Membuat kartu kredit - unsplash.com

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Jika menilik dari perkembangan jaman saat ini, Indonesia memang patut berpedoman terhadap Negeri Tirai Bambu tersebut, terutama dalam mengurangi transaksi non tunai. Di Cina, hampir seluruh sudut ekonomi sudah menerapkan pembayaran cashless atau non tunai untuk mengurangi penggunaan uang kartal.

Uang kartal adalah alat pembayaran yang sah berupa kertas maupun logam yang biasanya dikeluarkan oleh otoritas pemerintahan. Dalam kasus di tanah air, Bank Indonesia menjadi satu-satunya tempat yang dapat mencetak uang jenis ini.

Kembali ke Cina, gerakan pembayaran non tunai memang sudah sangat membanggakan. Tercatat, hampir seluruh bidang telah menggunakan cara pembayaran ini, mulai dari warung makan, pembayaran listrik bahkan hingga toko kelontong yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Di Tiongkok sendiri, ada dua raksasa perusahaan pembayaran non tunai yang cukup berkuasa, yakni Ali Pay dan We Chat Pay.

Kedua perusahaan tersebut mempunyai tujuan yang sama, yakni mengurangi pembayaran dengan uang giral. Saat ini, Ali Pay bisa dibilang berkuasa lantaran menguasai sekitar 54 % pengguna sedangkan We Chat Pay baru 40%. Sisanya, dibagi ke beberapa perusahaan penyedia layanan cashless lainnya yang mengincar pangsa pasar yang sama.

Di Tanah Air, Bank Indonesia memang telah menggalakan program pembayaran non tunai, yakni membuat kartu kredit dan debit. Hal tersebut tengah diupayakan dengan cara terus menekan pembatasan transaksi dengan menggunakan uang kartal. Erwin Rijanto ,Deputi Gubernur Bank Indonesia, sendiri menyampaikan jika gerakan ini mampu menekan angka pencucian uang ilegal atau korupsi yang biasa dilakukan oleh pejabat yang menyeleweng.

Membuat Kartu Kredit

Pembuatan Kartu Kredit

Pembuatan Kartu Kredit

Salah satu cara untuk menekan penggunaan uang kartal adalah dengan membuat kartu kredit ataupun debit. Kedua jenis tersebut biasanya dikategorikan sebagai uang giral atau alat pembayaran yang sah bukan berupa uang akan tetapi surat-surat berharga. Selain kedua kartu di atas, wesel, cek dan giro juga dapat dimasukkan ke dalam jenis-jenis uang giral. Sudah mengerti perbedaaan dari uang kartal dan giral, bukan?

Dari beberapa jenis uang kartal di atas, membuat kartu kredit dan debit bisa dibilang menjadi pilihan paling aman. Bagaimana tidak, keduanya memang sudah sangat familiar di telinga masyarakat. Namun, kadang-kadang banyak yang menyamakan fungsi dari kartu kredit dan debit. Padahal, keduanya memiliki peranan yang berbeda. Secara singkat, penggunaan debit hanya bisa dilakukan apabila ada uang tunai di dalamnya. Lantas, bagaimana dengan kartu kredit?

Kartu kredit merupakan sebuah alat pembayaran sah berbentuk kartu plastik yang bisa digunakan untuk belanja apapun. Seperti namanya, kartu kredit dibayar secara kredit (hutang) yang mana biasanya dibayar pada akhir periode. Membuat kartu kredit juga tidak seenaknya karena ada batasan-batasan yang harus diketahui, salah satunya adalah limit penggunaan uang tergantung dari gaji yang Anda dapatkan perbulannya.

Beberapa bank memang menerapkan aturan ketat terhadap para nasabahnya yang ingin membuka kartu kredit, salah satunya Citibank. Bank asal Amerika Serikat itu hanya memperbolehkan untuk membuat kartu kredit apabila nasabahnya telah berusia 21 tahun dan mempunyai pendapatan sekitar 60 juta rupiah/ tahunnya. Dengan kata lain, Citibank hanya memperbolehkan Anda membuka kartu kredit apabila berpenghasilan minimal 5 juta/ bulannya.

Jika Citibank memberikan peraturan yang cukup ketat, lain halnya dengan BCA. Bank tersebut lebih sedikit memudahkan para nasabahnya. Sebab, jika Anda ingin membuka kartu kredit di sana, Anda hanya harus melampirkan bukti penghasilan tiap bulannya yang mengatakan memiliki pendapatan minimal 3 juta rupiah/ bulannya.

Inkonsistensi Pertumbuhan Kartu Kredit

Kartu Kredit

Kartu Kredit

Terhitung sejak tahun 2009- 2017, pertumbuhan kartu kredit di Indonesia bisa dibilang cukup mengagumkan. Menurut data yang diambil dari Bank Indonesia, ada peningkatan yang signifikan dalam hal transaksi kartu kredit, yakni dari sekitar 9,7 triliun rupiah mencapai 25, 7 triliun rupiah. Dengan kata lain, terlihat ada peningkatan mencapai hampir 3 kali lipat. Menurut prediksi para ahli, konsumerisme masyarakat Indonesia disinyalir akan terus berkembang.

Sayangnya, prediksi dari ahli sangat berbanding terbalik dengan hasil di lapangan. Tercatat dari akhir tahun 2017 hingga awal bulan Maret 2018, nilai transaksi dari kartu kredit malah berkurang sekitar 2,4% dari semula 25,7 triliun hingga hanya 21, 6 triliun rupiah. Ada beberapa faktor yang ditenggarai menjadi biang masalah penurunan ini, salah satunya adalah pendaftaran identitas pribadi agar dapat dilacak oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Pajak penghasilan biasanya dihitung melalui pendapatan yang didapatkan seorang dari pekerjaan yang ia lakukan. Namun, metode tersebut dianggap tidak terlalu efektif sebab saat ini ada banyak profesi yang sifatnya tidak mengikat, seperti entertainer, influencer, selebgram hingga pengusaha. Mereka memang mempunyai NPWP akan tetapi penghasilan perbulannya tidak tetap sehingga pajak yang dibayarkan seharusnya bisa lebih tinggi dan bagus untuk pemasukkan kas negara.

Dengan identitas dari kartu kredit yang dipakai oleh mereka, Dirjen Pajak dapat memeriksa setiap pemasukkan dan pengeluaran sehingga pajak yang mereka bayarkan akan lebih akurat. Hal inilah yang sebenarnya ditakutkan oleh para pemilik kartu kredit. Dari pada mereka harus membayarkan pajak yang lebih besar, lebih baik untuk menutup akun kartu kredit mereka dan beralih ke kartu debit atau uang giral lainnya.

Generasi Millennial, Target Pasar Paling Potensial

Millennial menggunakan kartu kredit

Millennial menggunakan kartu kredit

Kemudahan transaksi menggunakan cashless ternyata tidak hanya dirasakan oleh para pekerja. Sebab, banyak bank yang mulai mengincar generasi millennial sebagai target pasar mereka saat ini. Buktinya, ada beberapa lembaga penyimpanan uang yang mulai meluncurkan kartu kredit kekinian. Biasanya, mereka akan memberikan banyak promo, mulai dari cashback, diskon hingga buy 1 get 1. Apakah ‘perlombaan’ tersebut berhasil? bisa dibilang iya.

Berdasarkan sebuah riset yang dilansir dari Marketeers, sekitar 59% generasi millennial mengaku sangat membutuhkan transaksi non tunai. Dari jumlah total persentase tersebut, 17% diantaranya bahkan telah memiliki kartu kredit dan menggunakannya sebagai kebutuhan sehari-hari. Ketika ditanya, mereka menjawab jika potongan harga memang menjadi faktor pemicunya selain keinginan membayar tanpa ribet membawa uang tunai.

Penggunaan kartu kredit di kalangan millenial memang menjadi fenomena tersendiri. Para ahli berpikir jika kebijakan yang diberikan tersebut sangat salah kaprah sebab dapat menimbulkan keborosan tersendiri. Terlebih lagi, mereka memang belum mampu mengontrol keuangan. Namun, pendapat tersebut lagi-lagi berbanding terbalik dengan fakta di lapangan yang didapatkan oleh marketeers.

Menurut riset yang mereka lakukan, sekitar 55% generasi millenial mengaku jika kartu kredit malah membuat mereka dapat belajar bagaimana cara mengatur atau mengelola keuangan dengan maksimal. Bahkan, 84% diantaranya malah menambahkan jika mereka tidak pernah menggunakan kartu kredit mencapai batas atau limit yang biasa ditetapkan oleh kartu kredit itu sendiri.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan jika generasi Millennial saat ini memang membutuhkan kartu kredit sebagai media pembayaran mereka. Selain mendapatkan promo yang menggiurkan, membuat kartu kredit juga dapat mengajarkan mereka cara melakukan pengelolaan uang dengan maksimal. Apakah Anda mulai tertarik membuatkan kartu kredit untuk anak Anda?

Jadi, Membuat Kartu Kredit Bikin Untung Apa Buntung?

Belanja pakai kartu kredit

Belanja pakai kartu kredit

Beragam pernyataan beredar di masyarakat mengenai keuntungan penggunaan kartu kredit. Banyak dari mereka malah menganalogikan kartu kredit sama seperti kartu hutang. Sebab, Anda baru akan membayar tagihan di akhir periode. Lantas, apa benar jika kartu kredit sebegitu seramnya sehingga Anda selalu menutup telepon secara mendadak ketika ada panggilan masuk dari telemarketing bank?

Sebelum Anda memutuskan untuk membuat kartu kredit, ada baiknya Anda bertanya di dalam hati dulu mengenai beberapa hal, seperti pengelolaan keuangan, keberhasilan dalam mencegah membeli barang-barang mahal dan mampu menghemat pengeluaran tanpa harus berbelanja hingga mencapai batas limit. Jika Anda telah bisa memahami hal tersebut, Anda boleh menggunakan kartu kredit.

Tidak ada salahnya memakai kartu kredit sebab banyak sekali bank yang kini mulai menawarkan beragam promo-promo yang menggiurkan. Lebih dari itu, saat ini, banyak juga para pekerja kantoran yang mulai beralih dengan menggunakan kartu kredit. Namun, biasanya, mereka hanya menggunakan itu untuk membayar cicilan seperti rumah, kendaraan pribadi ataupun membayar alat transportasi ke tempat kerja.

Kenapa mereka membuat kartu kredit hanya untuk kebutuhan tersebut? sebab, hampir semua bank pasti akan memberikan diskon atau potongan harga yang cukup besar. Jadi, apakah Anda mulai berpikiran untuk membuat kartu kredit saat ini?

(Visited 3 times, 1 visits today)