fbpx Paper.id - Invoicing #1 di Indonesia

Kampanye KFC: Kontroversi di dalam Negeri Tapi Lumrah di Luar Negeri

Fery Andriawan | January 22, 2019
Kampanye KFC

Kampanye KFC

Rate this post

Kampanye KFC- “Kebiasaan yang baik itu harus dimulai dari yang paling kecil. Kita mulai sekarang, kita mulai dari diri sendiri! Seperti yang kalian ketahui, kalo kebersihan itu sebagian dari iman. Ayo, mulai bersihkan nampan makanmu sehabis makan! Kalo enggak sekarang, kapan lagi?” caption dari unggahan foto Facebook KFC Indonesia.

Unggahan tersebut dibuat pada Minggu, 13 Januari 2019. Hingga saat ini, foto tersebut sudah mendapatkan 1,800 likes, lebih dari 800 komentar serta 2200+ share. Yang jelas, kampanye KFC tersebut menimbulkan kontroversi tersendiri bagi para warganet. Sebab, mereka menganggap jika gerakan yang digagas salah satu produk fastfood tersebut adalah yang hal yang tidak perlu dilakukan.

Sejatinya, unggahan tersebut disebarkan melalui beberapa media sosial bukan hanya Instagram saja tetapi juga Facebook. Kampanye itu dibuat agar para konsumen mulai melakukan lagi kebiasaan yang telah dilakukan sedari kecil, yakni merapikan makanan sendiri dan bertujuan untuk sedikit membantu para pegawai di restoran fastfood tersebut. Akan tetapi, warganet menangkap dengan persepsi berbeda sehingga memicu kontroversi.

Campaign yang dibuat oleh KFC tersebut dikenal dengan nama #BudayaBeberes. Pada tahun 2018 lalu, kampanye yang cukup mirip juga sempat beredar, yakni #TumpukdiTengah. Dibandingkan milik restoran fast food tersebut, #TumpukdiTengah lebih diterima masyarakat. Jika Anda lupa dengan gerakan tersebut, silahkan lihat videonya di bawah ini. Kredit diberikan kepada Ceriteranya.

Kampanye KFC Tuai Kontroversi

Kampanye KFC

Kampanye KFC

#BudayaBeberes dibuat oleh KFC untuk menyadarkan masyarakat agar membereskan makanannya sendiri. Tujuannya adalah agar membantu para pekerja di sana supaya lebih cepat membersihkan meja. Kampanye yang bertujuan baik tersebut ternyata malah mendapatkan banyak respon negatif dari Warganet. Sebab, mereka mengira jika KFC, secara tidak langsung, meminta pelanggan membersihkan makanan sendiri padahal telah membayar biaya pajak dll.

“Cie, yang mau ngurangin karyawan pake segala ngajakin pelanggan untuk beberes sendiri,” sahut seorang Warganet

“Warteg aja yang 10 ribu komplit gak perlu ngembaliin piring ke ibunya, masa di KFC harus beres-beres,” kata Warganet lainnya.

Banyak Warganet yang salah persepsi mengenai ajakan dari kampanye ini. Mereka merasa telah mengeluarkan uang lebih untuk makan di sana tapi kenapa masih harus ikut membantu membersihkan. Padahal, jelas-jelas, kampanye ini dilakukan untuk mulai membiasakan diri ‘memunguti’ makanan yang berserakan. Memang tidak lumrah di tanah air tetapi apa salahnya demi kebaikan diri sendiri dan orang lain?

#BudayaBeberes bukanlah kampanye pertama yang dibuat oleh KFC Indonesia. Sebab, ini merupakan lanjutan dari kampanye yang dibuat pada tahun 2018 lalu, yakni “No Straw Movement” atau gerakan mengurangi penggunaan sedotan berbahan plastik sebagai bagian dari aksi peduli keselamatan laut. Bedanya, gerakan tersebut tidak menimbulkan kontroversi berlebihan seperti yang terjadi pada saat ini.

