Menilik Kesiapan Supply Chain Indonesia Menyambut Era 4.0

Revolusi industri 4.0 turut membawa pengaruh besar dalam berbagai bidang, termasuk supply chain Indonesia. Ada beragam tantangan yang dihadapi dalam menerapkan supply chain management untuk mewujudkan otomatisasi dengan menggunakan internet of things dan artificial intelligence guna memudahkan aktivitas bisnis.

Hal itu berfokus pada aktivitas pengelolaan gudang, logistik, pelabuhan dan lainnya. Dengan begitu, setiap aktivitas akan terkoneksi dengan satu sama lain dengan berbasis teknologi. Untuk menerapkannya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi seperti kesiapan SDM, infrastruktur perusahaan, dan masih banyak hal lainnya yang turut mempengaruhi hal tersebut.

Untuk membicarakan hal ini, tim Paper.id berkesempatan untuk mewawancarai Nyoman Pujawan, Presiden dari International Supply Chain Education Alliance (ISCEA) dan professor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dengan begitu, kita dapat mengetahui kesiapan para pelaku usaha di Indonesia untuk menerapkan supply chain management di era 4.0.

Baca juga: Peran penting divisi procurement dan account payable dalam alur supply chain

Menyikapi era 4.0 dalam supply chain Indonesia

Dalam menyambut era 4.0 di supply chain, Prof. Nyoman Pujawan menekankan pentingnya akselerasi adaptasi akan hal tersebut. Dengan begitu, perusahaan dapat tetap bertahan dalam tren bisnis yang kian dinamis.

Persiapannya sendiri bisa memakan waktu lama bahkan tahunan, mengingat hal ini merubah sistem yang telah berlaku sejak lama dalam sebuah perusahaan. Karena itu, beliau menekankan pentingnya edukasi akan SCM dan perubahan mindset perusahaan agar siap dalam menyambut tren yang ada.

Tentunya, hal tersebut menyangkut banyak hal seperti persiapan infrastruktur perusahaan dan SDM perusahaan. Sebagai pihak yang mengelola sistem SCM nantinya, pihak perusahaan perlu memberikan pelatihan kepada SDM terpilih agar siap dalam mengelolanya.

Sayangnya, masalah SDM masih menjadi masalah klasik yang dihadapi oleh banyak perusahaan. “Perlu adanya pelatihan bagi SDM yang ada agar mereka dapat menggunakan sistem dengan baik, sehingga membawa banyak manfaat positif bagi perusahaan” ujar Prof. Nyoman Pujawan.

Baca juga: Rahasia sukses produktivitas Marc Jacobs lewat AP Automation

Memaksimalkan SDM dalam pengelolaan sistem supply chain

Guna memaksimalkan SDM dalam pengelolaan SCM, ada 2 poin yang menurut Prof. Nyoman perlu dilakukan. Pertama, pelatihan untuk orang-orang perusahaan. Hal ini berkaitan dengan divisi yang berhubungan langsung seperti warehousing, operasional, customer service dan procurement.

Dengan pelatihan yang dilakukan, para karyawan yang telah ikut mendapatkan pengetahuan yang ada sehingga, mereka lebih siap untuk melakukan pengelolaan yang ada. Kedua, bisa juga dilakukan dengan merekrut supply chain specialist. Di zaman sekarang, sudah banyak perusahaan yang merekrut orang-orang yang bekerja di ranah tersebut.

Selain itu, perusahaan juga bisa merekrut orang-orang muda sebagai katalisator adopsi teknologi yang lebih baik. Karena, anak-anak muda dinilai lebih adaptif dan cepat dalam mempelajari teknologi baru. Hal ini bisa menjadi nilai plus bagi sebuah perusahaan untuk mendapatkan SDM dengan tingkat adaptasi yang cepat.

 

(Visited 41 times, 1 visits today)