Winston Churchill dulu pernah berkata, “Kamu tidak akan pernah mencapai destinasi apabila selalu melihat ke belakang dan menimpuk semua anjing yang menggonggong.” Kalimat itulah yang sekiranya merepresentasikan kegigihan seorang pria bernama Bambang Setiawan dalam mengembangkan usahanya sebagai ‘bos jangkrik’. Lulusan ITB tersebut memilih untuk menjadi wirausahawan ketimbang bekerja kantoran seperti kebanyak para mahasiswa lainnya.

Kisah pengusaha sukses berusia 31 tahun tersebut terbilang cukup unik lantaran ia memilih untuk membudidayakan jangkrik. Hewan yang acap kali bersuara berisik apabila hujan tiba. Uniknya lagi, Bambang mengembangkan bisnisnya di Desa Bakung, Cirebon, Jawa Barat, sebuah tempat dimana hewan jangkrik sangat mudah ditemukan. Budidaya yang ia lakukan juga berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi di tempat tinggalnya.

Bagaimana tidak, Bambang mengajak warga untuk melakukan usaha budidaya tersebut secara mandiri. Keterlibatan warga lokal membuat Bambang berhasil mengurangi angka pengangguran di desanya. Hingga saat ini, tercatat sudah ada sekitar 100 pembudidaya jangkrik yang mana akan terus berkembang. Lantas, apakah usahanya berjalan lancar tanpa adanya hambatan?

Kisah Pengusaha Sukses: Jatuh Bangun

Dilansir dari Detik, Bambang mengaku telah mengawali usahanya sebagai seorang pembudidaya jangkrik sejak tahun 2010. Pada saat itu, ia memulai bisnis dengan 2,5 kilogram jangkrik yang mana ditaruh ke dalam 50 kandang kecil. Popularitas jangkrik masih sangat kecil kala itu sehingga Bambang harus memutar otak untuk memasarkan jangkrik ke pasar yang lebih luas.

Lebih lanjut, Bambang mengaku gagal total pada tahun pertama budidaya jangkrik. Dari total 50 kandang yang ia miliki, tidak ada satupun yang terjual sehingga ia memilih untuk menjual ‘seadanya’. Hasil tersebut dijadikan sebagai modal baru untuk menekuni usahanya dengan metode yang berbeda. Bambang memilih untuk berkolaborasi dengan para pembudidaya yang lebih berpengalaman.

Singkatnya, Bambang menawarkan kerjasama dengan para pembudidaya untuk memasarkan jangkrik mereka ke pasar yang lebih luas. Jadi, para pelanggan para pembudidaya tidak hanya berasal dari kota Cirebon akan tetapi menjalar ke kota-kota lainnya di Jawa Barat atau bahkan mungkin ke seluruh wilayah di Indonesia.

Faktor Relasi

Relasi

Relasi

Jika Anda bertanya kepada beberapa pengusaha, mereka akan mengatakan beberapa jawaban yang berbeda mengenai faktor kesuksesan berbisnis. Namun, tidak semua pelaku usaha memiliki relasi yang kuat. Padahal dengan adanya relasi, ekspansi bisnis bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Hal itulah yang ditawarkan oleh Bambang kepada para pembudidaya jangkrik untuk memajukan bisnisnya.

Sebagai seorang lulusan ITB dan juga pernah menjadi pengusaha catering, Bambang jelas memiliki relasi yang kuat di Bandung. Hal itu membuatnya dengan mudah menemukan banyak relasi baru untuk mengembangkan pasar jangkrik para pembudidaya di desanya. Hasilnya memang tidak cepat akan tetapi pria berusia 31 tahun tersebut kini berhasil meraih omset mencapai ratusan juta perbulannya.

Di dua tahun pertama memasarkan jangkrik ke para relasinya di Bandung, hanya sekitar 1-2 kuintal saja perminggu yang berhasil dijual. Akan tetapi, dengan konsistensi dan tekad keras untuk memperjuangkan nasib para pembudidaya jangkrik di daerahnya, Bambang pun kini sukses meningkatkan taraf hidup dirinya dan juga para pembudidaya jangkrik yang ia ajak bergabung untuk bekerja sama.

Peningkatan Drastis

Pada tahun 2012, keberuntungannya sebagai seorang pebisnis berubah. 1-2 kuintal jangkrik berhasil terjual setiap harinya dan permintaan pun semakin banyak. Bukan hanya dari Bandung, tetapi juga daerah penyangga seperti Kuningan, Cirebon dll. Hal tersebut membuat semakin banyak pembudidaya jangkrik bergabung dari mulanya 10 orang saat ini mencapai 100 orang dan kemungkinan terus bertambah.

Setiap satu kilogram jangkrik dihargai Rp. 40 ribu sehingga total jika berhasil dua kuintal perhari, omset penjualan dari jangkrik bisa mencapai Rp. 8 juta. Pencapaian yang cukup besar walaupun hanya berjualan hewan yang kerap dijadikan makanan untuk ternak hewan tersebut. Setiap bulan, Jakarta menjadi pembeli terbanyak dengan total mencapai 5 ton perbulannya.

Apa yang Dijual dari Jangkrik?

Budidaya Jangkrik

Budidaya Jangkrik

Belum banyak yang menyadari jika hewan jangkrik memiliki prospek jangka panjang yang bagus sebagai pilihan utama untuk berbisnis. Hewan jangkrik mirip dengan buah kelapa yang setiap bagiannya bisa dijual. Saat ini, harga pasaran hewan jangkrik bisa mencapai Rp. 40-50 ribu perkilogramnya. Bahkan, harga telur jangkrik lebih mahal mencapai Rp. 300 ribu perkilogram.

Walaupun jangkrik biasanya dijual sebagai panganan untuk hewan peliharaan, Bambang pun membuat inovasi tersendiri. Ia mengubah hewan tersebut menjadi kripik yang bisa disantap oleh manusia sebagai panganan sehari-hari. Kadar protein yang tinggi membuatnya menyadari jika jangkrik bisa menjadi solusi pengganti telur ataupun makanan lainnya yang biasa dijual pasaran.

Inovasi keripik jangkrik dijual secara online sehingga pasar luar negeri bisa didapatkan oleh mudah oleh Bambang. Selanjutnya, ia mengaku masih akan belum berhenti untuk menciptakan peluang bisnis baru. Tidak hanya untuk kesejahteraan dirinya tetapi juga para masyarakat di kampungnya, terutama desa Bakung, Cirebon, Jawa Barat.

Cari tahu kisah pengusaha sukses lebih banyak lagi di dalam blog Paper.id dengan cara klik disini.