Baca Juga: Melihat Strategi Iklan Tokopedia yang Berbeda dari Marketplace Lainnya

Lumrah di Luar Negeri

Makanan Berantakan

Makanan Berantakan

Jika di Indonesia membereskan makanan sendiri masih terasa asing, berbeda halnya dengan restoran yang berada di luar negeri. Pengunjung restoran yang berada di Amerika Serikat, Jepang dan Singapura sudah terbiasa dengan adab atau tata tertib membersihkan makanan dari mejanya sendiri. Lebih lanjut, budaya tersebut sudah menjadi kebiasaan sehingga hampir semua warganya melakukan hal tersebut.

Para pengunjung restoran mengerti jika sedikit usaha mereka setidaknya membantu para pegawai yang terbiasa membersihkan tempat tersebut. Sebab, setiap pegawai yang bekerja di restauran harus melayani banyak tamu apalagi ketika jam makan tiba. Tidak mungkin mereka bisa bergerak cepat untuk membersihkan semua tempat karena mereka juga manusia yang memiliki masalah lelah.

Lagi pula, sebelum kampanye KFC ini dibuat, restoran cepat saji tersebut sudah menaruh banyak tempat sampah di posisi strategis untuk memudahkan membuang sisa makanan. Sayangnya, banyak pengunjung yang masih belum menyadari hal tersebut dan memandang enteng pekerjaan dari pegawai KFC. Padahal sedikit dari usaha mereka dapat meringkan tugas dari para pegawai yang bekerja.

Kisah #BudayaBeberes Sendiri

#BudayaBeberes, Kampanye KFC

#BudayaBeberes, Kampanye KFC

Seseorang pengguna di Quora pernah membuat pertanyaan mengenai haruskah pengunjung membersihkan makanan mereka sendiri ketika makan di Mc Donalds. Begini respon yang ia dapatkan dari beberapa orang yang menjawabnya.

“Ya, tentu saja saya membereskannya sendiri. Apakah kamu melihat ada pegawai McDonalds yang berlalu lalang? tidak, karena memang tidak ada (di Amerika Serikat). Hargai orang lain jika kamu mau dihargai, itu sama hanya masalah etika sopan santun sesama manusia. Kamu tidak mau makan dengan saus yang berada dimana-mana dan soda yang berantakan? sama seperti orang makan setelahmu,” kata pengguna bernama Garrick Saito.

Intinya, aturan kebersihan memang telah diajarkan sejak kecil. Jadi, adab seperti ini seharusnya terus dilakukan. Tak hanya di restoran, sampah yang bertebaran di jalan juga seharusnya mulai dipungut dan dimasukkan ke dalam tong sampah. Memang, satu orang yang membuang sampah tidak akan terasa dampaknya. Akan tetapi, bagaimana jika ada 100 orang atau bahkan 1000 orang? inilah kenapa kesadaran sedari dini harus ditegakkan.

Baca Juga: Kenapa Upload Video Promosi Produk di Facebook Adalah Ide Buruk?

Bukan yang Pertama

Kampanye KFC bukanlah satu-satunya yang dianggap menuai kontroversi. Sebab, sabun kecantikan ‘Dove’ sempat mengalami hal serupa. Bukan hanya satu, dua kampanye mereka yang berbentuk iklan mendapatkan sambutan negatif lantaran dinilai rasis. Campaign tersebut terjadi pada tahun 2011 dan 2017 yang mengisyaratkan jika wanita berkulit putih lebih cantik dari pada berkulit hitam. Lihat videonya terlebih dahulu di bawah ini.

Iklan tersebut memperlihatkan jika ada seorang yang menggunakan baju berwarna coklat kemudian berubah menjadi putih. Sontak. hal tersebut seolah menggambarkan jika citra wanita cantik hanya pada orang berkulit putih saja. Kesalahan persepsi tersebut membuat pihak Dove langsung mencabut peredaran dari kampanye tersebut. Sayang, kecepatan era digital membuat iklan tersebut menyebar secara luas tanpa bisa dihentikan.

Namun, tidak selamanya kampanye pemasaran berakhir dengan tragis. Buktinya, ada beberapa kampanye yang sukses besar dan menyedot animo pengunjung, salah satunya adalah IKEA Place Augmented Reality App. Dengan menggunakan kecanggihan teknologi, salah satu perusahaan furniture asal Swedia tersebut bisa memudahkan para pelanggan untuk melihat tampilan rumahnya melalui aplikasi di smartphone.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *