Forbes baru saja mengeluarkan 50 daftar orang terkaya di Indonesia. Dari daftar tersebut, Bambang bersaudara masih menduduki puncak dengan kekayaan mencapai 35 miliar dollar Amerika Serikat. Dengan pencapaian ini, Bambang bersaudara berhasil mempertahankan tradisi selama 10 tahun berturut-turut sebagai orang terkaya di Indonesia. Usut punya usut, 70% dari kekayaan mereka berasal dari kepemilikan BCA sebagai salah satu bank terkemuka di tanah air.

Dengan harta yang cukup melimpah, kehidupan keluarga orang terkaya di Indonesia tersebut pastinya menjadi pusat perhatian. Ada satu peristiwa unik yang terjadi kepada Bambang. Pada pertengahan 2018 ini, ia mengikuti Asian Games dalam perlombaan Bridge. Bambang mampu meraih medali perunggu dan mendapatkan bonus Rp. 150 juta. Alih-alih menerimanya, ia malah mendonasikan uang tersebut untuk perkembangan para atlet bridge di masa depan.

Memiliki harta berlimpah, akses kemewahan dan koneksi dengan kalangan internal, membuat para konglomerat di Indonesia menjalani hidup yang relatif ‘lebih mudah’ dibandingkan kalangan masyarakat biasa. Lantas, bagaimana rasanya menjadi salah satu bagian dari keluarga orang terkaya di Indonesia? ini dia beberapa cerita yang diambil dari Quora berdasarkan pengalaman nyata.

Menjadi Keluarga Orang Terkaya?

Dengan kekayaan mencapai 500 juta dollar Amerika Serikat, ada seseorang yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan jika keluarganya termasuk ke dalam orang terkaya di Indonesia. Lebih lanjut, si anonymous ini menambahkan jika kehidupannya menjadi lebih mudah karena ia bisa mendapatkan segalanya. Dengan ‘kekuatan’ uang, kebahagiaan memang terlihat sangat mudah ditemukan bahkan untuk mencari seorang teman.

Ketika ia ingin melihat tulang dinosaurus asli, keluarganya mengajak jalan-jalan ke Amerika Serikat saat itu juga. Pun ketika ia ingin bertemu langsung dengan Singa, kedua orang tuanya membawanya ke Afrika sebagai salah satu savanna tersebar di dunia. Setiap hari libur atau sabtu dan minggu, Hongkong dan Sydney menjadi destinasi yang paling sering dikunjungi. Hal itu pun tentunya sangat kontras dengan kehidupan mayoritas keluarga di Indonesia yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan setiap hari.

Di usia 14 tahun, ia telah mengendarai Ferrari Berlineta dan setahun sesudahnya, ia menabrakan mobil orang tuanya ke garasi yang merupakan Mercedes Benz S500. Belum cukup sampai disitu, ia juga mengakhiri kalimat dengan telah berkelana ke 40 negara berbeda sebelum dirinya masuk ke bangku Sekolah Menengah Atas.

Tak Semua Bergelimangan Harta

Seorang pengguna Quora lainnya yang bernama Artere Laksamana menjelaskan beberapa hal yang ia ketahui tentang menjadi keluarga dari orang terkaya di Indonesia. Ia bukanlah salah satu keluarga tapi ia mengaku pernah berteman dengan anak-anak dari Bambang Hartono yang mana kini merupakan orang terkaya di Indonesia. Ketika masih tinggal di San Diego, Artere mengatakan jika kedua anak Bambang hidup seperti warga biasa.

Pengguna bernama Artere menyebutkan jika ia berteman baik dengan kedua anak Bambang Hartono ketika masih Sekolah Dasar. Bahkan, ia kerap melihat bos BCA tersebut mengenakan celana pendek di rumahnya sendiri sembari menonton acara tinju di televisi. Tidak ada kesan kemewahan yang secara sengaja ‘dilebih-lebihkan’ seperti pada cerita sebelumnya. Lebih lanjut, ia menambahkan jika kala itu, Keluarga Hartono tidak memiliki Asisten Rumah Tangga sama sekali.

Belajar ‘Miskin’ dari Jose Mujica

Jose Mujica

Jose Mujica

Memiliki harta yang melimpah bukanlah alasan untuk melakukan pemborosan. Coba belajar dari Jose Mujica yang merupakan mantan presiden termiskin asal Uruguay. Bagaimana tidak, pria berusia 83 tahun itu hanya mengambil 10% dari total gajinya sedangkan 90% sisa ia sumbangkan kepada rakyat yang membutuhkan. Lebih lanjut, Mujica juga tidak tinggal di Istana Kepresidenan melainkan sebuah rumah kecil di kota Montevideo.

Sepanjang berkuasa sebagai Presiden selama 5 tahun, Mujica hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya dan dua orang penjaga kepresidenan. Dengan hidup yang jauh dari kata mewah, Mujica sempat dicalonkan kembali sebagai pemimpin di Uruguay. Sayangnya, undang-undang konstitusional negara tersebut hanya memperbolehkan seseorang menjabat dalam satu periode saja.

Ketika masih muda, Jose Mujica terlibat dalam satu kelompok yang mana ingin melakukan revolusi, kurang lebih mirip seperti apa yang terjadi di Kuba. 6 kali tertembak dan menghabiskan 14 tahun di penjara, Mujica banyak belajar mengenai kehidupan ketika berada di balik jeruji besi. Mentalnya dalam mengetahui keadaan masyarakat Uruguay terlatih sehingga ia memahami apa yang dirasakan sebenarnya.

Jeratan kemiskinan, pengangguran yang merajalela hingga isu narkoba menjadi beberapa hal yang ia kerap kali alami di penjara. Situasi itu pun membuat dirinya memilih untuk mendonasikan sebagian besar gajinya ketika menjadi presiden. Dalam sebuah wawancara, Jose pernah mengatakan.

“Saya dipanggil sebagai Presiden Termiskin di dunia. Tapi, kenyataanya saya tidak pernah merasa seperti itu. Miskin adalah mereka yang tetap mencoba untuk mengikuti gaya kemewahan dan selalu menginginkan sesuatu yang lebih dari yang ia dapatkan,” kata Jose Mujica.

Cenderung Menjadi Ajang ‘Show Off’

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Menaiki yacht, membeli barang branded hingga jalan-jalan ke luar negeri, apa yang dilakukan keluarga orang terkaya di Indonesia bukanlah menjadi ajang show off apabila tidak disebarkan melalui media sosial. Lantas, apakah jika membagikan kehidupan pribadi melalui media sosial menjadi ajang pamer? jika menurut psikologi, hal tersebut bisa dikatakan iya.

Kecenderungan seseorang untuk menjadi dikenal dan diperhatikan merupakan salah satu alasan mengapa mereka mengabadikan momen melalui sosial media. Menarik perhatian melalui sosial media juga menjadi alasan untuk ‘menutup-nutupi’ masalah besar dalam kehidupan sebenarnya, seperti contohnya adalah masalah keluarga, pekerjaan, pendidikan atau mungkin masalah kesehatannya.