat” di Google.

Ia memanfaatkan kedua peluang tersebut untuk menyewa beberapa tempat dropship untuk laundry yang dihubungkan dengan tempat laundry yang besar untuk menampungnya. Setelah itu, setiap pemilik laundry akan dihubungkan dengan aplikasi. Hingga kini, sudah ada sekitar 16032 pengguna aplikasi tersebut.

Menerapkan SCM dalam bisnis laundry bukannya tidak ada tantangan. Ia sempat menemukan hambatan saat para penggunanya tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut. Berangkat dari ungkapan bisa karena terbiasa, ia akhirnya memberikan pelatihan khusus bagi setiap orang dengan membuat 100 purchase order dalam sehari. Dengan begitu, mereka akhirnya terbiasa.

Modernisasi pengelolaan sampah dengan supply chain management

Pak Hermawan sendiri berdomisili di Pontianak. Namun, ia kerap bepergian ke beberapa daerah termasuk kota Jakarta untuk bertemu dengan banyak klien. Salah satu contoh yang ia berikan kepada kami saat wawancara adalah pengelolaan sampah.

Kasus ini ia kerjakan saat berada di Pontianak. Saat itu, fokus yang diinginkan oleh sang klien adalah pemantauan proses pengumpulan, pengolahan sampah hingga menjadi barang daur ulang yang dapat digunakan untuk menjadi sebuah aspal.

Mengenai prosesnya, ia menggambarkan bahwa setiap truk sampah akan di-tracking. Setelah itu, jumlah sampah yang dibawa oleh mobil tersebut akan dihitung secara otomatis. Setelah itu, jumlah sampah akan dihitung menurut satuan ton dan diproses menjadi bahan daur ulang yang dapat digunakan untuk bahan baku aspal jalan.

Melalui kasus ini, ia mengatakan bahwa SCM sendiri bersifat fleksibel dan diterapkan ke berbagai macam unit bisnis. “Hal itu tergantung oleh keinginan si pemilik serta bagaimana cara memanfaatkan sistem agar mencapai hasil yang diinginkan”, ujar beliau.

Baca juga: Bukan hanya modal, ini solusi kemajuan UMKM menurut gubernur Bangka Belitung

Contoh kasus-kasus penyelewengan yang kerap terjadi di lapangan

Berkarir sejak lama, Pak Hermawan sudah akrab dengan kondisi yang kerap terjadi di lapangan. Saat membuat sistem SCM untuk kliennya, ia selalu melakukan proses wawancara dengan para pekerja lapangan.

Dalam karirnya, ia kerap menemukan beberapa kasus fraud yang terjadi. Pertama, kasus yang kerap terjadi adalah adanya pembelian barang yang tidak berhubungan dengan proses kerja produksi. Barang yang dibeli biasanya memiliki harga yang murah. Namun, frekuensi pembeliannya dilakukan berkali-kali sehingga merugikan perusahaan di kemudian hari.

Selain itu, adanya pencurian yang dilakukan oleh beberapa oknum akan bahan baku yang dimiliki. Ia juga sempat mengenal istilah ngencingin bensin dan ngencingin solar dimana, istilah ini berkaitan dengan kasus pencurian bahan bakar solar dan bensin yang dijual kembali untuk keuntungan pribadi.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya penerapan supply chain management untuk meningkatkan visibilitas pemantauan usaha bagi pemilik perusahaan. Dengan begitu, kasus-kasus diatas tidak akan terjadi lagi.

Dengan menggunakan SCM, beliau menilai ada 2 manfaat yang bisa diperoleh. Pertama, kemudahan dalam membuat forecasting untuk perusahaan. Manager yang berwenang dapat membuat laporan yang jelas serta keputusan yang tepat.

Kedua, perusahaan dapat menangkal kegiatan illegal seperti fraud yang dapat merugikan perusahaan. Tentunya, kedua hal ini termasuk agenda penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan dalam menghadapi iklim ekonomi yang kian kompetitif di kemudian hari.

Pencegahan fraud dalam keuangan dapat dilakukan dengan mudah, asalkan menggunakan sistem yang tepat. Masalah ini dapat teratasi dengan Paper Enterprise Solution, sebuah sistem pengelolaan Account Payable yang dapat mempermudah proses procure-to-pay. Dengan penggunaan fleksibel lewat HP dan computer, baik Anda maupun atasan Anda dapat memantau proses pekerjaan dengan mudah. Cari tahu disini bagaimana Paper Enterprise Solution bisa meningkatkan transparansi dan mengurangi terjadinya fraud dalam perusahaan Anda.

 

 

(Visited 15 times, 1 visits today)